Upaya Perlindungan Pari Manta Lahirkan Tiga Kebijakan di Tingkat Nasional dan Daerah

4/20/2016

​​Penetapan Raja Ampat sebagai Manta Sanctuary Pertama di Dunia akan Tingkatkan Potensi Atraksi Wisata Pro-Konservasi.

Jakarta, 20 April 2016 - Indonesia merupakan negara kelautan dengan keanekaragaman sumberdaya laut yang tidak ada tandingannya, memiliki hampir 80% spesies karang keras yang ada di dunia, lebih dari 2.300 spesies ikan karang, serta keanekaragaman hewan elasmobranch – ikan bertulang rawan (hiu dan pari) -  terkaya, termasuk ikan pari manta. Selama sembilan tahun terakhir, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia bekerjasama dengan Conservation International Indonesia, Pemerintah Daerah dan institusi terkait, terus berupaya untuk melindungi eksistensi pari manta melalui berbagai kebijakan, inisiatif penelitian serta pengembangan program pariwisata berbasis konservasi. Tercatat hingga saat ini, tiga kebijakan telah terbit untuk melindungi pari manta secara penuh mulai dari Peraturan di tingkat daerah hingga Keputusan Menteri di tingkat nasional.

Di Indonesia terdapat lebih dari 130 spesies elasmobranch, termasuk diantaranya kedua spesies pari manta, Manta Birostris dan Manta Alfredi. Kedua spesies pari manta tersebut dikategorikan sebagai hewan langka kategori 'rentan' dalam Daftar Spesies Terancam Punah International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan pada tahun 2013, dimasukkan dalam Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Masuknya kedua jenis pari manta dalam daftar ini menekankan bahwa kepunahan pari manta akan terjadi jika perdagangan internasional terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Menjaga pari manta dari kepunahan merupakan tantangan tersendiri bagi Indonesia. Selain hanya melahirkan 1 anakan dalam kurun waktu 2 hingga 5 tahun, ancaman penurunan jumlah populasi semakin meningkat, mengingat semakin tingginya perburuan liar karena permintaan terhadap pelat insang manta dari Cina. Tercatat, dalam 10-15 tahun belakangan, telah terdokumentasi penurunan jumlah tangkapan sebesar 70-95% di beberapa lokasi.

Upaya perlindungan telah dilakukan oleh pemerintah, termasuk dengan memasukkan pari manta dalam Rencana Aksi Nasional 2016-2020. Ir. Agus Dermawan M.Si., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyampaikan, "Sebagai negara suaka pari manta terbesar di dunia, memiliki kepentingan besar untuk mengelola pari manta dengan baik. Pengelolaan ini tidak dapat dilakukan sepihak namun membutuhkan kerjasama berbagai pemangku kepentingan termasuk akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat lokal".

Di sisi kebijakan terdapat tiga regulasi khusus yang bertujuan untuk melindungi pari manta, antara lain Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat No. 9 Tahun 2012 Tentang Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan Jenis-Jenis Ikan Tertentu di Perairan Raja Ampat, Papua Barat. Peraturan ini juga merupakan jenis peraturan pertama di wilayah Segitiga Karang (Coral Triangle). Peraturan lainnya adalah Instruksi Bupati Manggarai Barat No. 1309 Tahun 2013 Tentang Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, Napoleon, Jenis-Jenis Ikan Tertentu, dan Biota Laut Lainnya di Perairan Laut Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di tingkat nasional, pari manta telah mendapatkan perhatian khusus melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 4 Tahun 2014 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

Pari manta adalah hewan kharismatik yang memiliki potensi besar untuk menyumbangkan pemasukan melalui industri wisata. Sebuah studi dari O'Malley di tahun 2013 menunjukkan bahwa seekor pari manta dapat menyumbang sebesar 1 juta dollar selama hidupnya sebagai aset pariwisata. Sedangkan, jika dibunuh dan diperdagangkan seluruh bagian tubuhnya hanya akan bernilai kurang dari 6 juta rupiah per ekor. Saat ini Indonesia memiliki industri pariwisata manta terbesar kedua di dunia setelah Jepang, dengan nilai potensi sebesar 180 miliar rupiah setiap tahunnya.

Sebagai hewan laut kharismatik yang telah menjadi komponen penting pariwisata bahari di sejumlah tempat di Indonesia, berbagai upaya penelitian juga kerap dilakukan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh CI Indonesia bekerjasama dengan Direktorat KKHL, Balitbang-KP, dengan dukungan Akuarium SEA Singapurauntuk meneliti pola migrasi pari manta yang ada di Papua, Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan. Victor Nikijuluw, Marine Program Director CI Indonesia memaparkan, "Hasil penelitian kami yang melakukan pemasangan tagging satelit kepada 30 ekor pari manta menunjukkan beberapa temuan penting seperti jarak jelajah, kedalaman, hingga suhu. Kami berharap temuan-temuan ini bisa berkontribusi terhadap pengelolaan dan pelestarian hewan langka ini."

Penelitian tagging manta tahun 2015 menghasilkan fakta menarik tentang pola migrasi. Beberapa ekor pari manta dari Nusa Penida dan Komodo menjelajah area tertentu dan melewati Perairan Selatan Lombok, sebuah kawasan yang telah lama diketahui sebagai salah satu lokasi utama penangkapan pari manta. Temuan ini dapat menjadi informasi yang baik bagi upaya penegakan hukum perlindungan pari manta, yang menunjukkan bahwa upaya perlindungan harus ditingkatkan bagi spesies-spesies beruaya seperti pari manta.  

Menanggapi kegiatan penelitian yang dilakukan oleh CI Indonesia, Prof. Dr. Hari Eko Irianto, Kepala Puslitbangkan, KKP menyatakan bahwa dibutuhkan lebih banyak penelitian mendalam tentang pari manta. "Melakukan identifikasi pari manta di Indonesia merupakan tantangan yang besar karena kondisi laut Indonesia yang sangat luas dan kurangnya SDM yang memiliki kemampuan mengidentifikasi jenis-jenis hewan rawan yang terancam punah sesuai aturan standar konvensi internasional, yang meneliti hingga level spesies. Kami mengapresiasi upaya CI Indonesia yang melakukan inisiatif kolaboratif penelitian tagging manta di beberapa lokasi. Semoga inisiatif ini bisa menjadi awal yang baik untuk mengembangkan aksi strategis bagi perlindungan pari manta di Indonesia ke depan."

Di kawasan Raja Ampat, pola migrasi pari manta memperlihatkan temuan menarik: pari manta yang berasal dari daerah tersebut umumnya tidak menjelajah dengan jarak terlalu jauh dan akan kembali ke area yang sama. Studi ini telah mengkonfirmasi Laguna Wayag sebagai tempat berkembangbiak dan pembesaran pari manta (nursery area).

"Saat ini, Raja Ampat telah menjadi destinasi wisata bahari kelas dunia yang banyak menarik perhatian wisatawan baik lokal maupun internasional,  dimana pada tahun 2015, tercatat sebanyak 17.000 wisatawan yang mengunjungi kawasan ini. Raja Ampat merupakan satu-satunya tempat di dunia untuk kita bisa menemukan kedua spesies pari manta beragregasi di tempat yang sama. Dengan ditemukannya kawasan nursery manta di Wayag, pengelolaan pariwisata pari manta yang lebih baik akan menjadi prioritas dalam memastikan keberlangsungan populasi pari manta di Raja Ampat", jelas Yusdi Lamatenggo, Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat.  

Yusdi menambahkan, setiap wisatawan yang masuk ke kawasan konservasi perairan di Raja Ampat wajib membeli kartu jasa lingkungan senilai Rp. 500.000 untuk wisatawan domestik, dan $100 untuk wisatawan mancanegara. Hasil dari penjualan kartu jasa lingkungandipergunakan untuk pendapatan asli daerah, pengelolaan kawasan konservasi, kegiatan patroli masyarakat dan monitoring kawasan. "Dari sebagian dana yang terkumpul, kami juga melakukan program penyadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi dari satu kampung ke kampung lainnya", tambahnya.

Komitmen yang kuat juga ditunjukkan oleh para pemangku kepentingan di bidang pariwisata di Raja Ampat dengan membentuk Kelompok Kerja (POKJA) Perlindungan Manta. Pokja ini terdiri dari perwakilan resort, travel agent, masyarakat, pemda, NGO, akademisi, guide. "Tugas awal dari Pokja ini adalah menyusun CoC wisata Manta, desain pengelolaan spot manta sandy, dll.", jelas Yusdi.

Victor Nikijuluw menyampaikan bahwa ke depan, beberapa hal penting yang harus dilakukan secara sistimatis guna mendukung upaya pelastarian Manta sehingga membawa dampak ekonomi yang lebih besar kepada negara. Usulan yang diajukan antara lain untuk:

  1. Menindaklanjuti pelarangan penangkapan manta dengan penegakan hukum di lapangan. Komitmen pemimpin daerah  sangat diperlukan dalam hal ini, berupa mengeluarkan aturan lokal yang dilaksanakan di masing-masing daerah.

  2. Penyuluhan dan penyadaran masyarakat, khususnya kepada nelayan yang selama ini menangkap manta, kepada mereka perlu disediakan alternatif mata pencaharian. Salah satunya berupa melibatkan mereka dalam pembangunan pariwisata bahari.

  3. Menutup praktik perdagangan ilegal. Untuk itu, para pedagang pengumpul dan eksportir patut diawasi dan diberi tindakan hukum sesuai aturan.

  4. Mendorong pengusaha pariwisata bahari untuk mempromosikan wisata penyelaman manta di berbagai daerah.

Menodorong masyarakat lokal untuk melakukan upaya-upaya konservasi dan mengikutkan mereka dalam kegiatan pariwisata bahari.

Tentang Conservation International 

Sejak tahun 1987, Conservation International telah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui perlindungan alam. Dengan panduan prinsip bahwa alam tidak butuh manusia, namun manusia yang membutuhkan alam untuk makanan, air, kesehatan, dan mata pencaharian – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia, untuk memastikan sebuah planet yang sehat dan sejahtera yang dapat mendukung kesejahteraan manusia.

Conservation International telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1991, mendukung upaya konservasi dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. CI Indonesia membayangkan Indonesia yang sehat sejahtera dimana masyarakatnya berkomitmen untuk menjaga dan menghargai alam untuk manfaat jangka panjang masyarakat Indonesia dan kehidupan di bumi. CI mencapai tujuan konservasi berdasar tiga pilar fundamental yang terhubung: menjaga kekayaan alam, tata kelola yang produktif, dan produksi berkelanjutan.

Dengan panduan prinsip bahwa manusia butuh alam untuk makanan, air, kesehatan, dan sumber mata pencaharian – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia untuk memastikan planet yang lebih sehat yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.conservation.or.id, dan akun sosial media Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube.

Tentang Raja Ampat

Raja Ampat adalah pusat keanekaragaman hayati laut dunia dan bagian dari kawasan Coral Triangle yang disebut dengan 'the amazon of the sea'. Raja Ampat memiliki 1.566 spesies ikan karang dan 553 spesies karang keras. Kawasan ini adalah rumah bagi satwa-satwa laut kharismatik seperti pari manta, hiu, hiu berjalan (kalabia), beberapa spesies penyu, paus, lumba-lumba, dan dugong. CI indonesia telah bekerja di Raja Ampat sejak tahun 2011 untuk mengembangkan sistem pengelolaan kawasan konservasi, membangun kapasitas masyarakat lokal dan membantu menciptakan sistem pendanaan yang mandiri bagi masyarakat setempat.​

Kontak Media:

​Abraham Sianipar

Elasmobranch Senior Conservation Officer

Conservation International Indonesia


​​​​​Images Slideshow Carousel (half page)

Carousel Configuration​

EditCarousel Title:
Edit Carousel Orientation:leftLeft
    EditAnchor tag for sticky nav (optional):[Optional]
    EditImage RenditionID Small:15[Optional]
    EditImage RenditionID Webkit:17[Optional]
    EditImage RenditionID Medium:18[Optional]
    EditImage RenditionID Large:19[Optional]

    Carousel Images

    Image

    EditImage:/global/indonesia/publikasi/PublishingImages/DSC_2990.JPG
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:Victor Nikijuluw bersama dengan Prof. Hari Eko Irianto, Kepala Puslitbangkan KKP dan Yusdi Lamatenggo, Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat memberikan informasi tentang upaya perlindungan Manta di Indonesia dalam sebuah sesi media briefing di Jakarta.
    EditPhoto Credit:© Desytha Dwiutami
    Move UpMove Down​​
    Add another image...
    Remove this module
    ​​​​

    Request an Interview

    ,

    ,

    Related Content

    Other Media