Menjaga Hutan Menjaga Sumber Kehidupan

11/24/2016

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sediakan 19,1 juta liter air per detik bagi 30 juta orang. 

Sukabumi, 24 November 2016 – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Conservation International (CI) Indonesia melaksanakan diskusi bersama media pada 23 November 2016 dengan tajuk “Mengenal Ekologi Hutan Tersisa di Pulau Jawa, Sumber Kehidupan bagi Lebih dari 30 Juta Orang”. TNGGP dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) atau disebut sebagai Gedepahala, merupakan kawasan hutan penting bagi kehidupan masyarakat di Jawa Barat dan sekitarnya, termasuk Ibukota Negara DKI Jakarta. Kawasan ini merupakan hulu dari empat DAS yaitu DAS Citarum, Cimandiri, Cisadane, dan Ciliwung yang mengalir ke tiga provinsi, yaitu Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, yang menjadi tumpuan ketersediaan air berkualitas bagi masyarakat dan sektor industri. 

TNGGP yang ditetapkan sebagai World Network of Biosphere Reserves (WNBR) oleh UNESCO ini – merupakan kawasan untuk mendemonstrasikan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam – hanya berlokasi 80 km dari Ibukota Negara, serta merupakan bagian dari daerah aliran sungai yang menyaring dan menyediakan air bersih bagi masyarakat di Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta dan sekitarnya. TNGGP juga menjadi habitat sejumlah spesies endemik termasuk Owa Jawa, Macan tutul jawa, Elang Jawa, Surili dan Kukang jawa; serta berperan menjaga dampak perubahan iklim, mencegah banjir, dan longsor. 

Kepala Balai Besar TNGGP Ir. Suyatno Sukandar M.Sc menyampaikan data potensi sumber mata air di kawasan TNGGP pada tahun 2015, bahwa ada sekitar 94 titik dengan jumlah debet air yang dihasilkan sekitar 594,6 miliar liter per tahun atau setara dengan 19,1 juta liter per detik. “Air tersebut mengalir dan dimanfaatkan oleh seluruh kabupaten di sekitarnya, yang mencapai sekitar 30 juta orang. Akan tetapi masih ada 2.000 hektar kawasan di dalamnya yang perlu direstorasi, khususnya di area perluasan TNGGP ujarnya. Ia menambahkan bahwa upaya restorasi kawasan tersebut merupakan hasil kolaborasi banyak pihak, dan kemitraan merupakan kunci penting keberhasilan restorasi dan pelestarian ekosistem Taman Nasional. “Kami masih perlukan dukungan dan kesadaran banyak pihak untuk mendukung pelestarian kawasan hutan penting ini.” 

CI Indonesia merupakan salah satu mitra TNGGP yang telah mendukung program restorasi ekosistem di TNGGP sejak tahun 2008, dengan dukungan dari Daikin Industries. Hingga kini, khususnya di TNGGP, telah ditanam 120.000 pohon pada lahan seluas 300 hektar yang diperkirakan menyediakan 3,15 juta m3 air per tahun. Untuk mempercepat upaya restorasi, program Adopsi Pohon juga diinisiasi pada tahun yang sama, dan kini telah merestorasi 200 hektar kawasan dengan dukungan dari 30 mitra termasuk sektor swasta, institusi pendidikan, dan LSM. 

Anton Ario, West Java Program Manager CI Indonesia menyatakan bahwa edukasi penyadartahuan dan pelibatan masyarakat merupakan komponen pendukung upaya restorasi yang dilakukan. “Melihat pentingnya edukasi, bersama mitra kami mengembangkan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol pada tahun 1998 untuk memperkenalkan keunikan hutan hujan tropis kepada siswa dan masyarakat melalui program edukasi, ekowisata dan penelitian. Program-program di PPKAB tersebut telah diperkenalkan kepada lebih dari 50.000 siswa sejak tahun 1998. ”Program ini juga didukung kegiatan mobile konservasi yang diinisiasi tahun 2003 dengan sasaran menjangkau siswa tingkatan SD, SMP hingga SMA dan masyarakat di pelosok wilayah sekitar kawasan konservasi. 

Anton menyebutkan bahwa ada sejumlah inisiatif dan kegiatan konservasi terintegrasi yang mendukung upaya restorasi TNGGP, antara lain pendidikan dan penyadartahuan masyarakat, pemberdayaan masyarakat termasuk pengembangan koperasi desa, penyediaan fasilitas air bersih dan energi listrik tenaga air pikohidro, serta penyelamatan spesies penting seperti Owa Jawa dan macan tutul jawa. Semuanya ada dalam satu payung program West Java Landscapes yang dilaksanakan oleh CI Indonesia bersama mitra. 

Kini, CI Indonesia bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSA) Jawa Barat tengah mereplikasi program restorasi dan penguatan kelola konservasi hutan ini pada Kesatuan Pengelola Hutan Konservasi (KPHK) Guntur Papandayan di Garut. Program ini akan merestorasi 100 hektar kawasan di dalam dan diluar kawasan, pemberdayaan masyarakat, edukasi dan penyadartahuan masyarakat dan konservasi spesies terancam punah. Program ini diharapkan dapat menjadi model untuk mendorong restorasi lebih dari 5.000 ha kawasan terdegradasi di sekitar KPHK Guntur Papandayan. Penyelamatan kawasan hutan yang terdegradasi tersebut akan berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya, tak hanya sebagai penyedia air namun juga mencegah banjir dan longsor, yang tentunya diperlukan dukungan banyak pihak. 

###

Tentang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 

TNGGP mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1980. Saat ini, dengan luas 24.278,85 hektar, kawasan Taman Nasional ini merupakan ekosistem hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta. Disamping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti Macan Tutul Jawa, owa jawa, elang jawa, surili, kukang jawa, Kijang, dan habitat bagi sekitar 250 jenis burung. Selain potensi flora dan fauna, potensi hidrologinya sangat tinggi karena merupakan hulu dari 4 DAS besar (Ciliwung, Cisadane, Citarum, Cimandiri) dengan 60 sungainya, sebagai pembangkit 4 PLTA (Saguling, Cirata, Jatiluhur dan Cimandiri). Serta potensi bentang alam berupa keindahan ekosistem hutan hujan tropis Indonesia. Info lebih lanjut di www.gedepangrango.org 

Tentang Conservation International Indonesia 

Sejak tahun 1987, Conservation International telah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui perlindungan alam. Dengan panduan prinsip bahwa alam tidak butuh manusia, namun manusia yang membutuhkan alam untuk makanan, air, kesehatan, dan mata pencaharian – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia, untuk memastikan sebuah planet yang sehat dan sejahtera yang dapat mendukung kesejahteraan manusia. 

Conservation International telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1991, mendukung upaya konservasi dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. CI Indonesia membayangkan Indonesia yang sehat sejahtera dimana masyarakatnya berkomitmen untuk menjaga dan menghargai alam untuk manfaat jangka panjang masyarakat Indonesia dan kehidupan di bumi. CI mencapai tujuan konservasi berdasar tiga pilar fundamental yang terhubung: menjaga kekayaan alam, tata kelola yang produktif, dan produksi berkelanjutan. 

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.conservation.or.id, dan akun sosial media Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube. 

Kontak Media

Ir. Suyatno Sukandar, M.Sc 

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 

suyatno.sukandar@gmail.com 


Anton Ario 

West Java Program Manager 

Conservation International Indonesia 

aario@conservation.org ​


​​​​​​

Request an Interview

,

,

Other Media