Sasi Hidup Kembali di Raja Ampat
Upacara pelepasan adat Sasi di Pulau Wayag, Kabupaten Raja Ampat
©CI/Foto: Janni Rotinsulu
 
 

Sasi, dalam bahasa setempat, dalam bahasa Indonesia berarti saksi. Adat ini merupakan cara yang telah diketahui mendukung lestarinya pemanfaatan sumber daya alam.

Adat sasi dihidupkan lagi. Ini merupakan cara berkelanjutan pelestarian alam sejak puluhan ribu tahun lalu, yang dipercaya oleh masyarakat sub suku Kawe di kepulauan Wayag, Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Sasi, dalam bahasa setempat, yang dalam bahasa Indonesia berarti saksi, merupakan cara yang telah diketahui mendukung lestarinya pemanfaatan sumber daya alam. Dalam tradisi adat Sasi, ada  pelarangan adat untuk menangkap dan memancing hasil laut selama setahun. Masyarakat kemudian diperkenankan secara bersama menangkap hasil laut setelah jeda sasi. Jadi ada semacam komitmen bersama untuk tidak melakukan penangkapan pada spesies sumber daya laut tertentu dan memberinya waktu untuk tumbuh membesar.

Delapan belas Oktober lalu, masyarakat sub suku Kawe di Kepulauan Wayag, mengadakan acara penutupan sasi.

Penutupan sasi ini dihadiri oleh Bupati Raja Ampat, Markus Wanma, dan didampingi oleh DPRD kabupaten dan Muspika setempat, serta disaksikan oleh Dirjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Departemen Kelautan danPerikanan Nasional (DKP), wakil-wakil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan dari Departemen Luar Negeri (Deplu).

Direktur Conservation Internasional-Indonesia (CI-Indonesia), Ketut S. Putra mendukung pelaksanaan tradisi adatmasyarakat suku Kawe, “Kegiatan ini merupakan kegiatan konservasi yang sudah dijalankan sejak puluhan ribu tahun silam oleh sub suku Kawe di salah satu kepulauan Raja Ampat ini” jelasnya.

Alasan lainnya, sistem sasi ini akan lebih menunjang keberlangsungan cadangan sumberdaya bila dilengkapi dengan data dan pertimbangan ilmiah dalam pengelolaan hak ulayat masyarakat.

Kristian Thebu, yang aktif menggerakkan penyadaran pada masyarakat tentang pentingnya sasi dijalankan terus menerus, meminta kepada seluruh masyarakat yang datang ke KKLD Wayag untuk mengambil hasil laut Kawasan Wayag dengan menjaga keberlanjutannya.

PELAJARI : Kawasan Konservasi Laut Daerah

“Kawe harus dijaga oleh masyarakat itu sendiri,” ujarnya. Tercatat, kawasan ekosistem dan terumbu karang di Kawe, sejak tahun 1980 sampai 2007, mengalami penurunan dan bahkan kerusakan akibat eksploitasi berlebihan nelayan yang dilakukan oleh nelayan setempat maupun yang di luar Raja Ampat. Mereka umumnya berasal dari Bima, Halmahera, Buton, Gebe, hingga Pilipina. Lalu, tahun 2008 CI bersama masyarakat Kawe mulai bekerja mengawasi Kawasan Wayag.

****

 “Makan Bersama” untuk Menjaga Sumber Daya Laut

Pandangan komunitas Kawe tentang “makan bersama” dihidupkan kembali dengan diselenggarakannya “Buka Sasi Laut” (Senin, 5 Oktober 2009). Sebanyak lebih dari 100 orang  dengan hampir 40 long boat menantikan saat perburuan dan pengumpulan lola, teripang dan lobster. Ketika hari pertama pembukaan Sasi, memang sangat sulit untuk memperoleh hasil laut yang telah di Sasi selama setahun itu. Namun tidak lama setelah orang-orang Kawe mulai duduk bersama, saling berdamai dan membuat acara adat, barulah para pengumpul hasil laut ini memperoleh hasil. Tidak ada satu longboat pun yang tidak memperoleh lola, lobster maupun teripang.

Bagi suku Kawe, seluruh kesatuan pulau-pulau yang terjauh dari jangkauan pemantauan orang Kawe telah diketahui kepemilikannya. Karena itu, orang Kawe saling mengakui batas-batas kepemilikan. “Dahulu ketika orang Kawe mau mencari hasil laut di Kepulauan Wayag, biasanya mereka akan berangkat dengan empat hingga enam perahu. Bukan disebabkan oleh hasil lautnya yang berlimpah yang terdapat di seluruh deretan kepulauan Wayag, namun karena orang Kawe hendak mempertahankan kepemilikan ulayat atas kepulauan Wayag dari para agresor yang datang dari Halmahera dan tempat lain.

Keadaan ini mengingatkan kembali bagaimana kesatuan hidup orang Kawe di waktu lampau yang menghubungkan alam dengan manusia. Tanpa kedamaian, sumber makanan tidak ada, dan jika ada perdamaian, maka Tuhan melimpahkan berkat hasil laut kepada umat-Nya.

Sub suku Kawe, yang hidup di bagian pesisir barat pulau Waigeo, Raja Ampat memiliki emahaman sendiri untuk istilah “makan bersama”. Diartikan untuk mengandaikan suatu wilayah besar yang memiliki sumber-sumber nutrisi karbohidrat dan protein untuk dimanfaatkan bersama demi menunjang kehidupan masyarakat besar Kawe.

Selama pemanfaatan bersama sumber daya laut ini berlangsung, masyarakat setempat yang bertetangga antar kampung berkompromi untuk perlu saling berdamai. Mereka percaya hasil laut tersebut tidak mungkin tersedia begitu saja bila ada rasa dendam di antara seluruh komunitas adat Kawe.

Dr. Alex Retraubun, Dirjen KP3K DKP menyambut baik penerapan Sasi di Raja Ampat ini. Menurutnya ini adalah salah satu contoh bagaimana kerjasama antara masyarakat setempat, pemda, dan LSM, dalam menyiapkan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi laut di Raja Ampat. “Kita patut memperbanyak contoh yang ada ini di kawasan-kawasan konservasi laut lainnya di Kepulauan Indonesia,” jelasnya.

Selain itu Johanis Arampeley, ketua dewan adat suku Maya di Raja Ampat memberikan apresiasi kepada CI-Indonesia yang telah membantu melaksanakan kegiatan konservasi di kawasannya, “Kehadiran mereka (CI) melaksanakan kegiatan konservasi, justru membangunkan semangat penyelamatan hak ulayat kami, karena konservasi telah menyelamatkan sumber-sumber daya alam bagi masyarakat adat suku Kawe, sehingga sangat patut kalau orang Kawe turut mendukung program konservasi ini”