Kampanye Alam Berbicara Ajak Anak Muda Nikmati dan Hargai Alam Indonesia

4/29/2016


​​​​Jakarta, 29 April 2016 - Manusia Butuh Alam. Kalimat ini menjadi penutup film "Alam Berbicara" oleh Conservation International. Hutan dan laut, merupakan sandaran kehidupan manusia, namun kelestarian keduanya semakin terancam. Hari ini, sebagai bagian dari kampanye "Alam Berbicara", Conservation International (CI) Indonesia mengajak beberapa komunitas anak muda berbicara tentang peran yang bisa dilakukan oleh setiap orang untuk turut menjaga alam. Seiring dengan perkembangan ekowisata dan minat kaum muda untuk menjelajah berbagai destinasi wisata di Indonesia akhir-akhir ini, CI Indonesia menggelar diskusi bertajuk 'Be A Green Traveler' di @america, mengundang sejumlah pembicara di bidang ekowisata, konservasi dan blogger pemerhati lingkungan. Diskusi ini bertujuan membangun kesadaran dan partisipasi dalam menjaga kelestarian lokasi wisata alam di Indonesia dengan mengunjungi dan berinteraksi dengan alam secara bertanggung jawab.

Dalam dua dekade terakhir ekowisata telah menjadi lini industri yang berkembang pesat di dunia. Data The World Resources Institute (1990) mencatat bahwa pariwisata secara keseluruhan bertumbuh 4% per tahun, namun secara khusus pariwisata alam meningkat 10% - 30% per tahun. Sementara di Indonesia, sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2011 mencatat bahwa sejak 1990, pertumbuhan ekowisata mencapai 20% - 34% per tahun. Artinya, potensi ekowisata di Indonesia yang besar ini perlu dikembangkan.  

Ekowisata banyak menarik minat wisatawan karena menawarkan berbagai pengalaman unik, termasuk tinggal di kawasan yang alami dan mengenal berbagai keanekaragaman hayati. "Poin lebih dari ekowisata adalah pada penekanan di kegiatan berbasis konservasi, baik alam maupun budaya lokal. Potensi wisata ini tidak melibatkan banyak sentuhan tangan manusia yang artifisial sehingga penting untuk mengajak wisatawan untuk ikut bertanggung jawab menjaga keaslian dan kelestariannya", ungkap Tri Rooswiadji, Senior Manager for Ecosystem Services, Conservation International Indonesia.

"Bagi masyarakat lokal pun, ekowisata membangun peluang sosial dan ekonomi mereka. Dampaknya, mereka tidak lagi eksploitatif, seperti mengambil kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan menjaring ikan di laut secara terus menerus. Menciptakan kegiatan ekonomi alternatif melalui ekowisata penting bagi masyarakat yang tinggal di pegunungan dan pesisir  karena turut mengajak warga untuk menjaga sumber daya mereka dengan bijak, sehingga di kemudian hari kita tidak mengalami kerugian yang lebih besar", tambahnya.

Salah satu contoh ekonomi alternatif yang memberi manfaat besar adalah wisata Pari Manta. Spesies kharismatik ini masih banyak diburu untuk diambil insangnya dan diekspor ke Cina (dipercaya sebagai obat). Padahal studi O'Malley di tahun 2013 mengungkap bahwa seekor Pari Manta dapat berkontribusi bagi pariwisata sebesar 12 milyar Rupiah sepanjang hidupnya. Sedangkan nilai ekonomi Pari Manta yang mati karena diburu untuk insangnya hanya kurang dari 6 juta Rupiah.

Abraham Sianipar, Elasmobranch Conservation Sr. Officer, Conservation International Indonesia menyatakan, "Siklus perkembangbiakan Pari Manta sangatlah lambat, paling lambat diantara kelompok hiu dan pari lainnya. Spesies ini hanya dapat menghasilkan 1 anakan dalam kurun waktu 2-5 tahun, tergantung dari kondisi lingkungan. Kedua spesies Pari Manta yang ada di Indonesia masuk dalam daftar terancam punah di IUCN di kategori rentan (vulnerable), dan karenanya, negara memutuskan untuk memberikan status perlindungan penuh. Untuk itu, perlindungan Pari Manta sebagai aset pariwisata dan kolaborasi semua pihak sangat penting guna menjaga keberlangsungan hidupnya."

Pentingnya Kesadaran Lingkungan

Kaum muda merupakan stakeholders penting dalam sektor pariwisata. Kementerian Pariwisata di tahun 2013 mencatat, sebesar 30% wisatawan usia 15 – 34 tahun melakukan perjalanan wisata ke berbagai daerah di Indonesia. Seiring dengan perkembangan era digital, minat kaum muda untuk berbagi pengalaman wisata melalui sosial media juga semakin meningkat, dan hal ini merupakan potensi yang baik untuk membangun kesadaran lingkungan dalam berwisata. 

Namun, kurangnya kesadaran lingkungan para traveler justru dapat mengakibatkan kerusakan pada seperti penumpukan sampah plastik yang sulit terurai. Dalam wisata bahari, praktik snorkeling yang salah, seperti kayuhan fin yang tidak benar atau menyentuh dan menginjak karang juga dapat menyebabkan kerusakan dan patahnya karang.

Menanggapi hal ini, Anton Ario, Gedepahala Program Manager Conservation International Indonesia menjelaskan bahwa sampai detik ini masih banyak wisatawan yang memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tanpa simaksi (surat ijin memasuki kawasan konservasi). "Wisatawan kadang kurang paham apa pentingnya wilayah ini bagi kehidupan. Padahal kawasan ini menghasilkan  air sebanyak 231 juta meter kubik  per tahun, dan air inilah yang menyokong kehidupan 30 juta masyarakat yang tinggal disekitarnya, termasuk wilayah Jakarta", ujarnya, mengutip sebuah data dari Otto Sumarwoto (1996).

Melihat potensi kerusakan yang bisa terjadi akibat kurangnya pemahaman para penikmat alam dan jalan-jalan, Sutiknyo, seorang travel-blogger yang telah menjelajahi berbagai sudut Indonesia dan menuliskan pengalamannya di www.lostpacker.com memberikan tips, "Menjadi traveler yang bisa keliling di banyak tempat di nusantara itu keren, tapi lebih keren lagi kalau ikut andil menjaga kelestarian. Paling tidak dari diri kita sendiri, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Syukur-syukur bisa membantu masyarakat lokal menjaga kearifan lokalnya. Alam cuma minta sedikit kepedulian dari kita, tapi alam memberikan segalanya untuk kita."

Upaya pelestarian alam tentunya pekerjaan yang tidak mudah dan tidak dapat dilakukan sendiri, namun membutuhkan dukungan setiap orang. Melalui Kampanye Alam Berbicara, Conservation International mengajak masyarakat untuk mendengar cerita dari alam, mendiskusikan tantangan-tantangan yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan bersama untuk membantu upaya ini, termasuk para generasi muda yang dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya. Dengan aksi kecil ajakan untuk menikmati dan menghargai alam ketika berwisata, diharapkan ke depan akan tumbuh banyak inisiatif baru yang semakin menggaungkan pesan untuk menjaga kelestarian alam.

Tentang Conservation International Indonesia

Sejak 1987, Conservation International telah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui kepedulian alam.  Kami bekerja untuk memastikan dunia yang sehat dan produktif untuk semua karena "manusia memerlukan alam untuk bertahan hidup"  Dibangun di atas sebuah fondasi sains, kerjasama dan demonstrasi lapangan yang kokoh, CI membantu masyarakat untuk peduli alam yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, bio diversitas dunia untuk kesejahteraan manusia.

CI telah bekerja di Indonesia sejah 1991, mendukung upaya konservasi untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.  CI Indonesia membayangkan dunia yang sehat, sejahtera dimana masyarakat senantiasa berkomitmen untuk peduli dan menunjung tinggi alam untuk manfaat jangka panjang bagi masyarakat Indonesia dan kehidupan di dunia.  CI menawarkan hasil konservasi berdasarkan tiga pilar fundamental dan terhubung satu sama lain yaitu: perlindungan kekayaan alam, tata kelola yang efektif dan produksi yang berkelanjutan.  Dengan prinsip panduan bahwa manusia membutuhkan alam untuk makanan, minum, kesehatan dan kesejahteraan hidup – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia untuk memastikan sebuah dunia yang sehat, lebih sejahtera yang mendukung kesejahteraan manusia.

Pelajari lebih jauh tentang CI Indonesia dan kampanye 'Alam Berbicara' dan ikuti karya CI Indonesia di Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube.

Tentang Kampanye Alam Berbicara

Kampanye "Alam Berbicara" bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa alam perlu dijaga dan dilestarikan dalam rangka mengatasi perubahan iklim. Kampanye ini menggunakan empat film tentang alam yang menekankan bahwa "Alam Tidak Butuh Manusia. Manusia Butuh Alam Untuk Hidup."

Kampanye ini dimulai di kantor pusat CI dengan judul "Nature is Speaking" melalui duabelas film yang memberi suara kepada alam. Uniknya, suaranya adalah bintang-bintang kelas atas Hollywood. Mereka mendonasikan waktu dan keahlian mereka sebagai suara alam.

Indonesia adalah salah satu negara, dengan dukungan tokoh publik, yang menarasikan film ini dalam bahasa Indonesia. Empat film disuarakan oleh pesohor-pesohor Indonesia, Christine Hakim, Lukman Sardi, Pandji Pragiwaksono dan Najwa Shihab. Mereka berperan sebagai Ibu Pertiwi, Samudra, Hutan, dan Air. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan perspektif mereka tentang kondisi alam saat ini dan bagaimana kita bisa merubahnya melalui Behind the Scene.

Kontak Media

​Regina Nikijuluw

Communications Manager

Sustainable Landscapes Partnership

Conservation International Indonesia​


​​​​​Images Slideshow Carousel (half page)

Carousel Configuration​

EditCarousel Title:
Edit Carousel Orientation:leftLeft
    EditAnchor tag for sticky nav (optional):[Optional]
    EditImage RenditionID Small:15[Optional]
    EditImage RenditionID Webkit:17[Optional]
    EditImage RenditionID Medium:18[Optional]
    EditImage RenditionID Large:19[Optional]

    Carousel Images

    Image

    EditImage:/global/indonesia/publikasi/PublishingImages/DSC_3301.JPG
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:Sesi diskusi pertama mengenai Ekowisata di Indonesia dengan pembicara dari staf CI Indonesia.
    EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Dwikie R. Dewantoro
    Move UpMove Down​​

    Image

    EditImage:/global/indonesia/publikasi/PublishingImages/IMG_1192.JPG
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:Diskusi panel kedua mengenai Menikmati Jelajah Alam dengan Cara yang Ramah Lingkungan oleh Dayu Hatmanti, Fiona Callaghan dan Siska Nirmala.
    EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Dwikie R. Dewantoro
    Remove this imageMove UpMove Down
    Add another image...
    Remove this module
    ​​​​

    Request an Interview

    ,

    ,

    Related Content

    Other Media