Program Konservasi Hiu dan Pari

© CI/Mark Erdmann
 
© Gerry Allen

Sekilas tentang hiu paus

  • Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan ikan terbesar di laut dengan panjang badan mencapai 18 meter dan berat hingga 30 ton.
  • Dapat menyelam hingga 1.500 meter di bawah permukaan laut.
  • Hanya memakan ikan kecil dan plankton.
  • Seringkali “ditumpangi” oleh ikan remora yang mencari perlindungan dari hiu paus.
  • Dipercaya mulai berkembang biak pada usia 30 tahun dan panjang badan mencapai 8-9 meter.
  • Berwarna abu-abu, biru atau coklat dengan garis putih dan totol putih di seluruh badan.
  • Dapat ditemukan di seluruh Indonesia, dimana telah didokumentasikan kemunculan di Aceh, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Maluku dan Papua Barat.
Tagging mantas 
© Shawn Heinrichs

Sekilas tentang pari manta

  • Terdapat dua spesies pari manta: pari manta karang (Mobula alfredi) dan pari manta oseanik (Mobula birostris).
  • Dipercaya dapat hidup hingga usia 50 tahun.
  • Makanan utamanya adalah zooplankton (hewan kecil yang mengapung bersama arus laut).
  • Hewan yang sangat cerdas, terkenal ramah, lembut dan berkeingintahuan besar.
  • Tidak berbahaya karena tidak memiliki duri di ekornya dan tidak menyengat.
  • Dapat ditemukan di seluruh Indonesia dengan populasi utama terkonsentrasi di Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Papua Barat.

 

Ancaman

1
interaksi dengan manusia
Banyak hiu paus yang terluka akibat interaksi dengan manusia yang tidak dikelola dengan baik.
2
diburu untuk siripnya
Hiu paus dan jenis-jenis hiu lainnya secara global masih diburu untuk diambil siripnya sebagai bahan sup sirip hiu.
3
diburu sebagai bahan obat
Semakin besarnya permintaan terhadap pelat insang pari manta untuk digunakan sebagai bahan obat tradisional Tiongkok.
4
tingkat reproduksi yang rendah
Manta betina mencapai kedewasaan seksual pada usia 8-10 tahun dan hanya melahirkan satu ekor anakan setiap 2-5 tahun.

 

Perlindungan

Nasional

Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan peraturan untuk perlindungan kedua spesies ini. Kepmen KP No. 18 Tahun 2013 untuk hiu paus dan Kepmen KP No. 4 Tahun 2014 untuk pari manta.

Internasional

Spesies ini masuk ke dalam daftar merah IUCN yang mana hiu paus berstatus genting dan pari manta berstatus rentan.

Tidak hanya itu spesies ini juga masuk ke dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) pada lampiran II 13 Februari 2003 dan 14 Maret 2013.

 

Yang Kami Lakukan​​

Kami memantau hiu pau​s dan pari manta guna memahami perilaku dan ekologi mereka. Informasi-informasi yang didapatkan akan digunakan untuk memberi masukan terhadap kebijakan publik dan upaya konservasi.

1. Identifikasi foto

Layaknya sidik jari pada manusia, setiap individu hiu paus dan pari manta memiliki pola totol-totol yang unik untuk setiap individunya. Ciri khas ini dapat dilihat dari:

  • Totol-totol putih yang ada di atas sirip pektoral bagian kiri tubuh ​hiu paus
  • Totol-totol yang ada di celah insang untuk manta karang
  • Totol-totol di perut untuk manta oseanik
© Birdsheadseascape.com
Hiu Paus
Totol-totol putih yang ada di atas sirip pektoral bagian kiri tubuh ​hiu paus
© Birdsheadseascape.com
Manta karang
Totol-totol yang ada di celah insang untuk manta karang
© Guy Stevens/Manta Trust
Manta oseanik
Totol-totol di perut untuk manta oseanik
 

2. Penanda Satelit

Penanda satelit digunakan untuk memonitor pola migrasi dan perilaku. Sampai dengan tahun 2017, sebanyak 33 pari manta telah berhasil dipasangi penanda, yang terdiri dari 29 manta karang dan 4 manta oseanik. Sedangkan untuk hiu paus sudah berhasil dipasangi sebanyak 25 individu.​

© Mark Erdmann
Hiu paus yang sudah dipasang tag satelit di Teluk Cendrawasih, Papua Barat.

 

Kontak

Abraham Sianipar
Elasmobranch Program Manager
ciindonesia@conservation.org