Negeri yang Hilang Menuju Pemberdayaan
 
Fachruddin Mangunjaya
 

Negeri yang hilang itu kini menuju pemberdayaan bersama upaya mengubur ketertinggalan dan menuju Papua berkelanjutan

Tiga tahun lalu, head line cerita tentang alam di beberapa koran di Amerika dan Eropa serta seluruh dunia, mengupas habis tentang kekaguman dan kekayaan spesies yang dijumpai para peneliti dan tim Conservation International (CI) yang meng¬injakkan kaki pada kawasan negeri yang hilang atau ‘the Lost World’ yang belum pernah dijamah kaki manusia. Mereka menemukan banyak sekali jenis-jenis baru dan bahkan untuk pertama kalinya me¬ngambil gambar hidup-hidup burung cendrawasih protia, yang sebelumnya belum terpotret oleh para naturalis selama 200 tahun.

Awal Februari lalu, TROPIKA Indonesia melakukan kunjungan jurnalistik ke sana. Tapi bukan pada hutan yang tak terjamah, melainkan mengunjungi per¬kampungan yang merupakan pemilik kawasan Mamberamo, tepat disebelah ‘the Lost world’ itu berada.

Persiapan memang agak khusus di¬bandingkan dengan mengunjungi kawasan dan proyek lain dimana Conservation International menjalankan programnya. Seminggu sebelum perjalanan, wajib makan pil anti malaria, karena kawasan ini dikenal dengan nyamuk malaria yang ganas. Lalu, karena menuju kampung kecil dengan pesawat super kecil (kapasitas 350kg), saya harus menye¬suaikan barang bawaan.

Tujuannya adalah Distrik Dabra, Ibu Kota Distrik Mamberamo Hulu, Kabupaten Mamberamo Raya. Jangan membayangkan Kabupaten Mamberamo Raya adalah Kabupaten yang ramai. Ini adalaha kabupaten baru yang secara resmi dimekarkan tahun 2007. Luasnya 23.813,91 km2 setara dengan 4 kali Pulau Bali dengan jumlah penduduk 23.926 jiwa pada tahun 2006 —menurut data resmi Pemerintah. Sub-distrik (kecamatan) Memberamo Hulu saja terdiri dari delapan kampung dan dapat dikatakan sebagai kampung-kampung yang sunyi. Total penduduk kampung tersebut hanya 3000 orang. Dan penduduk paling padat adalah Kampung Dabra, dengan populasi 728 orang.

Conservation International Indonesia sejak 2001 telah terjun beberapa kali di Belantara Mamberamo dangan fokus hanya pada penda¬taan sumber daya alam, pendataan keanekaragaman hayati dan termasuk beberapa penemuan ilmiah spesies baru (lihat: Kilas Balik Conservation International di Tanah Papua). Ratusan jenis baru telah di data oleh tim peneliti CI, terkadang tim ini melibatkan gabungan dari institusi ternama, sepertl The Smithsonian Institution, Centre for International Forestry Reseach (CIFOR) dan Lembagan Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Lain dulu, lain sekarang. Strategi Conservation International telah bergeser pada fokus yang penting tentang kesejahteraan manusia. “Spesies tetap akan ada, tetapi manusia lah yang mempunyai pengaruh besar dan dapat menyebabkan kepunahannya,” kata Dr. Jatna Supriatna, Vice President Conservation International (CI) Indonesia. Karena itu menurutnya kesejahteraan manusia atau human well being, merupakan kunci penting yang dapat menyel¬a¬matkan spesies tersebut sebagai warisan dunia dan umat manusia. Sebagai langkah aksi untuk membuat kegiatan kegiatan yang terkait dengan konservasi, CI membuat lima buah pos konservasi yaitu di Dabra, Papasena Satu, Papasena Dua, Kwerba dan Kai. Pos pos ini, selain sebagai tempat berkomunikasi, juga berfungsi sebagai Mamberamo field office, tempat pertemuan masyarakat dan kegiatan lain yang terkait dengan perlunya konservasi serta sebagai tempat berkomunikasi dan pember¬dayaan masyarakat.


Pembangunan Community Centre

Sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindarkan, bahwa eksistensi sumber daya alam yang masih terjaga dengan baik, ternyata memang disebabkan pengaruh tekanan pada sumber daya tersebut dari manusia seke-lilingnya masih sangat rendah. Hal itulah yang dijumpai di kawasan ini. Air masih bersih, hutan belantara masih terjaga dan alam masih terawat dengan sendirinya.

Tetapi, tentunya membiarkan masyarakat dalam keterbelakangan, tanpa pendidikan dan minim terhadap akses kesehatan dan makanan, adalah menjadi tantangan yang tidak bisa dihindarkan. Maka, fokus dan sasaran antara dalam melestarikan alam dan membangun Papua adalah dengan cara pemberdayaan. Adapun target program ini adalah adalah memberdayakan masyarakat. Program ini sudah berjalan tahun kedua—dimulai tahun 2009— dengan bantuan dari United Development Program (UNDP) untuk memenuhi target Millenium Development Goal (MDG) didukung juga oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung dan Kesejahteraan Keluarga BPMKKK) dan rencana strategis pembangunan kampung (RESPEK) yang merupakan program Pemda Papua. “Pelestarian alam tanpa pembangunan manusai adalah sia sia, tetapi pembangunan tanpa pelestarian akan fatal,” kata Peter Kamarea, Program Manager untuk pemberdayaan masyarakat Mamberamo.

Melalui program ini, masyarakat Papua diharapkan siap menerima perubahan dan rencana pembangunan Papua yang berke¬lanjutan. Sebab diperkirakan perkembangan yang dahsyat akan terjadi di Papua karena otonomi khusus dan peluang besar untuk mendapatkan usaha di Tanah Papua. “ Saya melihat ke depan akan terjadi perubahan demografi Papua karena masuknya masyarakat pendatang (migrasi) dari luar Papua. Ini lumrah ada gula dan ada semut,“ kata Peter Kamarea memberikan alasan.

Dapat diprediksi bahwa otonomi khusus — dengan pendanaan yang besar — akan mengakibatkan tingginya laju arus migrasi dan pasti berbarengan dengan pembangunan Papua. Oleh sebab itu , menurut Peter Kamarea masyarakat Papua sendiri harus mampu mempersiapkan diri. Jadi untuk itulah, tahapan seperti yang dilakukan oleh Conservation International Indonesia di lapangan, menjadi salah satu upaya dalam mengakselerasi pem¬bangunan sumberdaya dan kapasitas ma¬syarakat di Tanah Papua.


Membangun Community Centre

Tantangan untuk membangun kawasan ini adalah tidak mudah. Sebagai komunitas masyarakat yang jauh tertinggal dibandingkan dengan bangsanya sendiri di kawasan Indonesia yang lain. Mamberamo, tengah meniti kehidupan peralihan dengan basis sebagai pengumpul menjadi masyarakat yang menetap. Dalam transisi ini, mereka masih belum dapat sepenuhnya meninggalkan tradisi lama mereka sebagai pengumpul. Maka basis penyadaran perlu disiapkan yaitu melalui ‘community centre’ yang dibangun oleh Conservation International, Pemda Papua dan UNDP. “Bangunan ini akan menjadi tempat terpadu, dari pendidikan, kesehatan hingga konsultasi pembangunan masyarakat,” kata Peter Kamarea. Selain itu, usaha ini juga memberikan kontribusi pada program yang dicanangkan oleh Gubernur Papua, Barnabas Suebu, yang membuat program Rencana Strategis Pembangunan Masyakat Kampung (RESPEK).

Adapun RESPEK mentargetkan pem¬bangunan yang berasal dari pemberdayaan masyarakat Papua, atau people driven development

Faktanya adalah, menurut Peter Kamarea, “Mereka pasti ingin menikmati pendidikan yang lebih baik, selain itu mereka ingin anak-anak mereka lebih pintar dan tidak perlu dengan merusak lingkungan.” Oleh sebab itu menurutnya, sekarang ini sedang digarap sebuah development konsep yaitu membangun Papua denga cara dibarengi dengan rencana strategis oleh orang yang mengerti membangun manusia dari kampung kampung mereka sendiri.

Ketika berkunjung ke kawasan ini, keadaan pemenuhan keperluan primer terasa sangat parah. Walaupun bangunan kesehatan (Puskesmas) telah tersedia — atas upaya dinas kesehatan yang berada di Propinsi — tetapi dokter di Puskesmas tidak ada. Ketiadaan ini juga diperburuk oleh tak tersedianya alat kesehatan dan bahkan obat-obatan. Program imunisasi tidak berjalan, puskesmas tanpa dokter.

Masyarakat yang sakit parah, terpaksa harus dirujuk ke Jayapura untuk mendapatkan bantuan dokter.

Karena itulah, sarana community centre, yang sedang dibangun oleh CI bekerjasama dengan Pemda Papua dan UNDP ini, kiranya dapat menjadi penawar atas segala kesen¬jangan pelayanan tersebut.

Salah Seorang Kepala Suku di Mamberamo, Carlos Toe, mengatakan, dengan adanya program pembangunan community centre, nantinya tempat ini dapat bisa menjadi pusat pelatihan dan pendidikan. Disamping itu, Carlos juga berharap, pusat komunitas atau community centre yang sedang dibangun ini bisa memberikan kontribusi atas kemajuan Mamberamo.