Menghitung Sumber Daya Alam Melalui Valuasi Ekonomi
Sungai Batang Natal, Madina Sumatera Utara
©CI/Foto: Fachruddin Mangunjaya
 
 

Oleh Didy Wurjanto*)

Pendekatan perhitungan ekonomi untuk jasa ekosistem dan sumber daya alam (economic valuation) dewasa ini semakin popular di dunia konservasi alam dan perlindungan hutan. Conservation International (CI) kerap menggunakan metoda ini untuk menjelaskan kepada pemangku kepentingan alasan betapa pentingnya melindungi suatu kawasan hutan dari suatu kegiatan lain yang bersifat kontra produktif.

PELAJARI : Inisiatif CI

Hal tersebut sebagian besar timbul oleh anggapan bahwa pengambil keputusan dan penentu kebijakan lebih memahami simbol-simbol ekonomi karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat dibanding teori ekosistem. Misalnya, dampak negatif perubahan lingkungan menjadi lebih konkrit apabila perhitungan yang diketengahkan ternyata merupakan nilai intervensi manusia atas dalih pembangunan yang dapat berakibat menurunnya mata-pencaharian masyarakat di wilayah tertentu. Namun demikian, disamping popularitas dan semakin diperlukannya metode ini, debat dan kritik semakin mewarnai pelaksanaannya khususnya dalam hal bagaimana pendekatan ini melakukan telaah nilai intrinsik sumber daya alam.

Keberatan dan kritik yang dilontarkan terhadap kajian ekonomi ini dipicu berbagai alasan yang umumnya dipengaruhi oleh dasar pilosofi yang dianut oleh kalangan tertentu. Misalnya kelompok ecocentris berpendapat bahwa setiap mahluk bernyawa memiliki hak untuk hidup sehingga manusia tidak sepatutnya memberikan nilai ekonomi terhadap mereka kalau sekedar demi memuluskan tujuan eksploitasi alam ini. Di lain pihak kalangan anthropocentris berargumen bahwa sumber daya alam baru berarti bila mampu memberikan kontribusinyata terhadap kesejahteraan masyarakat.

Pendapat ini tentu saja dibantah oleh kelompok pertama yang ‘ngotot’ bahwa pendapat di atas justru memancing eksploitasi berlebihan. Aliran yang mempromosikan bahwa sumber daya alam dianggap bermanfaat jika sanggup memenuhi kebutuhan manusia adalah sumber mala petaka kerusakan lingkungan selama ini. Pendapat ini juga ada benarnya bila kita menilai kebutuhan manusia dalam pandangan sempit yaitu hanya dari aspek pemenuhan materi.

Namun apapun bentuk perdebatan dan perbedaan yang ada terhadap efektifitas kajian ekonomi sumber daya ini, dengan maksud untuk menghindari kontroversi seputar pendekatan ini, CI berupaya melakukan perhitungan nilai total ekonomi untuk hal-hal dimana pengambil keputusan cenderung memilih.

Salah satu langkah, misal saja CI tidak merasa perlu untuk menghitung nilai total keseluruhan jasa lingkungan Taman Nasional Batang Gadis atau Daerah Aliran Sungai Batang Toru, karena hal ini memerlukan waktu yang tidak berkesudahan, data yang diperlukan sangat banyak namun belum tentu efektif memenuhi kebutuhan informasi para pemangku kepentingan. Nilai TN Batang Gadis atau DAS Batang Toru bervariasi tergantung siapa yang melihatnya. Pecinta alam dan lingkungan pasti tertarik akan bobot wisatanya, sementara pejabat daerah melihat sejauh mana sumber daya alam tersebut bernilai bagi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Oleh karenanya CI hanya melakukan penghitungan nilai jasa lingkungan yang selama ini keberadaannya sangat menyentuh kehidupan masyarakat, yaitu air. Terdapat dua sisi penting yang digunakan CI sebagaialasan memilih meng-kuantifikasi nilai air sebagai langkah awal valuasi. Yakni bila Pemerintah Daerah (Pemda) memilih jalan konservasi keputusan ini  akan mendapat dukungan masyarakatnya, sebab air berkorelasi positif dengan kesejahteraan masyarakat di wilayah yangmereka pimpin. Sebaliknya masyarakat akan melakukan perlawanan bila pemerintah mengambil opsi memberikan ijin terhadap suatu kegiatan yang berlawanan dengan pemahaman rakyat tentang betapa tingginya nilai air dibanding nilai ekonomi yang mampu dipersembahkan oleh kegiatan misalnya tambang atau logging. Terlebih jika masyarakat di wilayah konservasi lebih memahami nilai recovery costs yang harus ditanggung bersama anak-cucu nantinya akibat kebijakan yang keliru.

Hal di atas bukan tanpa tantangan, sebab beberapa kritik yang dilontarkan memuat tuduhan bahwa valuasi ekonomi yang dilakukan tersebut hanya untuk membela suatu kepentingan saja yaitu konservasi jenis dan perlidungan habitat dan belum secara legowo melihat realitas sekarang yang menghendaki multi actions. Padahal CI mendengungkan slogan hidup harmonis antara perlidungan biodiversitas dengan kesejahteraan masyarakat.

Untuk menjamin rasa keadilan lalu diupayakan perhitungan nilai ekonomi akibat perubahan lingkungan terhadap kesejahteraan masyarakat. Misalnya peningkatan pencemaran air di Sungai Batang Gadis maupun Sungai Batang Toru ataupun di Pulau Siberut akibat pembalakan atau penambangan terhadap penurunan pendapatan masyarakat di wilayah tersebut sekaligus penurunan kualitas hidup.

Perhitungan ini akan memiliki cakupan yang menyempit akan tetapi dalam serta mampu untuk tampil lebih netral. Misalnya saja untuk membantu mengatasi konflik antara kegiatan tambang di TN Batang Gadis dan DAS Batang Toru serta konflik dengan HPH di P. Siberut. Pengalaman CI di wilayah kerja selama ini menunjukkan bahwa pengambil keputusan lebih mampu menerima kenyataan dengan mengakomodasi unsur lingkungan dan kepentingan jangka panjang. Walhasil, pemahaman kesejahteraan manusia melalui peningkatan mampu mereka definisikan secara luas yang perhitungannya tidak hanya melibatkan keinginan saat ini namun meliputi juga kepentingan generasi yang akan datang.// Dr. Didy Wurjanto adalah mantan Direktur Teresterial CI