​Tim senior​

© Conservation International

Ketut Sarjana Putra, Vice President CI Indonesia

Ketut Putra telah berkontribusi di bidang konservasi alam selama lebih dari 25 tahun. Ia banyak terlibat dalam penyusunan beragam kebijakan nasional terkait konservasi alam di Indonesia, termasuk pengembangan jejaring kawasan konservasi laut, perlindungan spesies, pengembangan program lanskap berkelanjutan, strategi pembiayaan konservasi alam dan berbagai inisiatif dengan para pemangku kepentingan kunci di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Sebagai praktisi budidaya perairan, Ketut sangat terobesisi membangun program budidaya perikanan ramah lingkungan yang bisa menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan menurunnya stok perikanan tangkap.

Sebagai Vice President CI Indonesia, Ketut memberi arahan strategis bagi semua program CI Indonesia, serta memberi saran terkait konservasi dan pembangunan berkelanjutan kepada pengambil kebijakan di Indonesia berdasarkan bukti ilmiah, demonstrasi lapangan, inovasi, dan pembelajaran yang diambil dari program di lapangan.

Ketut bergabung dengan CI Indonesia sejak tahun 2004, dan telah membangun sejumlah inisiatif konservasi kelautan termasuk program Bentang Laut Kepala Burung di Papua Barat seluas 3,6 juta hektar jejaring kawasan konservasi laut produktif untuk perikanan dan pariwisata yang kini menjadi model global konservasi kelautan berbasis masyarakat, serta inisiatif pendanaan berkelanjutan melalui Blue Abadi Fund (untuk Papua Barat) dan sedang memulai Bali Conservation Fund. Disamping sebagai penyelam profesional, Ketut juga menikmati naik gunung.

© Meizani Irmadhiany

Meizani Irmadhiany, Deputy Senior Vice President, Asia Pacific Field Division

Meizani Irmadhiany memimpin program Indonesia dan bekerja di seluruh Kawasan Asia-Pasifik, menerapkan strategi dan mengembangkan kemitraan dengan sektor swasta dan publik untuk mencapai hasil terbaik bagi manusia dan alam. Ia memiliki lebih dari 16 tahun pengalaman bekerja di bidang pembangunan dan bisnis. Pengalamannya mencakup sektor swasta dan masyarakat sipil dan mencakup pengalaman luas dalam penggunaan lahan berkelanjutan, pertanian, energi terbarukan, tenaga kerja, dan bantuan bencana.

Lima tahun terakhir, dia telah bekerja di sektor swasta dalam bidang karet yang berkelanjutan dan berperan penting dalam membangun bisnis karet alam yang bertujuan untuk mengembangkan produksi berkelanjutan dalam lanskap yang sangat kompleks dan seringkali sulit. Ia memelopori kegiatan strategis mulai dari menjabat sebagai Dewan Direksi hingga mengembangkan dan meningkatkan instrumen keuangan perusahaan tingkat tinggi, termasuk penerbitan Obligasi Berkelanjutan perusahaan yang pertama di Asia pada tahun 2018 dan mengembangkan hibah proyek penggalangan dana publik untuk mendukung beberapa program lingkungan dan sosial unggulan. Ia juga memiliki pengalaman memimpin berbagai pekerjaan sehari-hari, mulai dari menetapkan kebijakan hingga mengelola tim, mulai dari penjangkauan masyarakat, kegiatan konservasi hingga manajemen sumber daya manusia perusahaan dan tim hukum.

Meizani memulai karirnya di bidang hak asasi manusia dan kegiatan bantuan pasca bencana dan bekerja di sektor pembangunan baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia. Dia menjabat sebagai Dewan Pengurus Sekolah Green Montessori di Jakarta, Indonesia. Selain bahasa ibu Bahasa Indonesia dia fasih berbahasa Inggris dan dididik di Amerika Serikat dan Indonesia, mendapatkan B.A. dalam Studi Global dan Ilmu Politik dari University of Minnesota. Dia juga merupakan Fellow of the United in Diversity / MIT Sloan IDEAS pada tahun 2011-2012. Dia menikmati berbagai aktivitas luar ruangan - trekking, bersepeda, scuba diving - dan menghabiskan waktu menjelajahi alam bersama suami dan putra mereka.

© Conservation International

Victor Nikijuluw, Senior Adviser in Science, Policy and Program Development

Victor Nikijuluw berpengalaman di dunia konservasi perairan selama lebih dari 30 tahun sejak awal karirnya sebagai Kepala Bidang Perencanaan Program di Balai Penelitian Perikanan Laut, Departemen Pertanian. Victor berkarir di Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) sejak berdirinya pada tahun 1999 hingga 2013. Ia pernah menduduki sejumlah jabatan strategis antara lain sebagai Direktur Pemberdayaan Sosial Ekonomi Nelayan, Direktur Investasi dan Permodalan, Kepala Pusat Penelitian Perikanan Tangkap, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan di KKP, dan Sekretaris Eksekutif Coral Triangle Initiatives (CTI).

Selain bidang kelautan dan perikanan, penerima gelar Ph.D dari University of the Philippines at Los Banos (UPLB) ini juga aktif dalam pendidikan dan penelitian. Sejak tahun 1985 sampai saat ini, ia telah menerbitkan 12 buku tentang pengelolaan perikanan dan ratusan artikel ilmiah dan ilmiah populer. Sebelum bergabung dengan CI Indonesia pada Maret 2015, Victor menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi UKRIDA, Jakarta. Saat ini Victor masih aktif mengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai dosen tidak tetap dan membimbing mahasiswa program S2 dan S3.

© Conservation International

Iman Santoso, Senior Terrestrial Policy Advisor

Iman Santoso bergabung dengan CI Indonesia sejak tahun 2013, setelah sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pengalaman profesionalnya di bidang konservasi teresterial dan kehutanan telah dimulai sejak tahun 1983. Dalam 33 tahun karirnya di bidang kehutanan, Iman Santoso merupakan ahli dalam hal tata guna hutan, produksi hutan, tata kelola lahan, serta penelitian mengenai kehutanan.

Doktor lulusan IPB pada bidang Ekonomi Pertanian ini juga banyak berkontribusi dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan konservasi pada skala internasional. Ia merupakan anggota delegasi Indonesia untuk Kerjasama Perubahan Iklim Indonesia - Norwegia (2010), Chairman for Indonesian Delegation untuk Forest Law Enforcement, Governance, and Trade – Voluntary Partnership Agreements (FLEGT-VPA) Indonesia – European Union (2011 – 2012), serta Chairman untuk Indonesia – Korea Working Group untuk Kerjasama di Bidang Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (2011-2013). Saat ini ia juga menjabat sebagai Chairman Management Board of Forest Land Tenure Working Group.

Ares Abraham Uly, Operational Director

Ares Abraham Uly memiliki gelar sarjana Ekonomi, jurusan Akuntansi. Ia memiliki berbagai pengalaman bekerja di organisasi nirlaba Internasional seperti Oxfam, Save the Children, Care International, dan Burnet Institute, yang berbasis di berbagai lokasi di seluruh Indonesia termasuk Aceh untuk Program Pemulihan Tsunami, dan Bali untuk Program HIV / AIDS. Sebelum bergabung dengan CI, beliau bekerja selama 6 tahun di RTI International sebagai Regional Finance Manger, dengan penugasan ke berbagai negara termasuk Malaysia, Thailand, Kamboja, Nepal, Filipina, Kenya dan Tanzania. Ares bergabung dengan CI pada Agustus 2019, sebagai Direktur Operasi CI-Indonesia Country Program.

© Fitri Hasibuan

Fitri Hasibuan, Director Sundaland Program

Fitri Hasibuan memimpin program CI di Sumatera Utara dan Jawa Barat. Fitri bergabung dengan CI Indonesia pada tahun 2013 setelah membangun kariernya di beberapa LSM dan organisasi kemanusiaan yang berfokus pada proyek pertanian berkelanjutan, pengembangan masyarakat, dan perubahan iklim di seluruh Indonesia. Dia mendapatkan gelar master dalam pengelolaan lingkungan dari University of Queensland. Saat ini pekerjaannya fokus pada pembangunan pendekatan lanskap berkelanjutan yang mencakup peningkatan perlindungan hutan dan pengelolaan kawasan produktif sambil memulihkan kawasan penting yang terdegradasi.

© Meity Mongdong

Meity Mongdong, Director West Papua Program

Meity mengawasi program konservasi laut berskala besar yang berpusat pada jaringan 20 Kawasan Konservasi Laut yang mencakup lebih dari 4,6 juta hektare terumbu karang paling beragam di dunia serta pengembangan perhutanan sosial dan memimpin inisiatif Provinsi Konservasi Papua Barat; pembuatan kebijakan berbasis masyarakat untuk keberlanjutan sumber daya alam dan platform untuk semua upaya konservasi di daerah tersebut. Lahir di desa pesisir kecil di Taman Laut Nasional Bunaken di Sulawesi Utara, Meity memiliki pengetahuan langsung yang mendalam tentang perjuangan dan aspirasi masyarakat pesisir dan telah menghabiskan seluruh karirnya berfokus pada cara terbaik untuk terlibat. dan membangun kapasitas komunitas ini untuk mengelola ekosistem laut mereka secara berkelanjutan. Setelah lulus dari Universitas Sam Ratulangi dengan gelar di bidang ilmu kelautan, Meity bekerja selama hampir satu dekade dengan serangkaian proyek yang didanai USAID yang berfokus pada memastikan keterlibatan pemangku kepentingan dalam pengelolaan Taman Laut Nasional Bunaken. Pekerjaannya selama ini berkisar dari mengembangkan dan meluncurkan Dewan Pengelolaan Taman Nasional Bunaken, menerapkan sistem pungutan pengguna kawasan lindung terdesentralisasi pertama di Indonesia, dan mendirikan dua LSM lokal baru (Kelola dan Bintang Laut) yang masing-masing berfokus pada pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat dan menyampaikan kurikulum pendidikan konservasi laut yang disahkan oleh pemerintah untuk sekolah-sekolah lokal. Upaya Meity diakui secara internasional dengan pemberian Seacology Prize untuk konservasi penduduk pulau adat pada tahun 2002 dan kemudian Pew Fellowship dalam Konservasi Laut yang bergengsi pada tahun 2013, yang terakhir digunakan untuk meneliti dan mengembangkan dasar hukum bagi masyarakat adat Papua untuk mengeluarkan Peraturan tentang penggunaan sumber daya alam dan untuk menegakkan peraturan ini secara hukum. Sepanjang karirnya, pekerjaan Meity berfokus pada keterlibatan dan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan KKP, resolusi konflik di antara kelompok pemangku kepentingan laut, pengembangan kebijakan konservasi laut, pemantauan sumber daya air, dan pengembangan kapasitas staf kawasan perlindungan laut (MPA) lokal. Dia duduk sebagai anggota dewan tata kelola Blue Abadi Fund dan saat ini sangat fokus untuk membantu pemerintah Papua Barat mencapai visinya untuk benar-benar menerapkan program pertama di Indonesia. Provinsi Konservasi.

© Conservation International

Riza Boris Sobari, Director Human Resources

Riza telah berkecimpung sebagai praktisi sumber daya manusia dan manajemen umum selama 20 tahun. Riza telah bekerja di dunia Sumber Daya Manusia baik sektor profit dan non-profit di beberapa perusahaan multinasional dan organisasi internasional. Riza pernah bekerja di Toyota Motor Corporation, Tempo Intimedia Tbk., Tifa Foundation – Open Society Foundation, dan terakhir di International Committee of the Red Cross, tempatnya berkarir sebelum bergabung dengan CI Indonesia.

Sepanjang karirnya Riza terlibat dan bertanggung jawab untuk memimpin dan mengelola unit Sumber Daya Manusia, mulai dari merancang pendirian organisasi, menerapkan kebijakan dan manajemen strategi, mengembangkan bakat dan melakukan transformasi sumber daya manusia. Selain berkecimpung di bidang Sumber Daya Manusia, Riza juga memiliki pengalaman mengelola operasional organisasi nirlaba, pengelolaan keuangan, program dan proyek serta kegiatan penggalangan dana.

Riza merupakan alumni Universitas Indonesia di program Magister Hukum Bisnis Fakultas Hukum dan program Manajemen Fakultas Ekonomi. Riza telah mengikuti program sertifikasi profesi Sumber Daya Manusia di berbagai instusi diantaranya National University of Singapore dan Asian Institute of Management.