Deklarasi Adat Kampung Namatota Dukung Pengelolaan KKPD Kaimana

5/17/2016

​Penandatanganan Deklarasi Adat Tunjukkan Peran Proaktif Masyarakat Dukung Sistem Zonasi Kawasan Perairan untuk Pelestarian Alam.

Kaimana, 17 Mei 2016 - Raja dan para pemuka serta masyarakat adat Namatota, Kaimana, Papua Barat sepakat menggelar deklarasi adat sistim zonasi pada Selasa 12 Mei 2016. Masyarakat adat Kampung Namatota secara adat mengundang Pemerintah Daerah dan Conservation International (CI) Indonesia untuk menghadiri penandatangan deklarasi adat sistem zonasi kawasan konservasi wilayah perairan Kaimana, khususnya petuanan masyarakat kampong namatota yang akan dilaksanakan di Namatota. Naskah deklarasi adat ini ditandatangani oleh 6 (enam) perwakilan adat, dan merupakan wujud komitmen masyarakat adat dalam mendukung program pembangunan pemerintah daerah secara berkelanjutan untuk memberi manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Dalam sambutannya, Kepala Distrik Kaimana Kota Petronela Sarara mengucapkan terima kasih kepada kerjasama baik semua pihak termasuk CI Indonesia atas diselenggarakannya deklarasi adat ini. Deklarasi ini menjadi awal dari Peraturan Daerah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. “Mudah-mudahan kita semua dapat menjaga apa yang sudah ada dalam aturan Pemerintah Daerah.”

Sementara itu, Thamrin Lamuasa, Kaimana Corridor Manager, CI Indonesia Kaimana menjelaskan bahwa deklarasi adat seperti ini merupakan arahan dari Peraturan Daerah untuk membangun komitmen bersama pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) berbasis sistim zonasi. "KKPD Kaimana dibangun berdasarkan dua hal: (1) berbasis sistem zonasi yang membagi ruang di dalam wilayah berdasarkan fungsinya, dan (2) berbasis masyarakat adat yang disesuaikan dengan hak-hak petuanan dimana masyarakat adat berada. Pengelolaan kawasan tentunya perlu memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal berbasis masyarakat adat. Dokumen penandatanganan ini juga menjadi bukti kuatnya kerjasama dan komitmen berbagai pihak di Lakahia, terutama peran dan komitmen dari masyarakat adatnya."

Di dalam Deklarasi Adat ini, masyarakat Namatota sepakat untuk mendukung sistem zonasi kawasan perairan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Kaimana Nomor 11 Tahun 2014 tentang Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Kaimana. Pengelolaan sistem zonasi KKPD berbasis masyarakat adat dan pelibatan kelompok masyarakat pengawas untuk melakukan fungsi pengawasan di wilayah perairan masing-masing, merupakan komponen penting dalam mendukung pengelolaan KKPD Kaimana.

Sehari sebelum deklarasi adat digelar, masyarakat adat akan melaksanakan upacara adat sinara (peletakan sesajian) di tiga lokasi khusus yang ada di sekitar Namatota dan diyakini sebagai daerah sakral yang dilindungi. Dalam upacara sinara, para tetua adat melakukan prosesi upacara sinara  dan berdoa kemudian dilanjutkan dengan peletakan bahan-bahan sinara (sesajian/sesajen) berupa piring putih, sirih, pinang, tembakau lilin, uang koin, telur ayam kampung dan makanan yang sudah dimasak seperti nasi, keladi, papeda serta kain putih atau merah.  Semua bahan sinara ini masing-masing satu buah diletakkan di tiga tempat di sekitar kampung antara lain di dalam kampung, tanjung Aiduma, dan teluk Triton.

Pada malam hari, para tokoh agama menggelar doa selamat yang dilaksanakan di rumah Raja Namatota, dan paginya dilanjutkan dengan penandatangan naskah deklarasi oleh masyarakat adat, disaksikan oleh pemerintah daerah dan para undangan termasuk tokoh-tokoh adat dari kampung terdekat dan masyarakat. Pada kesempatan ini, Raja Namatota, Randi A. Ombaier mengajak masyarakat khususnya masyarakat pesisir Namatota dan sekitarnya untuk menjaga perairan di sekitar kampung demi anak cucu di masa yang akan datang.

Modal dasar tiga tungku pembangunan (adat, agama, dan pemerintah) sebagai dasar pembangunan daerah Kaimana, diharapkan dapat menjadi satu bagian yang saling mendukung dalam pelaksanaan pembangunan KKPD di Kaimana. Pelibatan tiga unsur: adat, agama, dan pemerintah, ini menjadi bagian integral yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, guna mendukung pembangunan daerah Kaimana.

Zona KKPD di dalam Distrik Kaimana Kota

Kampung Namatota bersinggungan dengan dua zona konservasi perairan daerah, yaitu zona pemanfaatan dan zona perikanan berkelanjutan. Secara keseluruhan, luas wilayah pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kaimana adalah 508.324 hektar. Sedangkan luas wilayah pengelolaan KKPD di distrik Kaimana Kota yakni 122.586 ha atau sekitar 24% dari luasan KKPD Kaimana, dengan perincian: zona pemanfaatan (11.184 ha), zona perikanan berkelanjutan (97.293 ha), dan zona perlindungan danau (14.109 ha).

Wilayah pengelolaan distrik Kaimana Kota terdiri dari dua wilayah perairan utama yaitu Teluk Triton dan Teluk Bicari yang merupakan daerah lumbung ikan Kaimana khususnya ikan karang. Selain itu perairan Kaimana menjadi jalur migrasi dan habitat beberapa jenis cetacean dan manta ray.

Kelompok Masyarakat Pengawas untuk Menjaga Kawasan

Sejak 2011, Conservation International Indonesia (CI) bersama pemerintah daerah kabupaten Kaimana bekerjasama membangun sistim pengawasan terpadu yang melibatkan kelompok masyarakat adat untuk melakukan pengawasan di wilayah masing-masing. Tim ini secara rutin melakukan pengawasan dan penjagaan wilayah perairan Kaimana.

Terdapat dua tim dalam satu kelompok Pokmaswas yang melakukan patroli pengawasan dalam dua minggu sekali secara bergantian. Melalui proses pengawasan partisipatoris ini, kegiatan pemanfaatan perairan dapat langsung diawasi oleh masyarakat adat setempat. Salah satu dampak nyata yang terlihat adalah tidak ditemukan lagi penggunaan bom, dan ke depannya diharapkan agar masyarakat dapat mengurangi penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan di wilayah perairan Kaimana.   ​

Sampai saat ini sudah terbangun 11 pos di wilayah Kaimana, 22 kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) di empat distrik, terdiri dari 112 orang anggota Pokmaswas antara lain:

  • Enam pos di Wilayah Buruway (pos Karawawi, Katumin, Kambala, Waranggera, Karawatu dan Venu) dengan 59 orang anggota;
  • Satu pos diwilayah Arguni, yaitu pos Tugarni grup dengan 10 orang anggota;
  • Dua pos diwilayah Kaimana, yaitu pos Fifes di Pulau Serui dan Nusrom dengan 22 orang anggota; dan
  • ​​Dua pos diwilayah Etna, yaitu pos Lakahia dan Iwaasa dengan 21 anggota.

Selain melakukan pendampingan terhadap pokmaswas, CI Indonesia juga mendorong partisipasi masyarakat adat di kampung-kampung pesisir untuk mendeklarasikan sistim zonasi berbasis masyarakat adat dan untuk memaksimalkan tujuan konservasi. CI Indonesia juga melibatkan semua mitra di Kaimana dalam hal ini, termasuk Pemerintah Daerah Kaimana, para tokoh adat, pemerintah kampung dan para tokoh agama untuk  bersama mendukung program pemerintah daerah tentang KKPD Kabupaten Kaimana. Beberapa deklarasi adat yang pernah dilaksanakan antara lain,  deklarasi adat di Nusaulan, Tugarni, Kambala, Daramai, Lakahia dan  Namatota. Selanjutnya, CI Indonesia juga akan mendorong lahirnya deklarasi adat sistim zonasi ini pada masyarakat adat yang ada disekitar kampung-kampung di wilayah Adijaya, Bicari, Sawi group dan Arguni bawah.​

--SELESAI--

Tentang Kampung Namatota

Populasi penduduk yang menghuni wilayah pengelolaan KKPD kaimana sebanyak 3.053 jiwa dan tersebar di 10 kampung. Sebagian besar kampung-kampung ini menempati pulau tanah besar Papua. Namatota merupakan satu satu kampung yang berada di pulau. Secara geografis kampung-kampung ini ada di wilayah pesisir, sehingga sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Oleh karena itu, pemanfaatan kawasan perairan yang ramah lingkungan diharapkan dapat menjadi solusi alternatif bagi pengembangan perikanan dan pariwisata berkelanjutan di Kaimana.

Kampung Namatota merupakan bagian dari distrik Kaimana Kota yang terletak di salah satu pesisir pantai Kabupatan Kaimana, berjarak sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kabupaten Kaimana. Namatota merupakan kampung terpadat di dalam kawasan KKPD Kaimana, terdiri dari 149 Kepala Keluarga (KK), berpenduduk 646 jiwa atau 21% dari total penduduk yang menghuni wilayah pengelolaan KKPD Kaimana. Mayoritas penduduknya (98%) bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional dan petani. Di dalam kawasan KKPD Kaimana, kampung dengan jumlah penduduk terkecil (111 jiwa) adalah  Kampung Warika.

Teluk Triton

Wilayah perairan Teluk Triton merupakan sentral dari pengelolaan KKPD Kaimana dan merupakan habitat dari Paus Bride. Selain itu, hiu paus (whale shark) juga dapat ditemui di perairan ini karena berlimpahnya ikan teri sebagai sumber makanan paus Bride dan hiu paus yang sering bermain di antara bagan-bagan di yang beroperasi di Teluk Bitsyari.

Kawasan perairan Teluk Triton juga menjadi habitat bagi beberapa spesies mamalia laut yang menurut IUCN (2012) diklasifikasikan dalam status endangered (EN) atau mengalami penurunan populasi yang signifikan dan data deficient (DD) atau Data Kurang. Beberapa jenis cetacean yang dilaporkan ada dalam kawasan ini adalah paus Bryde, Indo-pacific humpbacked dolphin dan Dugong  dugong. Selain itu ada beberapa jenis lumba-lumba lainnya dalam status IUCN di luar EN dan DD.

Eksotisme bawah laut Teluk Triton dengan keindahan panorama yang cukup bagus sangat cocok untuk dijadikan pengembangan daerah tujuan wisata alam. Keberadaan  pulau-pulau karst  yang menjulang dan saling berdekatan di wilayah ini membentuk labirin di kawasan teluk Triton dan menambah eksotisme keindahannya. Aneka jenis terumbu karang, spesies ikan dan keindahan alamnya juga membuat wilayah ini sangat perlu dilestarikan dan dimanfaatkan dengan konsep yang ramah lingkungan. 

Deklarasi Adat sebelumnya di Lakahia

Sebelum Deklarasi di Namatota, dalam kawasan KKPD Kaimana juga telah dilakukan Deklarasi Adat di Lakahia, Distrik Teluk Etna pada Selasa, 19 April 2016. Masyarakat adat Kampung Boiya, Distrik Teluk Etna (Lakahia), Kaimana, Papua Barat, bersama dengan pemerintah daerah menggelar deklarasi adat untuk bersama mendukung program pemerintah dalam melakukan pembangunan daerah secara berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan ini diharapkan memberikan manfaat kesejahteraan bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Kaimana.

Distrik Teluk Etna, Lakahia, merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kaimana seluas 508.324 ha. Kampung Boiya, tempat acara berlangsung terletak di salah satu pesisir pantai Kabupatan Kaimana, berjarak dua jam perjalanan ke pusat Distrik Teluk Etna dan lima jam ke pusat pemerintahan Kabupaten Kaimana menggunakan kapal cepat. Di Kampung Boiya seluas 311 km2 ini, 77% penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional dan petani.

Di dalam Deklarasi Adat ini, masyarakat Lakahia sepakat untuk mendukung sistem zonasi kawasan perairan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Kaimana Nomor 11 Tahun 2014 tentang Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Kaimana. Daerah Lakahia bersinggungan dengan tiga zona konservasi perairan, yaitu zona inti, zona pemanfaatan dan zona perikanan berkelanjutan.

Di zona inti seluas 2.227 ha, terdapat banyak pulau karst dan gua-gua besar dengan hamparan mangrove yang sangat luas. Di kawasan ini tutupan karang dengan persentase 13,5% berada di kedalaman 5 meter, dan 13% pada kedalaman 10 meter. Sementara di zona pemanfaatan Lakahia seluas 10.892 ha terdapat 205 spesies ikan. Kawasan ini juga merupakan jalur perlintasan setacean (mamalia laut), tempat penyu belimbing mencari makan dan kaya akan sumberdaya shellfish seperti lola, teripang, batulaga, dan kima.

Adapun Zona Perikanan Berkelanjutan seluas  77.088 ha memiliki potensi perikanan yang besar dan berperan sebagai lokasi konservasi hiu. Di wilayah ini juga terdapat hutan mangrove alami sangat luas yang juga membutuhkan upaya perlindungan dan konservasi. Pada kawasan ini juga dibangun sistem zonasi zona, yaitu kawasan perlindungan danau karena kelestarian ekosistem danau  sangat penting bagi keberlanjutan sumber perikanan dan pariwisata alam.

Tentang Conservation International

Sejak tahun 1987, Conservation International telah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui perlindungan alam. Dengan panduan prinsip bahwa alam tidak butuh manusia, namun manusia yang membutuhkan alam untuk makanan, air, kesehatan, dan mata pencaharian – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia, untuk memastikan sebuah planet yang sehat dan sejahtera yang dapat mendukung kesejahteraan manusia.

Conservation International telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1991, mendukung upaya konservasi dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. CI Indonesia membayangkan Indonesia yang sehat sejahtera dimana masyarakatnya berkomitmen untuk menjaga dan menghargai alam untuk manfaat jangka panjang masyarakat Indonesia dan kehidupan di bumi. CI mencapai tujuan konservasi berdasar tiga pilar fundamental yang terhubung: menjaga kekayaan alam, tata kelola yang produktif, dan produksi berkelanjutan. ​

Dengan panduan prinsip bahwa manusia butuh alam untuk makanan, air, kesehatan, dan sumber mata pencaharian – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia untuk memastikan planet yang lebih sehat yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.conservation.or.id, dan akun sosial media Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube.

Kontak Media:

​Ping Machmud

Kaimana Communications Officer

Conservation International Indonesia

HP 0812 2942 3572


​​​​​Images Slideshow Carousel (half page)

Carousel Configuration​

EditCarousel Title:
Edit Carousel Orientation:leftLeft
     
    EditAnchor tag for sticky nav (optional):[Optional]
    EditImage RenditionID Small:15[Optional]
    EditImage RenditionID Webkit:17[Optional]
    EditImage RenditionID Medium:18[Optional]
    EditImage RenditionID Large:19[Optional]

    Carousel Images

    Image

    EditImage:/global/indonesia/publikasi/PublishingImages/Thamrin%20La%20muasa%20dan%20tim%20ekspedisi%20NKRI1.jpg
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:Thamrin Lamuasa dan Tim NKRI.
    EditPhoto Credit:© Conservation International Indonesia
    Move UpMove Down​​

    Image

    EditImage:/global/indonesia/publikasi/PublishingImages/peletakan%20Sinara%20Raja%20Namatota%201a.jpg
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:Peletakan Sinara Raja Namatota
    EditPhoto Credit:© Conservation International Indonesia
    Remove this imageMove UpMove Down

    Image

    EditImage:/global/indonesia/publikasi/PublishingImages/Doa%20selamat1.jpg
    EditImage Alt Text:
    EditCaption Title:
    EditCaption Description:Doa selamat
    EditPhoto Credit:© Conservation International Indonesia
    Remove this imageMove UpMove Down
    Add another image...
    Remove this module
    ​​​​

    Request an Interview

    ,

    ,

    Related Content

    Other Media