​​​​​​
Program CI Indonesia
 

Program Terest​rial 

Sebelumnya, program terestrial CI Indonesia berfokus pada perlindungan spesie​s dan p​enelitian. Selanjutnya, CI Indonesia mulai menjalin kemitraan dengan banyak pihak antara lain Taman Nasional, media, masyarakat, dan universitas untuk mendukung Pemerintah ​​Indonesia dalam upaya konservasi yang lebih luas. Beberapa program yang dilaksanakan juga semakin berkembang tidak terbatas pada penelitian dan perlindungan spesies, namun juga penegakkan hukum, edukasi masyarakat, penguatan kapasitas, perencanaan tata ruang, reforestasi, dan monitoring.

Program terestrial juga terus berinovasi dalam menjawab tantangan pembangunan, beberapa diantaranya yakni pengenalan inisiatif-inisiatif baru program konservasi darat yang mendorong model pembangunan berkelanjutan, memperkenalkan model pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan dan mendukung ketahanan pangan, mendukung kebijakan pembayaran jasa ekosistem, serta mendukung target Pemerintah dalam pengurangan emisi karbon.

Selain bermitra dengan berbagai pihak dalam melaksanakan program, CI Indonesia juga berperan strategis sebagai mediator dalam penghapusan utang Pemerintah Indonesia sebesar 30 juta USD kepada Amerika Serikat melalui Tropical Forest Conservation Act (TFCA). Program TFCA ini berjalan sejak tahun 2010, dan dilaksanakan oleh Yayasan Kehati melalui penyaluran mekanisme hibah kepada beberapa LSM lokal yang ada di Sumatera, dalam melestarikan sejumlah kawasan prioritas di Sumatera Utara. Pada tahun 2014 TFCA diperbarui dengan nilai program mencapai 12 juta USD, dan CI Indonesia terus melanjutkan perannya sebagai Ketua Oversight Committee yang berperan dalam memberikan arahan serta pengawasan pelaksanaan program oleh LSM terpilih.

Saat ini, program terestrial CI Indonesia bekerja di Sumatera Utara dan Jawa Barat. Di Sumatera Utara, CI Indonesia merancang program untuk menyelamatkan mosaik Kawasan Keanekaragaman Hayati Kunci (Key Biodiversity Areas atau KBA) sebagai modal alam pembangunan Sumatera yang berkelanjutan. 

Sustainable Landscapes Partnership (SLP)

SLPtypelocked_teal.pngProgram Sustainable Landscapes Partnership (SLP) bekerjasama dengan pemerintah lokal dan mitra sektor swasta untuk melindungi alam dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat Indonesia. Dengan dukungan SLP, pemerintah, masyarakat, pelaku usaha dan LSM berkolaborasi untuk mengembangkan dan mengujicoba solusi inovatif berbasis bentang alam untuk mengatasi masalah yang disebabkan oleh tekanan manusia kepada alam. Tujuannya adalah mengembangkan jalur pembangunan berkelanjutan yang melindungi sumber pangan, air bersih, mata pencarian, serta iklim, yang menjadi peran penting alam untuk jangka panjang  bagi kehidupan kita. 

 Solusi-solusi yang dikembangkan melalui dukungan SLP mencakup perencanaan tata ruang yang cerdas, pengelolaan hutan yang baik, produksi pertanian berkelanjutan dan rantai suplai hijau. SLP menyediakan informasi dan alat-alat yang dibutuhkan mitra untuk membuat keputusan yang akurat. SLP juga memfasilitasi perjanjian-perjanjian di antara para mitra dan bekerja dengan mereka dalam mengembangkan dan mengujicoba kegiatan intervensi terarah. Untuk mencapai hasil yang maksimal, SLP membantu mitra-mitranya menyelaraskan kegiatan intervensi tersebut dengan kebijakan dan proses lain yang sudah ada di tingkat lokal, provinsi dan nasional. SLP kemuian melakukan replikasi dan amplifikasi melalui hibah, pelatihan, dan program lainnya. 

 Rangkaian kerja SLP yang terintegrasi memungkinkan munculnya cara baru dalam berbisnis bagi siapa saja yang memanfaatkan alam di wilayah-wilayah daerah aliran sungai utama di dua bentang alam utama di Indonesia – Sumatera Utara dan Papua Barat. Beberapa aktivitas kami termasuk Kajian Lingkungan Hidup Strategis, penilaian ekosistem, penghitungan karbon dan tata ruang untuk instansi pemerintahan; perjanjian konservasi untuk masyarakat; rencana aksi berkelanjutan dan panduan praktik pengelolaan terbaik untuk mitra sektor swasta, dan pelatihan mata pencarian dan peningkatan akses pasar bagi petani untuk komoditi seperti kopi dan karet. 

Secara keseluruhan, SLP memfasilitasi komunikasi strategis lintas sektor sehingga para mitra dapat menghubungkan kegiatan-kegiatannya dan berkolaborasi untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan di bentang alamnya. Dilaksanakan oleh Conservation International (CI) dengan pendanaan dari USAID dan Walton Family Foundation, SLP adalah program utama CI untuk mendukung masyarakat sehat dan berkelanjutan.

Untuk mempelajari program ini lebih lanjut, silakan kunjungi:

www.conservation.or.id/slp

Sustainable Agriculture Landscapes Partnership (SALP)

SALP.pngPraktik-praktik pertanian berkelanjutan dan konservasi sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang meningkat serta menjaga lingkungan. Untuk mencapai sebuah pertanian berkelanjutan, kawasan alam prioritas di dalam lahan pertanian perlu diidentifikasi dan dilindungi. Selain itu, praktik-praktik pertanian berkelanjutan juga harus ditingkatkan di dalam lahan pertanian yang dikelola saat ini serta mencegah perluasan ke dalam kawasan alam yang penting.

Proyek Sustainable Agriculture Landscapes Partnership (SALP) bertujuan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Pakpak Bharat melalui peningkatan produksi pertanian, pelestarian keanekaragaman hayati dan sumber daya alam, serta peningkatan mata pencaharian petani. Pakpak Bharat, Sumatera Utara dipilih sebagai lokasi proyek karena secara geografis merupakan titik penting sebagai koridor keanekaragaman hayati di Sumatera Utara. Selain itu, kabupaten ini juga memiliki potensi yang tinggi bagi pertanian berkelanjutan dan konservasi hutan.

Melalui pelatihan dan pendampingan bagi petani dan dinas pemerintah lokal yang terkait untuk peningkatan keterampilan dan kapasitas dalam pertanian berkelanjutan, proyek ini juga memperkenalkan dan menerapkan praktik-praktik terbaik bersama masyarakat lokal untuk mendukung rehabilitasi hutan dan menjaga sumber air.

Pada skala yang lebih besar, proyek ini bertujuan untuk mendukung komitmen pemerintah Indonesia mencapai kedaulatan pangan, sekaligus pada saat yang sama juga mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi. Model sukses dari proyek ini akan memberikan masukan strategis bagi pemerintah lokal dalam menciptakan kebijakan dan model bagi pertanian berkelanjutan dan praktik-praktik konservasi. Selain itu, praktik-praktik terbaik dari proyek ini juga akan menyediakan sebuah model yang dapat direplikasikan pada lokasi lain di Indonesia.

 Untuk mempelajari program ini lebih lanjut, silakan kunjungi:

www.conservation.or.id/salp

"Dinding Hijau" Gedepahala

 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Gedepahala) adalah dua kawasan konservasi penting di Pulau Jawa. Terletak dekat dengan kota-kota besar termasuk Jakarta, Gedepahala melindungi dan menjaga pasokan air tawar untuk kebutuhan 30 juta orang. Gedepahala juga menjadi habitat sejumlah satwa langka termasuk Owa Jawa (Hylobates moloch), Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Surili (Presbytis comata), dan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).

Sejak tahun 2008, bersama mitra dan masyarakat sekitar Gedepahala, CI Indonesia mengembangkan program "Dinding Hijau" (Green Wall) dengan tujuan utama mengembalikan ekosistem di kedua taman nasional tersebut karena keduanya memiliki nilai penting dan memberikan manfaat secara langsung untuk masyarakat. Program Green Wall memiliki tiga kegiatan utama yaitu konservasi hutan, pendidikan lingkungan, dan konservasi satwa terancam punah.

Program konservasi hutan mengajak individu, masyarakat, perusahaan, dan pemerintah untuk bahu membahu memperbaiki ekosistem Gedepahala sekaligus meningkatkan manfaat hutan untuk masyarakat dan alam sekitar. Sekitar 50 perusahaan telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan CI Indonesia dan mitra program ini di lapangan; antara lain tanam pohon, adopsi pohon, agroforestry, penelitian, pengembangan ekonomi masyarakat, dan pendidikan lingkungan. 

Untuk program pendidikan konservasi, CI Indonesia bersama mitra mengembangkan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di PPKAB, pengunjung dapat menjelajahi beberapa jalur di dalam hutan tropis, termasuk jembatan kanopi yang menjadi lokasi ideal bagi pengunjung untuk melihat hubungan antara manusia dan hutan. CI Indonesia juga mengembangkan program mobil unit konservasi, yang ditujukan bagi masyarakat di sekitar taman nasional maupun pelajar umum untuk meningkatkan pengetahuan tentang lingkungan sekaligus memperkenalkan konsep konservasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara untuk kegiatan penyelamatan satwa terancam punah, kami fokus pada penyelamatan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan Owa Jawa (Hylobates moloch). Sebagai satu-satunya spesies predator yang tersisa di Pulau Jawa,  penyelamatan Macan Tutul Jawa dilakukan melalui penelitian dan pemantauan berkelanjutan menggunakan kamera trap. Sedangkan untuk konservasi Owa Jawa, kami bersama dengan mitra membangun Javan Gibbon Center (JGC) di tahun 2003 sebagai sebuah fasilitas yang fokus pada rehabilitasi dan penelitian non-invasif terhadap kesehatan, perilaku, dan ekologi dari Owa jawa. JGC bertujuan merehabilitasi Owa Jawa yang sebelumnya menjadi hewan peliharaan agar siap dilepasliarkan ke habitat alaminya di hutan, melalui pengembalian perilaku alami dan perawatan kesehatan.

gedepahala.jpg

Program Kelautan CI Indonesia

Sejak tahun 2004 CI Indonesia telah mengembangkan program kelautannya dengan memulai program Bentang Alam laut di kepala Burung/ Bird's Head seascape, dan sekaligus memperkenalkan pendekatan jejaring kawasan konservasi laut sebagai strategi pencapaian tata kelola laut yang lestari. Program ini kemudian diperluas di Pulau Bali dan Anambas Natuna. Program kami mengutamakan kemitraan dengan berbagai sektor di tingkat lokal, nasional, sampai internasional dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang efektif, dukungan tata kelola, dan perlindungan sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia.

Pelembagaan upaya konservasi sumber daya pesisir dan laut merupakan komponen penting bagi Program Kelautan CI Indonesia.  Upaya ini dilaksanakan melalui pengembangan regulasi dan kebijakan di tingkat lokal hingga tingkat nasional berdasarkan pembelajaran dan model yang dikembangkan di lapangan.  Saat ini, upaya pelembagaan ini telah membuahkan hasil yang penting bagi Pemerintah Indonesia, antara lain, peraturan yang terkait dengan perlindungan hiu paus dan pari manta di tingkat nasional, pengembangan jejaring KKP, dan peraturan yang menetapkan standar kompetensi kerja bagi pengelola kawasan konservasi perairan.

Seiring tantangan yang terus berkembang, serta dalam rangka mendukung capaian rencana strategis Pemerintah Indonesia, CI terus melakukan inovasi dalam pengembangan inisiatif-inisiatif program baru, antara lain Blue Carbon, pengembangan pendanaan berkelanjutan bagi BLKB, dan implementasi upaya konservasi yang terintegrasi dari darat – laut (Ridge to Reef) untuk mendorong upaya konservasi yang sukses di Indonesia.

Bird's Head Seascapes (BHS) atau Bentang Laut Kepala Burung (BLKB)

Screen Shot 2015-06-26 at 1.33.09 PM.pngProgram Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) atau Bird's Head Seascape dimulai pada tahun 2004 dengan tujuan untuk mengelola sumber daya laut dan pesisir di BLKB Papua Barat secara berkelanjutan. Program ini merupakan kolaborasi antara Conservation International (CI) Indonesia dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat dan sejumlah pemerintah kabupaten di Papua Barat, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan mitra Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) termasuk The Nature Conservancy (TNC) dan the World Wide Fund for Nature (WWF), serta beberapa mitra lokal lainnya. Kolaborasi ini memastikan ketahanan pangan dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati bentang laut yang menjadi pusat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia.

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) berlokasi di sebelah barat laut Papua di Indonesia, terbentang dari sebelah Timur Teluk Cendrawasih, Kepulauan Raja Ampat di  sebelah Barat, hingga pesisir FakFak-Kaimana di sebelah Selatan. Terumbu karang dan hutan bakau di BLKB ini merupakan sistem pendukung penting bagi lebih dari 761.000 orang. Bentang laut ini juga berlokasi di Coral Triangle, sebuah kawasan laut di bagian barat Samudera Pasifik yang merupakan pusat keanekaragaman hayati kelautan dunia. Setelah satu dekade program konservasi ini dilaksanakan, BLKB sekarang menjadi sebuah model global untuk konservasi yang didorong dari tingkat masyarakat, dan berhasil menurunkan ancaman-ancaman yang ada seperti metode penangkapan ikan yang merusak dan penangkapan ikan yang berlebihan.

BLKB terdiri dari jaringan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) pertama di Indonesia, terdiri dari 15 KKP yang melindungi kawasan seluas hampir 3,6 juta hektar dengan sejumlah habitat pesisir dan laut yang sangat penting. Jaringan KKP ini melindungi lebih dari 30% habitat laut yang penting di Papua, serta mencakup lebih dari 16% total kawasan laut di Papua.

Sejumlah upaya dari tim BLKB dan mitra kami diarahkan menuju penguatan secara langsung di KKP Kepala Burung, serta mendukung kebijakan lintas sektoral, tata kelola, pendidikan, pemantauan, dan inisiatif pembiayaan untuk memastikan masa depan yang berkelanjutan di BLKB. Beberapa inisiatif lainnya juga dilaksanakan di BLKB bersama dengan mitra kami, antara lain Blue Carbon, proyek peningkatan kualitas perikanan, pengembangan wisata berkelanjutan, penelitian spesies terancam punah, dan peningkatan kapasitas untuk pengelolaan sumber daya kelautan.

Untuk mempelajari program ini lebih lanjut, silakan kunjungi:

http://birdsheadseascape.com/

Jejaring Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Bali

Screen Shot 2015-06-26 at 1.33.40 PM.pngProvinsi Bali disebut sebagai "Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional". Seiring dengan pertumbuhan industri pariwisata tersebut, Provinsi Bali juga menghadapi tantangan kompleks terutama terkait dengan ancaman pertumbuhan industri terhadap kelangsungan sumberdaya alam, khususnya air, ekonomi, sosial dan budaya.

Untuk mengatasi tantangan ini, upaya-upaya konservasi yang fokus pada lingkungan laut dan perairan menjadi sangat penting. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan yang holistik terhadap Provinsi Bali secara menyeluruh sebagai satu pulau, untuk sebuah hasil yang signifikan.

Sejalan dengan filosofi masyarakat Bali, tri hita karana, program konservasi kelautan CI Indonesia di Bali bekerja untuk mempromosikan pentingnya alam dan budaya di Bali sebagai aset bagi wisata berkelanjutan dan mata pencaharian lokal. Selain itu, kami juga memberikan pendampingan teknis kepada Pemerintah Provinsi Bali (9 kabupaten) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam membangun 73.000 ha jejaring Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Pulau Bali. 

Untuk itu, CI Indonesia mengembangkan program Jejaring KKP Bali yang mendorong pembentukan kawasan konservasi perairan di masing-masing kabupaten/kota, sesuai dengan mandat Perda No. 16/2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Bali, yang menuntut pembangunan dengan pendekatan pengelolaan satu kawasan pulau sebagai satu bentang alam dan budaya (one island one management). Sejalan pula dengan konsep pentingnya pengelolaan bentang darat dan bentang laut yang terintegrasi, pengembangan KKP di Bali tidak hanya menyasar kawasan laut tapi juga kawasan perairan di darat yaitu danau.

Program jejaring KKP Bali merupakan jejaring KKP pertama pada skala pulau yang dikembangkan berlandaskan keterkaitan aspek tata kelola dan administratif, di samping keterkaitan aspek biofisik. Melalui jejaring KKP Bali, perlindungan sumber daya alam dan budaya akan memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat, baik terhadap aspek perikanan maupun pariwisata.

Untuk mempelajari program ini lebih lanjut, silakan kunjungi:

http://nyegaragunung.net/

Anambas – Natuna Seascapes

Sekelompok ikan di perairan Anambas (CI-Mark Erdmann).jpgBentang laut Anambas – Natuna memiliki keanekaragaman hayati laut dan pesisir terbaik di bagian barat Indonesia. Pada bentang laut ini terdapat banyak terumbu karang, hutan bakau, dan ekosistem rumput laut, yang mendukung kumpulan kehidupan laut yang sangat ber​agam, serta perikanan yang penting. Selain keanekaragaman hayati laut dan pesisirnya, bentang laut ini juga memiliki peran signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sektor minyak dan gas, serta lokasinya yang strategis di perbatasan dekat Laut Cina Selatan.

Saat ini, CI Indonesia bekerja di bentang laut Anambas – Natuna untuk mendukung pengelolaan berbasis ekosistem terintegrasi di kepulauan Anambas – Natuna, Indonesia. CI Indonesia bekerja dengan pemerintah, sektor swasta, peneliti/ilmuan, dan masyarakat setempat untuk menyeimbangkan pemanfaatan kawasan untuk pertumbuhan ekonomi, termasuk minyak dan gas, perikanan, dan pariwisata, dengan konservasi terumbu karang dan ekosistem bakau, dan kawasan pembibitan ikan.

Di Kabupaten Anambas, CI Indonesia telah membantu pengembangan Kawasan Konservasi Perairan di Anambas seluas 1.262.686 hektar yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. 37/2014. Hingga saat ini, CI Indonesia terus berkomitmen dengan memberikan pendampingan dan peningkatan kapasitas bagi pemangku kepentingan yang ada di KKPN Anambas. Tujuan besar yang hendak dicapai di KKPN Anambas adalah menjadikan kawasan konservasi sebagai kawasan yang memberikan manfaat ekonomi melalui ketersediaan bahan baku perikanan dan pariwisata berskala internasional. Di Kabupaten Natuna, CI Indonesia juga akan melakukan pengembangan dan penguatan Kawasan Konservasi Perairan.

Kesuksesan model program ini akan menjadi masukan strategis bagi Pemerintah Indonesia untuk sebuah kemitraan publik-swasta antara pemerintah, sektor migas, dan LSM dalam mengelola Kawasan Konservasi Perairan. Selain itu, model sukses dari program ini dapat direplikasi  dan amplifikasi ke skala yang lebih besar di tingkat nasional dan internasional​​​​​