​​​​​​Menyelamatkan Owa Jawa, Menyelamatkan Kehidupan Manusia

​Indonesia     English​​


​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Salah satu Owa Jawa yang sudah dilepasliarkan pada Agustus 2016.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Foto%20Owa%203_Jowo_Anton%20Ario.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Anton Ario
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Siapa yang menyangka bahwa tidak hanya manusia yang bisa melestarikan tapi satwa pun bisa. Mari kita amati bagaimana Owa Jawa (Hylobates moloch), satwa kecil berambut abu-abu, satu dari lima jenis primata yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa, menjaga keutuhan hutan tropis yang merupakan habitatnya.

Primata endemik ini adalah jenis primata tak berekor yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 Tahun 1990​. Statusnya terancam punah (Endangered species) karena semakin menyempitnya kawasan hutan di Jawa  serta perburuan liar untuk dijadikan satwa peliharaan. Para ahli primata memperkirakan Owa Jawa tersisa di alam berkisar 4000​ individu yang hidup di hutan-hutan Jawa bagian Barat dan sebagian kecil di Jawa tengah.

Owa Jawa hidup dalam keluarga yang terdiri dari sepasang induk dan 1 hingga 3 anak dalam satu keluarga. Bersifat monogami, artinya menjadi pasangan hidup sepanjang hidupnya. Memiliki teritori atau wilayah yang dipertahankan, dengan kisaran 15-20 hektar dalam setiap keluarga. Setiap pagi, induk betina Owa Jawa akan menyuarakan seruan pagi (morning call) sebagai penanda wilayah teritori.

Owa Jawa merupakan primata pemakan buah (frugifore), lebih dari 50% makanan utamanya berupa buah dan sisanya berupa daun, bunga, dan serangga. Sebagai primata pemakan buah, Owa jawa  berperan penting dalam menjaga keutuhan hutan tropis yang merupakan habitatnya. Mereka turut membantu dalam proses penyebaran benih benih tumbuhan alam yang dimakan yang kemudian tersebar bersama dengan kotoran mereka. Benih-benih tersebut akan jatuh ke lantai hutan dan akan tumbuh menjadi tumbuhan baru. ​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menjadi habitat penting bagi kelestarian Owa Jawa.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/OJ%201.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Anton Ario
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Owa Jawa dan hutan merupakan elemen yang saling bersimbiosis atau saling membutuhkan. Sementara Owa Jawa mengambil makanan, di saat yang bersamaan mereka menjaga keseimbangan ekosistem. Situasi bahwa Owa Jawa hanya dapat hidup dalam kondisi hutan yang baik, menjadi  indikator kesehatan hutan tropis di Pulau Jawa. Bila mereka bahagia berarti mereka terpenuhi.

Oleh karena itu, upaya Konservasi Owa Jawa tidak semata-mata menyelamatkan spesies, tetapi usaha ini juga dapat menyelamatkan hutan hujan tropis yang tersisa di Pulau Jawa.  Hutan selain mempunyai dampak mengurangi percepatan perubahan iklim (climate change), juga menyediakan kebutuhan utama manusia seperti oksigen dan air.

Sejalan dengan pesan disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan "Kunjungilan Taman Nasional", keberadaan owa jawa di alam dapat menjadi salah satu point of interest dalam kegiatan wisata alam (ekowisata). Kunjugan bisa dilakukan di kawasan-kawasan konservasi maupun di luar kawasan konservasi. Tentunya hal ini meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah konservasi.

Namun sayangnya, ancaman terhadap mereka tidaklah surut. Kerusakan habitat, perburuan, perdagangan hingga menjadikan mereka sebagai satwa peliharaan merupakan ancaman utama keberlangsungan mereka di alam. Berbagai upaya konservasi yang dilakukan oleh para penggiat konservasi untuk mengurangi ancaman tersebut yaitu dengan merestorasi habitat Owa Jawa, penegakan hukum, penelitian ekologi Owa Jawa, pendidikan dan penyadartahuan konservasi serta rehabilitasi dan reintroduksi Owa Jawa.

Upaya konservasi Owa Jawa yang dilakukan tidaklah cukup tanpa didukung oleh masyarakat. Peran mereka sangat menentukan akan keberhasilan upaya konservasi Owa Jawa yaitu tidak melakukan kegiatan-kegiatan perburuan, perdagangan maupun merusak habitat primata ini, serta melaporkan kepada yang berwenang Balai Konservasi Sumber Daya Alam apabila menemukan masyarakat memelihara binatang ini.

Mari bersama kita menyelamatkan Owa Jawa! (Latipah Syaepulloh/9 September 2016)