Jelajah Kaimana
Pulau Venu, Kampung Halaman Penyu Hijau dan Penyu Sisik

Oleh:  Wida Sulistiyaningrum

Terletak di ujung Barat Kaimana, Pulau Venu merupakan kampung halaman dari ribuan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Perjalanan ke Pulau Venu dari ibukota kabupaten Kaimana memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam dengan speed  mesin ganda 40 PK. Ombak cukup kuat di sekitar Pulau Venu karena pulau ini berhadapan langsung dengan Laut Aru. Pasir putih memanjang di sekeliling pulau ini. pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, mata akan silau dengan putihnya pasir pantai Pulau Venu. Jadi untuk anda yang ingin berkunjung ke Pulau ini, jangan lupa membawa kacamata hitam dan sunblock.

Inisiatif untuk menjaga Pulau Venu datang dari CI, yang kemudian menggandeng BKSDA, masyarakat serta tokoh adat pemilik petuanan. Sejak Februari lalu, dua orang penduduk dari kampung terdekat (Kampung Adijaya) dan satu orang staff CI melakukan pendataan sarang penyu dan merawat tukik yang menetas. Kurang dari 1 bulan, jumlah tukik yang telah dikumpulkan kurang lebih 500 ekor. Jumlah sarang yang terdata mencapai 80 lebih. Dalam waktu 1 malam, setidaknya 3 ekor induk penyu bertelur di Pulau Venu. Jumlah terbanyak yang dicatat, ada 10 ekor penyu yang naik dan bersarang di pulau Venu. Saat ini jumlah tukik yang sedang ditangkarkan dan menunggu untuk dilepas berjumlah 669 tukik, serta ada sekitar 100 sarang penyu yang sedang dijaga, untuk menunggu menetas.

Siang itu (Jumat, 25 Maret 2011), tim Resources Used Monitoring (RUM) KKLD Kaimana sampai di Pulau Venu. Lelah setelah perjalanan hampir 3 jam tidak kami rasakan begitu melihat ratusan tukik bermain dalam bak penampungan sementara. Kami begitu bersemangat untuk bermain dan memperhatikan tingkah tukik-tukik yang sedang berenang dalam bak penampungan. Tingkah kami seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

Baca Juga: KKLD Papua Barat

Belum satu jam kami berada di Pulau Venu, Bastian Sahuleka (staff CI yang melakukan pendataan penyu) berteriak memanggil kami. Sarang nomor 5 telah menetas. Beberapa ekor tukik telah muncul dari sarang nomor 5, ketika kami datang. Dengan cekatan Bastian menggali pasir di sekitar sarang agar bayi penyu ini bisa merangkak keluar. Tukik-tukik ini sangat bersemangat untuk keluar dari sarangnya. Melihat tukik menetas dan merangkak keluar dari dalam pasir, merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Malam hari, tim melakukan 3 kali patroli untuk mendeteksi jejak penyu yang naik ke pantai. Meskipun melelahkan, kami tidak mau melewatkan kesempatan untuk melihat langsung penyu bertelur. Kami berjalan menyusui pantai tanpa penerangan. Baru 15 menit berjalan, kami menemukan jejak penyu sisik yang naik ke pantai. Tapi sayang, kami hanya menemukan sarangnya saja. Setelah sarang didata dan ditandai, kami meneruskan perjalanan. Sekitar 100 meter berjalan, kami kembali menemukan jejak penyu! Kali ini kami menemukan penyu yang baru saja mulai bertelur.

Penyu hijau, sepanjang 90 cm, sedang bertelur di sarangnya. Excited, happy, amazing, kami semua merasakan hal yang sama. Penyu ini begitu tenang. Secara konstan dia mengeluarkan telurnya. Yang membuat kami kagum adalah penyu ini memiliki teknik pernafasan yang bagus, sama seperti teknik bernafas yang digunakan ibu-ibu hamil yang akan melahirkan (atau mungkin mereka ikut senam hamil sebelum bertelur).

Malam itu kami mendapatkan 6 ekor penyu yang naik dan bertelur di pulau Venu. Tapi tidak hanya itu, di Pulau Venu kita juga bisa melihat burung Maleo langsung di habitatnya. Pada sore dan pagi hari, burung Maleo sering bermain di sekitar tenda kami. Anda ingin merasakan pengalaman yang sama ? Silahkan datang ke Kaimana.

*) Wida Sulistiyaningrum adalah Kaimana MPA Campaigner Specialist, CI Indonesia.