Bakteri
 

Oleh: Harmastini I. Sukiman

Keanekaragaman mikroba endofitik asal Taman Nasional Batang  Gadis, Sumatera Utara sudah berhasil dikumpulkan dan  menghasilkan sejumlah besar koleksi mikroba  diantaranya berkhasiat sebagai anti bakteri.

Koleksi mikroba yang dikumpulkan dari TN Batang Gadis tersebut adalah terdiri dari kapang dan bakteri endofitik .  Mikroba endofitik adalah mikroba yang hidupnya didalam jaringan tanaman, khususnya xylem dan phloem, dan mempunyai hubungan khusus yang dapat bersifat saling menguntungkan dan pathogenesis dengan tanaman induknya. Biodiversitas mikroba tersebut dikumpulkan dari sejumlah tanaman hutan yang dinilai mempunyai peran dalam keseimbangan ekosistem hutan.

Koleksi mikroba endofitik dengan kode MSCI ( Micro Save Conservation Indonesia) ini disimpan dengan baik di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dan secara bertahap dilakukan skrining terhadap berbagai potensi yang dimilikinya. Salah satu yang menarik adalah kemampuannya dalam menghasilkan senyawa antibakteri. Mengantisipasi perkembangan kualitas obat di Indonesia sejalan dengan berkembangnya resistensi bakteri pathogen terhadap sejumlah obat antibiotika mendorong kita untuk menggali berbagai macam sumber penghasil senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri.

Bakteri patogen Salmonella thypi  dan Staphylococcus aureus  merupakan bakteri penyebab penyakit yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Salmonella thypi menyebabkan penyakit thypus yakni demam tifoid yang dapat menyerang semua organ tubuh manusia secara sistemik. Deman tifoid dapat menyebabkan perdarahan intestinal, komplikasi jantung, paru, dll. Penanganan penyakit thypus dilakukan dengan cara memberikan antibiotika yang dapat membunuh bakteri tersebut secara khusus maupun antibiotika dengan spektrum luas. Demikian pula halnya dengan Staphylococcus aures yang menyebabkan penyakit infeksi pada manusia seperti pneumonia, meningitis, osteomyelitis, endocarditis ,infeksi saluran kemih, dll.
Pencarian sumber obat baru dapat dilakukan dengan menskiring secara umum mikroba endofitik asal TN Batang Gadis terhadap kemampuannya menghasilkan senyawa antibakteri yang diperuntukkan melawan serangan infeksi bakteri Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus. Skrining dilakukan terhadap sepuluh jenis bakteri endofitik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil skrining menunjukkan bahwa beberapa isolat yang diuji menunjukkan adanya produksi senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pathogen. Dari 10 isolat yang diuji, 5 di antaranya menunjukkan hasil positif yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif terhadap Staphylococcus aureus. Satu diantaranya yakni MSCI 87.4 menunjukkan hasil yang superior dibandingkan dengan keempat isolate lainnya MSCI 53.1, MSCI 16.1, MSCI, 37.3, MSCI 46.5.

Sementara itu tidak satupun dari kesepuluh isolate yang diuji menunjukkan kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypii. MSCI 87.4 adalah bakteri yang diambil dari tanaman Beilschemeidia sp Ness , famili Lauraceae yang tumbuh di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara. Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama ‘huru” sedangkan di Filipina dikenal dengan nama “bagaoring”. Beilschemedia  terdiri dari 200 species yang tersebar di Negara subtropical seperti China Taiwan Afrika dan Amerika. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman obat yang kayunya apabila direbus dapat digunakan sebagai obat antimalaria selain obat sakit perut. Beranjak dari kegunaannya sebagai obat tradisional maka sangat memungkinkan bahwa  senyawa antibakteri yang berperan menangkal bakteri pathogen itu dihasilkan oleh bakteri endofitik yang berasosiasi dengan tanaman di dalam jaringan batang. Tanaman ini dikenal dengan nama Medang karena kayunya ringan dan atau kayu keras medium.Kayunya cukup baik untuk digunakan sebagai furniture, ukiran, atau bahan kayu kontruksi ringan.

MSCI 87.4 adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang .mempunyai bentuk koloni putih bening dan apabila ditumbuhkan di media Nutrient Agar, warna media akan berubah dari kuning menjadi ungu muda.Perubahan warna media tersebut diduga disebabkan karena adanya sekresi senyawa bioaktif. 
Hasil pengujian kualitatif terhadap kemampuannya menghasilkan senyawa bioaktif pada media agar menunjukkan bahwa bakteri MSCI 87.4 mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat disekitar koloni bakteri MSCI 87.4 yang cukup besar ( 24 -32 mm ).Senyawa bioaktif tersebut mulai diproduksi pada jam ke 23 yakni pada awal fase pertumbuhan stasionari dimana sel bakteri tidak lagi membelah dan tetap stabil hingga masa kematian. Hasil penelitian  ini menunjukkan bahwa ekstraksi senyawa bioaktif sebaiknya  dilakukan pada saat bakteri sudah berumur 23 jam.

Ekstraksi senyawa bioaktif dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut organik chloroform karena chloroform dapat menyerap senyawa bioaktif  secara optimal. Hasil pengujian Khromatografi Lapis Tipis ( KLT ) menunjukkan bahwa ekstrak senyawa bioaktif yang dihasilkan dengan pelarut chloroform dapat melakukan penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara optimal. Hal ini ditunjukkan  dengan terbentuknya luas zona hambat 13.66 cm2 sementara ekstrak yang dilarutkan dengan air menunjukkan luas zona hambat 4.83 cm2.

Kegiatan skrining ini menghasilkan informasi adalah bahwa bakteri MSCI 87.4 mampu menghasilkan senyawa bioaktif yang berpotensi membunuh bakteri pathogen Staphylococcus aureus. Senyawa tersebut dapat diekstrak dengan cara memperbanyak biomasa bakteri MSCI 87.4 dan selanjutnya mengekstraknya dengan pelarut organik, chloroform. Data ini ditunjang dengan batasan daya hambat bakteri terhadap senyawa bioaktif yang dilarutkan dalam air adalah 6.25 % sementara senyawa bioaktif yang dilarutkan dengan chloroform adalah 1.56 %. Skrining terhadap kemampuan mikroba endofitik dapat pula dilakukan dengan tujuan yang berbeda untuk menghasilkan suatu target tertentu. Dalam hal ini keberadaan koleksi mikroba endofitik menjadi sangat penting.

Koleksi mikroba endofitik asal Taman Nasional Batang Gadis hasil program Rapid Assesment Program yang dilaksanakan oleh Conservation International Indonesia beberapa waktu silam membuka tabir kekayaan alam Indonesia akan penemuan sumber obat baru yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Harapannya adalah bahwa kelestarian hutan TN Batang Gadis akan terus terjaga sehingga sumber obat dari mikroba alam juga akan tetap lestari.

*) Harmastini I. Sukiman, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Jl. Raya Bogor KM 46 Cibinong, Bogor.