Clean water from Gunung National Park flows down to the nearby village of Bodogol.

Jawa Barat

© Jessica Scranton

 

Tingkat pertumbuhan populasi yang relatif cepat di Jawa Barat membuat kebutuhan akan sumber daya alam semakin meningkat pula. Saat ini tutupan hutan di Jawa Barat han​ya 22%, dengan luasan hutan alam tersisa 816.000 hektar yang terdiri dari hutan taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, hutan lindung dan hutan produksi. Sisa hutan sebagai modal alam yang memberikan layanan jasa lingkungan bagi jutaan orang tidak luput dari tekanan dengan memanfaatkannya secara tidak berkelanjutan. Dengan berfokus pada Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Gedepahala), kami menjaga hutan yang menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.​

 

Mengapa penting?

1 penyedia air bersih

Empat Daerah Aliran Sungai utama yaitu Ciliwung, Cisadane, Citarum dan Cimandiri menyediakan jasa lingkungan berupa air bersih bagi lebih dari 30 juta orang yang tinggal disekitarnya termasuk Jakarta. Jasa lingkungan tersebut sangat bermanfaat pada sektor rumah tangga, pertanian, industri hingga pariwisata.

2 melindungi dari bencana

Topografi Jawa Barat yang sebagian besar merupakan daerah pegunungan, rentan terhadap bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Mempertahankan hutan yang tersisa dan memperbaiki kondisi hutan yang rusak dapat menghindari terjadinya bencana alam tersebut.

3 rumah bagi satwa liar

Kawasan hutan yang tersisa di Gedepahala merupakan rumah bagi lima jenis satwa liar yaitu owa jawa (Hylobates moloch), elang jawa (Nisaetus bartelsi), macan tutul jawa (Panthera pardus melas), surili (Presbytis comata) dan kukang jawa (Nycticebus javanicus).

4 sebagai laboratorium alam

Lokasi yang dekat dengan kota-kota besar termasuk Jakarta, kawasan Gedepahala dapat berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan dan penelitian bagi siswa sekolah berbagai tingkatan hingga perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

 

Tantangan

1 degradasi hutan

Kerusakan kawasan hutan akibat pemanfaatan secara berlebihan dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hutan sebagai penyedia jasa lingkungan bagi jutaan manusia yang tinggal disekitarnya. Sebagian besar masyarakat yang tinggal dekat kawasan hutan bermata pencaharian sebagai petani. Keterbatasan lahan pertanian menyebabkan masyarakat memanfaatkan dengan membuka kawasan hutan menjadi area pertanian. Selain itu perubahan kawasan hutan menjadi pemukiman dan industri juga menyebabkan penurunan fungsi kawasan hutan.

2 perburuan & perdagangan satwa liar

Maraknya satwa liar owa jawa dijadikan sebagai satwa peliharaan menyebabkan penurunan populasi satwa tersebut di alam. Peran owa jawa di alam penting dalam regenerasi hutan karena sebagai penyebar biji (seed dispersal).

3 rendahnya tingkat kesadaran

Sebagian besar masyarakat yang tinggal disekitar kawasan hutan masih memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah. Begitu juga masyarakat umum juga masih memiliki tingkat kesadaran konservasi yang rendah. Mereka belum memahami akan arti pentingnya hutan beserta potensi yang dikandung didalamnya bagi kesejahteraan masyarakat luas.

Yang kami lakukan

Reforestation program in the Gunung National Park
© Jessica Scranton

1. Green Wall

Bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, kami mengembalikan fungsi kawasan perluasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango melalui restorasi ekosistem dan peran aktif masyarakat. Sekitar 120.000 pohon hutan dan 13.000 pohon buah produksi sudah ditanam sejak tahun 2008. Setiap tahunnya dilakukan pemeliharaan melalui kegiatan pemantauan dan penggantian (penyulaman) tanaman yang tidak dapat bertahan hidup. Kami juga melakukan pemberdayaan kepada masyarakat sekitar agar menjadi penyangga sosial dalam upaya konservasi di taman nasional ini.

Conservation International staff teaches students about the importance of national forest preservation
© Jessica Scranton

2. Pendidikan Konservasi

“Tak kenal maka tak sayang adalah pepatah yang tepat digunakan untuk mulai belajar mengenal alam.”

Kami bersama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Yayasan Alam Mitra Indonesia mengembangkan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bedogol. Terletak di dalam area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, tempat ini bertujuan untuk memperkenalkan hutan tropis pada masyarakat luas khususnya masyarakat di sekitar taman nasional melalui program pendidikan, ekowisata dan penelitian. Selain pusat pendidikan, kami juga melakukan pendidikan keliling (mobile unit) sejak tahun 2003 dengan mengunjungi sekolah-sekolah dan masyarakat di sekitar hutan.

A javan gibbon and keeper from Javan Gibbon Center.
© CI/Anton Ario

3. Konservasi Owa Jawa

Sebagai salah satu spesies yang marak diperdagangkan membuat jumlah owa jawa yang tersisa hanya sekitar 1.000-5.000 individu. Sebagai langkah nyata untuk menyelamatkan spesies ini, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Yayasan Owa Jawa dengan dukungan dari Universitas Indonesia, Silvery Gibbon Project dan Conservation International membuat program penyelamatan dan rehabilitasi bagi owa jawa. Kami menyelamatkan dan merehabilitasi owa jawa yang sebelumnya dijadikan hewan peliharaan agar dapat hidup di habitat alami. Pendidikan dan penyadartahuan juga dilakukan agar masyarakat dapat memahami pentingnya pelestarian spesies ini.

Mina Mukti Dahlia is the first cooperative in Cihanyawar Village. The cooperatives are built with support from CI Indonesia as a part of community development.
© CI/Donny Iqbal

4. Pemberdayaan Masyarakat

Masyarakat memiliki peranan penting dalam upaya konservasi. Dengan kegiatan pemberdayaan ini diharapkan masyarakat dapat mengurangi ketergantungan akan lahan taman nasional. Kami mengembangkan kemampuan masyarakat di pertanian dan memberikan alternatif ekonomi melalui pertanian terpadu, budidaya ikan tawar dan peternakan. Bersama dengan masyarakat kami juga membangun pembangkit listrik tenaga air, fasilitas air bersih dan koperasi desa.

 

Narahubung

Anton Ario
Senior Manager Terrestrial Program
ci-indonesia@conservation.org