​​​​​​​​​​​​​​​​Tularkan Kesejahteraan ke Petani Karet di Daerah Lain

Indonesia     English​​


Untuk dapat menghasilkan barang yang berkualitas dan terpercaya, sektor swasta membutuhkan hasil alam yang baik. Masyarakat akar rumput merupakan salah satu kunci keberhasilan karena mereka berhubungan langsung dengan alam. Bagi sektor swasta hasil kebun yang baik akan mengurangi biaya produksi sedangkan untuk masyarakat menguntungkan dari sisi ekonomi. ​

Hubungan mutualisme tersebut terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan. PT. Kirana Sapta, perusahaan karet terbesar di Tapanuli Selatan dengan produksi mencapai 2500-3200 ton per bulannya, memperoleh hasil karet kualitas bermutu dari petani binaan Conservation International (CI). Perusahaan ini bahkan mengambil langsung karena keyakinan akan kualitasnya. Bagi petani tentunya mengurangi biaya transportasi, dan bisa mendapatkan harga lebih tinggi karena tidak melalui perantara. 

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Petani karet di Kecamatan Sayur Metinggi mendapatkan hasil karet yang lebih banyak.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/hasil%20karet.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Edy Suprayitno
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

"Karet dari petani binaan CI itu bersih, tidak kotor dan tidak bau. Untuk itu, kami meminta dukungan CI untuk memberikan pelatihan teknik sadap ke petani binaan kami," kata Leno Agustono, Community Development PT. Kirana Sapta.

Menjawab permintaan tersebut, CI  melalui program program Kemitraan Bentang Alam Berkelanjutan (Sustainable Landscapes Partnership – SLP) melatih sebelas petani karet binaan PT. Kirana Sapta yang berada di Kecamatan Sayur Metinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan yang memiliki lahan seluas 60 hektar. Pendekatan pelatihan sama dengan dukungan sebelumnya kepada  991 petani di  Kecamatan Marancar, Sipirok, Arse, dan Saipar Dolok Hole di Kabupaten Tapanuli Selatan. Petani-petani dari pelatihan awal inilah yang menjual hasil karet mereka ke PT Kirana Sapta. 

Beberapa pembelajaran sederhana dan mudah dipahami dilakukan oleh CI dalam mendukung penguatan kemampuan petani karet. Salah satunya adalah mengenalkan cara menyadap yang benar. Cara ini dilakukan dari kiri atas ke kanan bawah dan menggunakan stimulan. Dengan cara ini pembuluh karet akan lebih banyak terpotong dan menghasilkan lebih banyak getah karet.​​​​​​​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Foto bersama para petani pemenang kompetisi sadap karet dan kelompencapir pada bulan Oktober 2016.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/IMG_3445.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Mesoin
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

"Dengan pelatihan teknik sadap yang diberikan oleh CI produksi karet saya meningkat sampai dengan 100 persen. Sebelumnya hasil karet saya hanya 150 kg tapi sekarang sudah mencapai 300 kg. Nilai jualnya juga bertambah dari Rp 6 ribu per kilogram menjadi Rp 9 ribu per kilogram di awal September 2016," ungkap Iqbal Harahap, salah satu petani binaan PT. Kirana Sapta. Tidak hanya itu, mereka juga memenangi lomba teknik sadap dan kelompencapir​ yang dilaksanakan pada 25 Oktober 2016.

Selain pelatihan penyadapan yang benar, petani karet juga diberikan kemampuan untuk mengatasi penyakit pada tanaman karet yaitu jamur akar putih (Rigidoporus lignosus) yang muncul sejak Oktober 2015. Penyakit ini berkembang biak dengan cepat saat musim hujan dan sudah mematikan sekitar 200 pohon karet di lahan mereka. Ciri-ciri pohon karet yang terserang penyakit ini adalah daun menjadi berwarna pucat kuning, ujung daun terlipat ke dalam, mengering lalu pada akhirnya mati. 

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Para petani binaan PT. Kirana Sapta mendapatkan pengetahuan baru bagaimana mengobati dan mencegah jamur akar putih yang menyerang kebun karet mereka.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/pelatihan%20penanganan%20jap.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Edy Suprayitno
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Untuk menanggulanginya, pohon karet yang terserang dibuat parit berukuran empat meter persegi dengan kedalaman 50 cm dan diberikan Trichoderma sebanyak 150 gram. Pohon yang terserang jamur ini setelah di beri Tricoderma efeknya akan terlihat dalam kurun waktu tiga bulan, Tanda yang jelas adalah munculnya tunas baru (daun berwarna hijau mulus) pertanda pohon sembuh dari penyakit ini. Sedangkan untuk pohon karet yang belum terserang dibuat lubang biopori dengan kedalaman 30 cm dan dimasukkan Trichoderma sebanyak 75 gram untuk pencegahan penyakit ini.

Pada bulan Oktober ini, CI juga akan melakukan pembibitan karet kepada petani binaan PT. Kirana Sapta untuk mengganti pohon karet yang mati. Proses pembibitan dimulai dengan pembersihan gulma di lokasi pembibitan, pembuatan tempat persemaian, pengisian tanah ke polybag dan pengumpulan biji karet. "Dengan pelatihan pembibitan yang akan segerah dilakukan di bulan Oktober ini, pohon karet saya yang mati akan diganti dengan bibit karet unggul. Saya cukup yakin bibit unggul ini akan memberikan hasil karet yang lebih banyak." kata Iqbal. (Edy Suprayitno)​

 ​​​