​​​​​​​​​​​​​​​​​​Empat Rekomendasi Agar Ekosistem Tetap Terlindungi

​Indonesia​     English​​​


“Pelatihan kawasan konservasi dapat mendukung peningkatan efektifitas pengelolaannya. Data yang diperoleh dari pelatihan, dapat dijadikan cermin untuk mengambil langkah-langkah pengelolaan yang lebih baik di masa depan,” papar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Manokwari, Donal Hutasoid pada kegiatan pelatihan penilaian konservasi di Manokwari Papua Barat.​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Peta sebaran kawasan konservasi di Papua Barat.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/0001%202.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Penilaian kawasan konservasi sangat penting sebagai masukkan dalam menentukan kebijakan Pemerintah Papua Barat dalam pengelolaan kawasan konservasi sebagai perwujudan dari Provinsi Konservasi. Penambahan luasan dan jumlah kawasan konservasi di Papua Barat misalnya, sangat menggembirakan, tetapi tanpa ada peningkatan kawasan konservasi maka penambahan jumlah itu tidak memberikan manfaat yang maksimal bagi perlindungan keanekaragaman hayati, jasa lingkungan dan ekosistem.​

Lalu, sudah efektifkah pengelolaan kawasan tersebut?

Conservation International mendukung BKSDA Papua Barat dalam memberikan pelatihan dan penilaian keefektifitasan pengelolaan kawasan konservasi. Kegiatan ini juga diikuti oleh Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan Universitas Papua.​

Metode yang digunakan adalah dengan METT (Management Effectiveness Tracking Tool). Terdapat enam elemen penting yang harus diperhatikan yaitu konteks meliputi status suatu kawasan, perencanaan meliputi perancangan, masukan meliputi sumber daya yang dibutuhkan, proses meliputi bagaimana pengelolaan kawasan konservasi dilakukan, keluaran meliputi hasil dari aktifitas pengelolaan dan hasil meliputi kondisi area konservasi.Hasil dari penilaian menunjukkan ada ancaman yang cukup signifikan seperti perencanaan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan tujuan dan fungsi kawasan konservasi.

​​​Isak B. Samori, Kepala Resort KSDA Fakfak menuturkan, "Pelatihan ini baru pertama kali dilakukan, dan sangat bermanfaat sebagai panduan untuk menilai kawasan dilokasi kerja. Selain itu, metode ini menciptakan keterpaduan antara masyarakat dengan pengelolaan kawasan konservasi."

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Hasil Penilaian Tingkat Efektifitas Pengelolaan Kawasan Suaka yang Berada di Wilayah II BBKSDA Papua Barat (Rerata: 41.25%, SE: 2.81, n: 12).
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/tabel%20penilaian%20mett.png
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​​​METT adalah alat ukur yang cukup dikenal dan digunakan di lebih dari 100 negara, termasuk di Cina dan Afrika, untuk menilai lebih dari 2000 kawasan lindung. Hingga saat ini telah dikembangkan lebih dari 40 alat ukur di seluruh dunia. Metode METT dipilih dan digunakan karena dapat menghemat dalam hal biaya yang dikeluarkan juga alat ini sangat sederhana dalam pengaplikasiannya.

Hasil dari penilaian menunjukkan Taman Wisata Alam Gunung Meja mendapat skor 53% dan skor 26% terendah pada Suaka Margawatwa Mubrani-Kaironi. Rata-rata hasil  skor METT dari 12 kawasan konservasi diatas 41.25%. Skor ini berada dibawah rata-rata penilaian beberapa kawasan konservasi di Indonesia yaitu sekitar 46%-52%.

Berikut beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan dalam waktu dekat:​

  1. Menyiapkan rencana pengelolaan untuk kawasan yang belum memiliki rencana pengelolaan agar dapat mengendalikan dampak negatif terhadap ekosistem dan memastikan kelestarian ekosistem yang ada di dalamnya. Hal ini mendorong keberla​​njutan sumber daya alam penting untuk dipertahankan dan diselamatkan karena semua itu berhubungan dengan kehidupan manusia.

  2. Menerapkan acuan pengelolaan adaptif dan menggabungkannya pada siklus perencanaan reguler sehingga meningkatkan strategi pengelolaan kawasan yang lebih baik agar sesuai dengan tujuan pengelolaan dan fungsi kawa​​san.

  3. Membangun kerjasama dengan lembaga lain dalam rangka memperkuat pengelolaan kawasan konservasi di Papua Barat serta menjamin keberlanjutan ekosistem di wilayah-wilayah tersebut.

  4. Mempromosikan nilai-nilai keanekaragaman hayati dan sosial Papua Barat guna menimbulkan kesadartahuan bagi masyarakat secara menyeluruh tentang pentingnya kelestarian dan keberlanjutan sumber daya alam dan ekosistem di Provinsi Papua Barat.​​​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Foto bersama peserta dan Kepala BKSDA Bidang Wilayah II Papua Barat.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/foto%203_see%20metadata%20caption.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Geraldy Arief
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Melalui pelatihan METT dan rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat lebih meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi. Proses kinerja mulai dari perencanaan yang matang bisa memberikan hasil yang terbaik untuk ekosistem kawasan di Papua Barat. Ekosistem yang baik, tidak hanya bermanfaat bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga bagi kehidupan masyarakat secara umum. 

(Geraldy Arief)

​​​