kebakaran_hutan
SIAGA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

Kebakaran hutan, terkadang merupakan bencana ‘liar’ yang tidak terdeteksi, dan sering terjadi di kawasan-kawasan konservasi. Walaupun kawasan ini dijaga ketat, namun masih sering penjaga kawasan di lapangan sering kecolongan. Oleh karena itu Conservation International dan University of Maryland berinisiatif memberikan informasi waspada kebakaran di kawasan konservasi yang akan dikirim setiap hari melalui e-mail dan milis anggota yang tercatat.

Email ini dikirim oleh Global Fire-Warning System yang bekerjasama antara NASA’s MODIS Rapid Response System, Departemen Geografi Universitas Maryland, dan Center for Applied Biodiversity Science (CABS), Conservation International.

Untuk sementara ini, kegiatan monitoring hanya difokuskan untuk 10 kawasan taman nasional, yaitu Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, TNBatang Gadis, TN Way Kambas, TN Bukit Barisan Selatan, TN Siberut, TN Tesso Nilo, TN Tanjung Puting, TN Betung Kerihun dan TN Kutai.

Conservation International memulai mendistribusikan dan mengirimkan sistem waspada kebakaran (fire alert system) pada beberapa alamat email anggota dari Fire Alerts General Account milist sebagaisuatu percobaan pada akhir bulan Juli 2007.

Apabila anda mendaftar, sistem informasi kewaspadaan ini akan dikirimkan setiap hari secara otomatis dan  selanjutnya diharapkan keanggotaan mailist yang menerima sistem ini akan terus bertambah, khusus untuk orang-orang yang tepat di lapangan apakah itu dinas kehutanan, pemerintah daerah, pengelola taman nasional atau mereka yang terkait langsung secara teknis di lapangan seperti jagawana atau petugas lapangan di kawasan taman nasional.

Adapun akurasi nilai keyakinan titik titik api yang dijumpai di kawasan atau sekitar kawasan dihitung berdasarkan algoritma kuantitatif menengah yang dipakai saat proses deteksi. Tingkat akurasi dinyatakan dengan nilai antara 0-100 (nilai dari 0=sangat rendah sampai 100=sangat tinggi). Dasar keakuratan bersifat percobaan dan harus dipakai secara hati-hati, hal ini dimungkinkan karena pengertian akurasi ini berbeda-beda di berbagai tempat di dunia.

Namun cara ini juga tidak terlepas dari kelemahan, masalah yang utama dijumpai pada monitoring dengan menggunakan citra satelit adalah kebakaran yang tidak teramati disebabkan karena sensor satelit ke bumi terhalangi tutupan awan. Pada keadaan yang ideal (dimana citra satelit bebas awan, asap tebal dan cahaya matahari) gelombang termal dan mid-infrared dari MODIS dapat secara rutin mendeteksi, mendekati akurasi 100%, kebakaran aktif meliputi luas 50 m2 atau lebih.

Setiap 24 jam, Global Fire-Warning System secara otomatis mengirimkan sebuah peringatan
melalui surat elektronik (email) jika terjadi kebakaran aktif dalam radius < 1 km dari kawasan konservasi.

Setiap pengamatan kebakaran menunjukkan bahwa dalam ukuran 1 km piksel mengandung satu atau lebih kebakaran aktif dalam piksel tersebut.

Mereka yang berminat langsung bisa mengakses data ini melalui internet interaktif, silahkan kunjungi Universitas Maryland Web Fire Mapper di http://maps.geog.umd.edu Atau yang ingin bergabung dengan milist untuk mendapatkan informasi setiap hari silakan menghubungi  Ermayanti: ermayanti@conservation.org