Situs Keramat Alami
Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati
Herwasono Soedjito, Y. Purwanto dan Endang Sukara (editor)

Prosiding Lokakarya, Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, 30-31 Oktober 2007

Jakarta : Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan UNESCO, MAB, LIPI dan Conservation International (CI) Indonesia., 2009
xxi, 303 halaman

Ada beberapa hal yang mendasar yang harus dilakukan dalam pendekatan mengatasi kerusakan lingkungan saat ini. Tentu saja beberapa inovasi dan pendekatan kebijakan harus dilakukan, termasuk, penghargaan bahwa sejak zaman dahulu perilaku budaya manusia tidak ada yang bertentangan dan merusak alam ini.

Perubahan terjadi karena adanya pergeseran budaya manusia yang diakibatkan oleh kepentingan, persaingan hidup menyebabkan manusia merusak alam ini. Kita melihat di Indonesia, disebabkan tidak lagi adanya penegakan hukum adat, termasuk hukum positif lainnya akibat adanya perilaku kolusi, korupsi dan nepotisme. Ujungnya ini disebabkan karena sanksi terhadap masyarakat yang merusak lingkungan tidak dapat ditegakkan. Kalau pun seandainya ditegakan akan timbul tebang pilih, sehingga keteladanan tidak ada lagi.

Kurangnya keperdulian tersebut berakibat mengakibatkan sifat manusia untuk menjaga, saling mengawasi sudah semakin berkurang, yang akhirnya timbul rasa solidaritas yang menurun dan ujungnya timbul perasaan indivisualis yang tinggi —Lu gue..gue, masa bodoh! acuh tak acuh—yang penting kepentingan pribadi tercapai. Amat terasa akhir akhir ini mengemuka sifat pragmatisme atau mementingkan keadaan sesaat: yang penting adalah hari ini, yang punya duit yang kuat dan punya akses kesempatan untuk menyelamatkan diri masing-masing! Maka, apabila terjadi musibah, maka yang miskin lebih tertindas, karena akses untuk menyelamatkan diri semakin berkurang.

Buku ini menghimbau pada penghargaan bahwa kita harus menghargai tradisi dan kembali menata lingkungan kita seperti zaman nenek moyang kita dahulu. Tradisi itu masih ada dalam kehidupan masyarakat kita sekarang. Seditaknya buku ini dapat memberikan ilham, bahwa masyarakat tradisional dengan kesederhanaan mereka dapat berkontribusi untuk melinduling alam dan lingkungan termasuk keanekaragaman hanyati. Terdapat 17 studi kasus situs keramat alami dan pelestarian alam hanyati yang ada dalam masyarakat Indonesia meliputi Pulau Sumatra (Siberut, Mandailing Natal dan Riau), Sulawesi (Bulukumba, Lore Lindu), Kalimantan (Malinau), Jawa (Banten, Jawa Barat, Jawa Timur), Bali dan Papua (Biak dan Lembah Baliem). Dengan kacamata masyarakat awam, ternyata konservasi keanekaragaman hayati dapat mereka lakukan, sekarang tinggal manusia modern (pengambil kebijakan) harus pandai menghargai keatifan tradisi ini. * Ruslan Wijaya, Mahasiswa Doktor Program Studi Lingkungan Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

ISBN 978-979-742-7

Jika berminat dapat menghubungi Yayasan Obor Indonesia
Jl. Plaju No 10
Jakarta 10230
Telp. 021-31926978 Fax. 021-31924488
E-mail: yayasan_obor@cbn.net.id