Rehabilitasi Owa Jawa
© CI/Photo by Sunarto 
Marshal Maher
 

Manusia menjadi harapan terakhir perlindungan owa jawa

Owa jawa merupakan jenis kera yang setia dan membesarkan keluarga mereka di hutan alam. Hampir setiap pagi, kera ini bernyanyi merdu sebagai alat  mereka untuk berkomunikasi satu sama lain, termasuk memberikan tanda pada keluarga lainnya, dan hal ini telah berlangsung selama ribuan tahun lamanya.

Mereka bukan manusia, mereka adalah owa jawa (Hylobates moloch) dan lagu-lagu mereka bukan lagi menjadi jaminan atas keadaan hutan dimana mereka tinggal jika kita tidak bertindak sekarang. Tentu saja, manusia merupakan ancaman terbesar bagi owa Jawa dan  tinggal di habitat terakhir seperti di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, adalah kesempatan terakhir mereka.


Di Jawa, Owa Hanya di Hutan Lindung

Pulau Jawa ukurannya sedikit lebih besar dari negara bagian New York dan dalam 40 tahun terakhir, populasi manusia di pulau ini meningkat dua kali lipat. Meningkatnya tekanan sumber daya alam mengakibatkan dampak populasi owa  di pulau Jawa turun menjadi 4.000. Jumlah individu mereka yang  sangat rendah menyebabkan IUCN mendaftarkan owa jawa dalam daftar terancam punah. 
Kini, populasi owa di Jawa sebagian besar terbatas pada kawasan lindung dan taman nasional, tempat dimana hanya sedikit hutan yang masih asli di Pulau Jawa.

Namun di pulau ini ancaman masih tetap ada. Para pemburu terkdang masih mengejar mereka disamping pemanfaatan  hutan dalam skala besar untuk pembangunan  dan perumahan juga merupakan ancaman.


Pentingnya Ekosistem

Primata seperti owa memiliki peran penting dalam ekosistem hutan karena mereka menyebarkan benih tumbuhan ke seluruh hutan. Hutan yang tersisa di mana owa tinggal berada dalam bahaya menjadi kurang beragam dan akan sedikit  keragamannya  jika owa hilang selamanya.

Oleh karena itu para ilmuwan mencoba berupaya untuk menghentikan berkurangnya owa jawa dengan cara penangkaran  sambil mengenalkan owa-owa baru ke alam liar.

Dr Jatna Supriatna dari CI mempelopori hal ini, membantu untuk melindungi dan meningkatkan jumlah owa jawa dengan memberikan  pembelaan terhadap upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi kepunahan dan derita owa. Beliau mengusung pelestarian tersebut  hingga pada dunia internasional.

Janta Supriatna, adalah seorang ahli primata terkenal yang telah bekerja dengan sejumlah mitra seperti Universitas Indonesia, Yayasan Alami dan Lingkungan Nagao Dana Jepang untuk memobilisasi program konservasi berbasis lapangan. 


Di Lapangan

Oleh sebab itulah Conservation International Indonesia, bersama dengan mitranya  Yayasan Owa Jawa, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango membuat Pusat Rehabilitasi dan Penyelamanatan Owa Jawa (Javan Gibbon Centre-JGC). .

Tujuannya adalah untuk merehabilitasi owa yang diselamatkan atau disita sebagai bagian dari perdagangan satwa liar dan memperkenalkan mereka kembali ke alam liar.

Namun, tantangannya ternyata tidak mudah. Mereka harus diberikan pasangan untuk dapat bertahan hidup di alam. Owa jawa adalah sejenis primate monogami yang tidak mudah menemukan pasangan apabila tidak dijumpainya kecocokan. Sekali mereka cocok berpasangan, maka, pasangan tersebut akan berlangsung seumur hidup.

Factsheet Owa Jawa