Perairan Raja Ampat Adalah Habitat Asal Pari Manta

10/29/2015

​​Temuan untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam pengelolaan Suaka Pari Manta terbesar di dunia.

Jakarta, 29 Oktober 2015 – Daerah pembesaran pari manta pertama di Asia Tenggara telah ditemukan di Raja Ampat, Indonesia. Hal ini dipastikan melalui sebuah studi telemetri terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia. Studi ini dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan dukungan Conservation International (CI) dan Akuarium S.E.A. Resort World Sentosa, Singapura. Hasil studi memberikan informasi yang sangat berharga dalam mendukung pelestarian hewan langka pari manta yang sudah menjadi primadona pariwisata selam di Indonesia.

Studi yang dilakukan selama 10 bulan ini (September 2014 – Juni 2015), telah berhasil memasang 33 buah tag satelit dengan teknologi Fastloc Global Positioning System (GPS) yang dibuat khusus, di empat lokasi di Indonesia – Bali, Raja Ampat, Kalimantan Timur, dan Taman Nasional Komodo. Dengan metode tersebut, tim peneliti dapat menelusuri pola-pola pergerakan dan migrasi dari 29 ekor pari manta karang (M. alfredi) dan empat ekor pari manta oseanik (M. birostris), delapan diantaranya merupakan pari manta betina yang hamil.

Dengan menelusuri pergerakan manta betina yang hamil dan juga anakan manta, telah ditemukan lokasi agregasi manta anakan dan remaja di Laguna Wayag di Raja Ampat. Hal ini memberikan konfirmasi bahwa wilayah ini digunakan manta sebagai daerah utama untuk betina melahirkan dan pembesaran anakan manta. Anakan dan manta remaja sesekali teramati melakukan beberapa pergerakan keluar dari Laguna ke perairan yang lebih dalam, namun setelah itu mereka langsung kembali ke dalam lindungan dari Laguna Wayag.

Berdasarkan informasi ini, tim pengelola Kawasan Konservasi di Raja Ampat saat ini sedang dalam proses pengembangan dan penerapan peraturan baru untuk membatasi aktivitas kapal dan speed boat di dalam Laguna Wayag guna mengurangi resiko anakan manta terluka karena terkena baling-baling kapal dan speed boat. Hal ini karena diketahui bahwa anakan manta cenderung untuk menghabiskan waktunya untuk berenang di permukaan laut. Peraturan baru ini diharapkan dapat diterapkan dalam satu tahun kedepan.

Penelitian bersama ini juga telah berhasil mengkonfirmasi pergerakan bolak-balik pari manta dari Bali (Nusa Penida) dan juga Komodo. Mereka bermigrasi melalui daerah penangkapan ikan oleh nelayan setempat. Bila saat mereka sedang bermigrasi dan mereka tertangkap, maka aset pariwisata manta yang bernilai 15 juta US$ per tahunnya ini dalam ancaman serius. Studi ini juga telah menyingkap beberapa wilayah agregasi pari manta baru, pergerakan yang rinci pada setiap wilayah studi, dan kedalaman penyelaman pari manta terdalam. Ternyata, pari manta masih ditemukan pada kedalaman laut 624 meter.​

Analisis rinci tentang data penelitian sedang dilakukan oleh KKP dan CI. Berdasarkan hasil studi ini, KKP akan mempersiapkan National Plan of Action (NPOA) Konservasi Pari Manta untuk lima tahun ke depan. Selain itu, seminar yang mengusung tiga topik utama, yaitu biologi, pengelolaan, dan perlindungan pari manta dalam rangka mendukung perkembangan konservasi dan pengelolaan pariwisata manta di Indonesia akan dilakukan pada bulan Desember 2015. Penyusunan NPOA adalah tindak lanjut dari status perlindungan penuh terhadap hewan ini yang telah ditetapkan pemerintah sejak bulan Februari 2014.

Ketut Sarjana Putra, Vice President CI Indonesia menjelaskan bahwa, “Program penelitian kolaborasi pari manta ini telah memungkinkan kita untuk memperoleh data-data yang sangat berharga tentang perilaku dan ekologi dari pari manta di perairan Indonesia. Penelitian ini akhirnya memberikan justifikasi yang lebih kuat dalam menghentikan penangkapan manta untuk kepentingan konsumsi manusia. Hal ini tidak hanya demi keberlangsungan hidup manta, tapi khususnya untuk kepentingan ribuan rakyat Indonesia yang kehidupannya bergantung pada industri pariwisata pari manta.”

Ketut menambahkan, “S.E.A. Akuarium Singapura telah memberikan dukungan yang tidak ternilai pada program ini karena ada tautan yang erat antara konservasi dan pengunjung dari akuarium, yang sebelumnya tidak mengetahui ancaman-ancaman yang dihadapi oleh pari manta. Namun, pekerjaan kita belum selesai sampai disini. Kami berencana untuk melanjutkan program ini di wilayah-wilayah lain di Indonesia dan memfokuskan studi ke depan guna menelusuri lebih lanjut area-area pembesaran penting, bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan pengelolaan dan perlindungan aset penting pariwisata Indonesia ini.”

Profesor Hari Eko Irianto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Parikanan (Puslitbangkan) KKP menyatakan bahwa “Temuan dari kegiatan ini telah memberikan wawasan yang besar untuk pengelolaan pari manta dan akan mendukung Indonesia untuk terus berkembang sebagai tujuan ekowisata. Dengan adanya kerjasama dengan pemerintah daerah dan LSM, khususnya CI Indonesia, kami berencana untuk melanjutkan kegiatan monitoring dan pengawasan untuk melindungi hewan ini, khususnya untuk anakan dan pari manta betina yang hamil, juga habitat-habitat penting mereka.”

Mathilde Richer de Forges, Manajer Senior Konservasi di Resort World Sentosa menyampaikan, “Luaran konservasi dari program kolaborasi ini sangat luar biasa, yang akan memberikan keuntungan bagi keberlangsungan hidup pari manta dan juga perkembangan berkelanjutan dari komunitas-komunitas lokal di Indonesia. Konservasi kelautan, penelitian, dan edukasi telah menjadi pilar utama bagi S.E.A. Aquarium dan kami memiliki komitmen untuk melanjutkan dukungan ini di Asia Tenggara. Banyak orang, untuk berbagai alasan, sudah tidak dapat lagi melihat manta di habitat alaminya. Di S.E.A. Aquarium, kami menjembatani kebutuhan ini dan memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk melihat pari manta dari dekat, mengetahui ancaman yang mereka hadapi, dan yang paling penting, memberikan inspirasi bagi pengunjung untuk melindungi hewan ini hingga masa yang akan datang.”

Menghentikan Penangkapan Manta

Di bagian Selatan Indonesia, penelitian tagging pari manta ini telah membantu untuk memastikan bahwa manta secara rutin melakukan pergerakan antara wilayah-wilayah pariwisata di Bali dan Taman Nasional Komodo, wilayah-wilayah dimana manta seringkali ditangkap. Tim mengamati adanya satu ekor manta yang berenang antara Bali Selatan, Nusa Penida, Lombok, dan Sumbawa Barat. Hal yang serupa (pada arah yang berlawanan) juga dijumpai dari beberapa manta yang dipasangi tag dari Komodo, yang berenang ke arah Barat hingga perairan Sumbawa menuju Bali.​

Pergerakan manta antara Bali dan Komodo melalui identifikasi fotografi (photo ID) sebelumnya telah didokumentasikan oleh rekan-rekan LSM lokal dan operator penyelaman di Nusa Penida, Aquatic Alliance. Program tagging ini mendukung dan memperkuat bukti ini – dengan menunjukkan secara rinci rute yang dilalui – dan menggarisbawahi pergerakan manta melalui wilayah-wilayah penangkapan di Selatan Lombok dan Selatan Sumbawa. Informasi ini memberikan bukti yang kuat bagi pemerintah untuk meningkatkan usaha-usaha perlindungan dan penegakan hukum di wilayah ini untuk menghentikan penangkapan manta, sebagaimana diharuskan oleh KEPMEN-KP No.4 Tahun 2014.​

Kebutuhan untuk Konservasi

Kedua spesies pari manta diburu untuk insangnya, yang digunakan sebagai bahan obat tradisional Cina, walaupun tidak adanya bukti khasiat dari bahan ini. Pari manta merupakan hewan yang sangat rentan terhadap penangkapan berlebih, menimbang rendahnya angka populasi, lambatnya laju perkembangan, dan reproduksi yang jumlahnya lebih mendekati pada manusia dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya. Manta dipercaya dapat hidup hingga 50 tahun atau lebih, dan membutuhkan 8-10 tahun hingga mencapai kedewasaan. Mereka hanya melahirkan satu anakan setiap 2-5 tahun, dengan masa kehamilan selama 12 bulan.

Berdasarkan studi oleh O’Malley dkk. (2013), satu ekor manta berharga 1 juta US$ sebagai aset pariwisata selama hidupnya, dibandingkan dengan 40-500 US$ bila ditangkap dan dijual seluruh bagian tubuhnya.

Pariwisata bahari yang berbasis manta saat ini telah memberikan manfaat penting bagi komunitas-komunitas lokal pada empat lokasi dimana studi ini dilakukan. Masyarakat lokal telah menjunjung tinggi yang diberikan oleh hewan raksasa ini, dan sangat berkomitmen untuk terus melindungi keberadaan manta di wilayah mereka. Beberapa kampung bahkan telah mengadopsi manta sebagai ikon penting dari kampung mereka sendiri. Di Raja Ampat contohnya, sebuah patung manta besar telah dipasang di atas gapura gerbang masuk Kampung Arborek, sebagai penghargaan bagi hewan laut yang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat kampung.​

Fakta-fakta Pari Manta

Ukuran: Manta Karang hingga 5 meter, Manta Oseanik hingga 8 meter dari ujung sayap ke ujung sayap

Usia: Setidaknya 50 tahun

Makanan: Zooplankton

Cara Makan: Filter feeding menggunakan insang

Reproduksi: rata—rata 1 anakan setiap 2-5 tahun

Pewarnaan Tubuh: Individu “Chevron” memiliki warna hitam pada bagian punggung dan putih di bagian perutnya dengan totol-totol hitam, sedangkan individu “Melanistik” memiliki warna hitam di sekujur tubuhnya, dan memiliki totol-totol warna putih di bagian perutnya.​

Informasi lain yang perlu diketahui:

  • Para peneliti hanya saja menemukan adanya dua spesies manta di dunia, manta karang dan oseanik, pada tahun 2009
  • Pari manta merupakan salah satu ikan yang paling pintar, memiliki rasio otak dan massa tubuh paling besar dibandingkan ikan lainnya. Mereka dipercaya dapat membedakan masing-masing penyelam dengan melihat ke mata penyelam tersebut.
  • Masing-masing individu manta dapat dibedakan melalui pola pewarnaan dan totol-totol pada bagian bawah tubuhnya – seperti sidik jari pada manusia
  • Pari manta sama sekali tidak berbahaya. Mereka tidak memiliki duri pada ekornya dan tidak bisa menusuk.​

Tentang Conservation International

Sejak tahun 1987, Conservation International telah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui perlindungan alam. Dengan panduan prinsip bahwa alam tidak butuh manusia, namun manusia yang membutuhkan alam untuk makanan, air, kesehatan, dan mata pencaharian – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia, untuk memastikan sebuah planet yang sehat dan sejahtera yang dapat mendukung kesejahteraan manusia. Pelajari lebih lanjut tentang CI dan kampanye “Alam Berbicara”, serta ikuti perkembangan kerja CI di Indonesia melalui Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube.​

​​​Kontak Media:

Linda Chalid

Executive Assistant and Partnership Manager

Conservation International Indonesia

T: 62 21 7883 8626


​​​​​Images Slideshow Carousel (half page)

Carousel Configuration​

EditCarousel Title:
Edit Carousel Orientation:leftLeft
    EditAnchor tag for sticky nav (optional):[Optional]
    EditImage RenditionID Small:15[Optional]
    EditImage RenditionID Webkit:17[Optional]
    EditImage RenditionID Medium:18[Optional]
    EditImage RenditionID Large:19[Optional]

    Carousel Images

    Image

    EditImage:/global/indonesia/PublishingImages/ci_14109526_Medium.jpg
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:Manta Mayhem with Feeding Mantas.
    EditPhoto Credit:© Shawn Heinrichs
    Move UpMove Down​​
    Add another image...
    Remove this module
    ​​​​

    Request an Interview

    ,

    ,

    Related Content

    Other Media