​​​​​​​Agroforestri: Solusi Mengurangi Alih Fungsi Lahan

​Indonesia​​     English​

​​​​​​​

Saat melihat kebun miliknya, hal pertama yang terlintas di pikiran Lela Kabeakan, seorang Kepala Desa, di Desa Surung Mersada, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara adalah masa depan anak-anaknya.​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Lela sedang memilih dan mengambil daun-daun yang terserang hama ulat pada tanaman jeruknya.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/IMG_1823.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Syaiful Purba
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Ibu dari tiga anak laki-laki yang berprofesi sebagai pedagang, sebenarnya memiliki latar belakang dari keluarga petani. Untuk itulah Lela menggarap lahan keluarga seluas 1,5 hektar di desanya.

"Pada awalnya saya mulai menanam tanaman muda di lahan tersebut, mulai dari padi, kacang tanah, jahe dan yang sekarang baru selesai panen adalah tanaman jagung, kunyit dan kacang bogor," Lela menjelaskan.

Pola penanaman yang dilakukan oleh Lela biasa dikenal dengan tumpang sari. Pola tumpang sari merupakan praktek yang baik dimana beberapa jenis tanaman dipadukan untuk keberagaman dan mengoptimalkan penggunaan lahan. Praktek ini sangat baik untuk mendukung perekonomian keluarga.

Namun pada penjalanannya pola ini berpotensi merusak kawasan hutan. Unsur hara yang dibutuhkan tanaman menjadi cepat habis sehingga petani melakukan sistem lahan berpindah untuk mencari lahan yang subur. Desa Sarung Mersada yang dipimpin oleh Lela memiliki area tutupan mencakup lebih dari 70% dari luas wilayah desa. Dengan kondisi demikian, lahan berpindah bukan merupakan suatu pilihan yang baik untuk menjaga kelestarian hutan dan jasa lingkungannya.

Sementara itu, ada praktek penanaman yang lebih pro pada lingkungan dan tidak membuat masyarakat mencari lahan lain. Pola agroforestri melakukan perpaduan antara penanaman tanaman tua/lama panen dengan tanaman muda/cepat panen. Paling sederhana, pola ini mencampur satu atau dua jenis pohon dengan beberapa jenis tanaman pertanian.

Praktek ini sangat mudah dipahami bagi petani yang sangat berpengalaman seperti Lela dan warganya. Pada pelaksanaannya, pola ini meminimalkan hilangnya unsur hara sehingga menjamin petani tidak melakukan perluasan lahan atau alih fungsi kawasan hutan.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Lela sedang memilah biibit tanaman kunyit hasil panennya untuk dijadikan bibit kembali.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Lela%201.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Syaiful Purba
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Mendorong petani mengadopsi pola agroforestri serta pertanian intensif di Kabupaten Pakpak Bharat merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Conservation International (CI). Praktek penanaman ini selain untuk pelestarian modal alam, juga berguna untuk keberkelanjutan pertanian sebagai sumber ekonomi utama masyarakat.

Dengan keterbukaan terhadap informasi baru, Lela tertarik menggunakan pola ini dan berhasil meyakinkan 16 petani wanita lainnya untuk berpartisipasi dalam praktek tersebut. Mereka dibawah kepemimpinan Lela menjaga beberapa pohon tua yang ada di kebun mereka dan tanaman lain yang telah ditanam 2-3 tahun lalu. Pada bagian lainnya mereka melengkapi dengan tanaman muda seperti jagung yang dapat dipanen dalam waktu 3-4 bulan.  

Untuk mengatasi masalah kesuburan tanah, Lela mengajak petani wanita dalam desanya untuk berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan pembuatan berbagai jenis pupuk alami yang dilakukan oleh CI. Beberapa jenis pupuk sudah dihasilkan dan telah diaplikasikan pada tanaman muda yang ada di kebun mereka. ​

Lela memandang bahwa pola agroforestri dapat menjawab mimpinya akan masa depan anak-anaknya. Saat ini kebun Lela memiliki beberapa tanaman pohon seperti durian, petai, jengkol dan juga sudah ditanami oleh sekitar 400 batang jeruk yang sudah berumur sedikit lebih dari satu tahun. Pada Juni 2016, Lela dan petani wanita dikelompoknya mendapatkan tambahan pendapatan dari hasil panen jagung yang mencapai 8,1 kg/ton. 

"Pengenalan sistem agroforestri membuat saya mengubah penanaman di kebun saya karena saya menganggap sistem ini lebih baik dalam memanfaatkan lahan. Ada bagian yang cepat panen, ​​​​​namun ada juga lahan untuk masa depan," demikian Lela mengungkapkan. (Syaiful Purba/9​ September 2016)