Pertama di Dunia Penelitian Kesehatan Hiu Paus

8/16/2017

​​Hasil penelitian menyediakan informasi bagi penyusunan kebijakan pelestarian hiu paus yang terancam punah.

Jakarta, 16 Agustus 2017. Untuk pertama kalinya, para ilmuwan bersama pakar dari Amerika Serikat berhasil melaksanakan pemeriksaan kesehatan dari populasi hiu paus –yang sejak tahun 2016 termasuk dalam status "Terancam Punah" (Endangered) dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN Red List), di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Barat. Pada perjalanan ini Tim Peneliti memeriksa kesehatan dari 26 ekor hiu paus, serta memasang 7 buah penanda satelit (satellite tag), dan 4 buah penanda akustik (accoustic tag).​

Kemajuan penelitian ini memiliki implikasi yang signifikan untuk menyelidiki misteri seputar kesehatan hiu paus – termasuk potensi dampak pariwisata serta interaksi manusia lainnya terhadap kesehatan hiu paus. Rincian ini dapat memberikan informasi lebih dalam pengembangan kebijakan konservasi di masa akan datang untuk melindungi dan menjaga stabilitas populasi populasi hiu paus di Indonesia dan secara khusus di Taman Nasional Teluk Cendrawasih.

Penelitian yang berlangsung sejak 25 Juli hingga 5 Agustus ini, merupakan kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)/Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC), Universitas Papua (UNIPA), Conservation International (CI), dan Georgia Aquarium. Para pihak berkolaborasi bersama untuk menghasilkan temuan penelitian yang dapat menjadi referensi dalam penguatan kebijakan daerah dan nasional untuk konservasi hiu paus maupun pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan.

Ir. Andi Rusandi, S.Pi., M.Si Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL), KKP menyampaikan bahwa informasi lengkap terkait hiu paus perlu banyak diketahui oleh semua pihak yang ingin mengembangkan ekowisata hiu paus guna mendukung pelestarian dan pengelolaannya di Indonesia. "Pengembangan ekowisata hiu paus di Indonesia harus menekankan aspek konservasi. Untuk keperluan itu, KKP juga telah menerbitkan buku Pedoman Wisata Hiu paus yang dapat menjadi panduan." Ia menambahkan: "Hasil penelitian ini akan memperkaya informasi tentang spesies ini karena kini data status populasi dan migrasi hiu paus cukup terbatas, sehingga dukungan banyak pihak sangat kami apresiasi."

Sementara itu, Ben G. Saroi sebagai Kepala BBTNTC – pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih menyampaikan apresiasi atas inisiatif penelitian berkesinambungan dan komprehensif yang dilaksanakan untuk mendukung pelestarian hiu paus dan memberi referensi bagi pengelolaan pariwisata berkelanjutan. "Teluk Cenderawasih sebagai rumah bagi populasi hiu paus terbesar di Indonesia membutuhkan informasi menyeluruh atas spesies terancam punah ini. Karena itu, data dari hasil penelitian dan informasi komprehensif yang akan diperoleh terkait hiu paus akan melengkapi informasi/data sebelumnya hasil kerjasama BBTNTC, WWF dan UNIPA, sebagai referensi penguatan kebijakan konservasi serta kebijakan kelola pariwisata di Teluk Cenderawasih". Ia menambahkan, "Semua stakeholders yang terkait dalam pengelolaan Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) perlu berkontribusi dalam implementasi ekowisata berbasis masyarakat adat di TNTC dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat dan mengurangi bahkan menghilangkan resistensi masyarakat adat terhadap eksistensi kawasan TNTC."

Penelitian kesehatan yang membutuhkan sampel biologis hiu paus ini terbilang sulit –bahkan awalnya dinilai hampir mustahil untuk dilaksanakan, karena sampai sekarang para peneliti belum menemukan cara untuk mengkondisikan hiu paus dalam lingkungan terkontrol untuk selanjutnya dilakukan pengambilan sampel yang dibutuhkan dalam peninjauan kesehatan hiu paus.

Namun hal tersebut berubah pada tahun 2014 ketika tim BBTNTC, UNIPA, KKP, dan CI Indonesia menemukan bahwa hiu paus di Teluk Cenderawasih seringkali tertangkap secara tidak sengaja oleh jaring nelayan bagan saat mereka sedang menjaring Ikan Puri/Teri. Menariknya, hiu paus terlihat cukup tenang saat tertangkap jaring nelayan bagan dan seringkali dijumpai terdiam di dasar jaring; menunggu untuk dikeluarkan. Pada perjalanan kali ini, fenomena unik tersebut dimanfaatkan oleh tim CI Indonesia untuk memasangkan penanda satelit finmount (sejenis penanda satelit yang dipasangkan pada sirip punggung) sembari mengambil sampel yang diperlukan bagi penilaian kesehatan hiu paus.

"Situasi unik di Teluk Cendrawasih memberi para peneliti kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penilaian kesehatan ini dirancang untuk memberi informasi yang rinci terkait dampak ekowisata maupun penelitian yang selama ini dilakukan terhadap kesejahteraan hiu paus. Penilaian kesehatan hiu paus yang dilakukan terhadap hiu paus liar ini merupakan kali pertama di dunia, dan karena itu data yang didapatkan akan menjadi acuan seluruh peneliti di dunia. Informasi penelitian ini bisa menjadi acuan bagi Pemerintah Indonesia dalam pengelolaan ekowisata hiu paus secara berkelanjutan dengan cara yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir setempat tanpa memberi dampak negatif bagi kesejahteraan hiu paus, dan kami sangat senang dan mengapresiasi betapa BBTNC-KLHK dan KKP memulai memanfaatkan data ilmiah dalam membangun tata kelola spesies yang sangat sensitif ini demi kebelangsungannya " kata Ketut Putra, Vice President Conservation International Indonesia.

Dalam kurun waktu penelitian yang relatif singkat, para peneliti melakukan katalogisasi informasi dan pengujian sampel, serta mempersiapkan laboratorium pengujian di kapal penelitian, yang pada tahap berikutnya akan dilanjutkan di laboratorium UNIPA di Manokwari, Papua Barat. Selama ekspedisi berlanjut, tim telah memasangkan tujuh buah penanda satelit yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pergerakan hiu paus dan perilakunya selama dua tahun ke depan.

Dari pihak UNIPA, Dr.Selvi Tebay, Wakil Rektor Bidang Kerjasama yang juga seorang peneliti bidang perikanan menyampaikan bahwa penelitian aspek kesehatan hiu paus merupakan penelitian perdana yang dilakukan UNIPA bersama mitranya KKP, CI, BBTNC, dan Georgia Aquarium di Tahun 2017. Studi lain seperti pemasangan tag satelit dan pengembangan wisata hiu paus telah dilakukan oleh UNIPA dengan mitra kerjasamanya. "Penelitian kesehatan hiu paus akan memperkaya khazanah keilmuan dan pengembangan kepakaran di UNIPA serta memberi manfaat praktis dan nyata bagi upaya konservasi Hiu paus dan upaya pengelolaan pariwisata bahari berkelanjutan di tanah Papua sebagai aspek kebijakan bagi Pemerintah. Harapannya melalui penilaian kesehatan ini, UNIPA dapat mengembangkan kapasitas dan keahlian dalam bidang konservasi marine spesies termasuk pentingnya ilmu kesehatan Hiu paus untuk mendukung pengelolaan spesies tersebut di Indonesia.", ujarnya.

Sementara itu, Ir. Mudji Rahayu, M.Si Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dari UNIPA menambahkan bahwa saat ini UNIPA melalui FPIK telah menyiapkan sumberdaya manusia secara khusus untuk mendalami hiu paus, terutama melalui studi lanjut S2 dan S3. Beberapa dosen juga melakukan penelitian terkait ekologi dan genetik hiu paus. Untuk pengembangan jaringan yang lebih kuat, FPIK telah bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih membangun Whale Shark Center di Soa Nabire.

Sebagai salah satu mitra penelitian ini, Georgia Aquarium –organisasi non-profit asal Atlanta, Amerika Serikat, yang berfokus pada upaya edukasi dan penelitian yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati laut– menyampaikan bahwa data yang dikumpulkan memberikan gambaran yang sangat bernilai mengenai kehidupan dan aktivitas spesies yang hingga kini informasinya masih sangat sedikit diketahui. "Ketika informasi tentang hiu paus lebih banyak diperoleh, kami menjadi lebih mudah dalam mendidik masyarakat dan mendukung perlindungan spesies ini," tutup Alistair Dove, Ph.D., Vice President Penelitian dan Konservasi di Georgia Aquarium.

Untuk mengetahui lebih lanjut apa yang para peneliti temukan dari penilaian kesehatan ini ikuti informasi lebih lanjut di Facebook, Twitter, dan Instagram Conservation International Indonesia dan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Ikuti pula jejak hiu paus yang sudah ditandai secara real-time lewat @wheres_domino.


###

 

TENTANG HIU PAUS

Ikan Hiu paus adalah ikan terbesar di lautan, dan karena ukuran dan kerangka yang sangat besar mereka sangat sulit untuk ditimbang secara akurat. Betina lebih besar daripada jantan seperti pada kebanyakan spesies ikan hiu lainnya. Panjang rata-rata antara 5 dan 9 meter. Lebar mulut mereka bisa mencapai diameter 1,2 meter namun tenggorokannya hanya sekitar seperempatnya. Makanan utamanya adalah zooplankton dan ikan-ikan kecil. Hiu paus saat ini terdaftar sebagai "Terancam Punah" (Endangered) pada International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List  dan populasinya telah menurun secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir karena penangkapan berlebih di lautan Asia.

 

TENTANG BALAI BESAR TAMAN NASIONAL TELUK CENDERAWASIH

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih 9BBTNTC) merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE), Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Bertindak sebagai otoritas pengelola Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC), sebuah kawasan pelestarian alam yang mempunyai funsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan pemanfaatn secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistem. Kawasan ditetapkan sebagai Taman Nasional Teluk Cendrawasih berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:8009/Kpts-II/2002 tanggal 29 Agustus 2002 dengan luas 1.453.500 ha, yang terdiri dari luas daratan pesisir pantai (pulau induk) sebesar 12.400 ha (0,9%) dan luas daratan pulau sebesar 55.800 ha, dan luas lautan/perairan sebesar 1.305.300 ha (89,9). Bekerja sama dengan berbagai pihak BBTNTC memiliki visi "Menjadi Institusi Terdepan dan Terpercaya dalam Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem Taman Nasional Teluk Cendrawasih'. Untuk mengetahui informasi tentang TNTC silahkan kunjungi kami, Kantor BBTNTC Alamat: Jalan Drs. Essau Sesa, Sowi Gunung, Manokwari, Papua Barat. Email: cendrawasihnationalpark@gmail.com. Facebook: BBTN Teluk Cendrawasih. Twitter: BalaiBesarTNTC. Instagram: tn.teluk_cendrawasih. Website: telukcendrawasih-nationalpark.org

 

TENTANG UNIVERSITAS PAPUA

Universitas Papua adalah sebuah perguruan tinggi negeri yang berada di Kota Manokwari, Papua Barat. Universitas Papua didirikan pada tanggal 3 November 2000 peresmiannya dilakukan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas nama Menteri Pendidikan Nasional pada tanggal 28 Juli 2011. Universitas Papua disingkat UNIPA beralamat di Jalan Gunung Salju, Amban, Manokwari Barat di Kabupaten Manokwari Papua Barat. UNIPA memiliki 13 fakultas dan 1 Program Pasca Sarjana yang berada pada 3 kampus utama UNIPA. Salah satu Fakultas di UNIPA yang terlibat dalam survey Penilaian Kesehatan Hiu paus yaitu: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. 

 

TENTANG CONSERVATION INTERNATIONAL

Conservation International (CI) menggunakan perpaduan ilmu pengetahuan, kebijakan dan kemitraan inovatif untuk melindungi orang-orang yang bergantung pada makanan, air tawar, dan mata pencaharian. Didirikan pada tahun 1987, CI bekerja di lebih dari 30 negara di enam benua untuk memastikan sebuah planet yang sehat dan sejahtera untuk kita semua. Conservation International telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1991, bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung upaya konservasi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Pelajari lebih lanjut mengenai CI dan kampanye "Alam Berbicara", dan ikuti kegiatan-kegiatan CI Indonesia melalui Facebook, YouTube, dan Instagram.

 

TENTANG GEORGIA AQUARIUM

Georgia Aquarium merupakan organisasi nonprofit 501(c)(3) yang berlokasi di Atlanta,mendapat gelar Humane Certified oleh American Humane dan diakreditasi oleh Alliance of Marine Mammal Parks and Aquariums dan Association of Zoos and Aquariums.  Georgia Aquarium berkomitmen untuk bekerja keras bagi semua kehidupan laut melalui pendidikan, pelestarian, perawatan hewan , dan penelitian di seluruh dunia. Georgia Aquarium melanjutkan misinya setiap hari untuk menginspirasi dan  mendidik jutaan tamu tentang keanekaragaman hayati perairan di seluruh dunia melalui ratusan pameran dan puluhan ribu hewan di tujuh galeri utamanya. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi georgiaaquarium.org.


​​​​​Images Slideshow Carousel (half page)

Carousel Configuration​

EditCarousel Title:
Edit Carousel Orientation:leftLeft
     
    EditAnchor tag for sticky nav (optional):[Optional]
    EditImage RenditionID Small:15[Optional]
    EditImage RenditionID Webkit:17[Optional]
    EditImage RenditionID Medium:18[Optional]
    EditImage RenditionID Large:19[Optional]

    Carousel Images

    Image

    EditImage:/global/indonesia/media/siaranpers/PublishingImages/20170728-122224_MG5B6745.jpg
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:
    EditPhoto Credit:© Conservation International/Mark V. Erdmann
    Move UpMove Down​​

    Image

    EditImage:/global/indonesia/media/siaranpers/PublishingImages/20170801-152826_MG5B7861.jpg
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:
    EditPhoto Credit:© Conservation International/Mark V. Erdmann
    Remove this imageMove UpMove Down

    Image

    EditImage:/global/indonesia/media/siaranpers/PublishingImages/20170803-144242_MG5B8389.jpg
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:
    EditPhoto Credit:© Conservation International/Mark V. Erdmann
    Remove this imageMove UpMove Down
    Add another image...
    Remove this module
    ​​​​

    Related Content

    Other Media