Pulau Terluar, Meretas Isolasi dan Ketertinggalan
Burung Rangkong di Pulau Sipora
CI/Foto: Fachruddin M. Mangunjaya
 
 

Oleh Fachruddin M. Mangunjaya

Letaknya nun jauh dari Ibukota Jakarta. Sebuah pulau terluar Republik Indonesia, jaraknya ratusan kilometer menyebrang dari Kota Padang, Sumatera Barat. Kota Tua Pejat, terlihat sangat sibuk dengan wajah baru pembangunan kawasan ini sebagai ibukota Kabupaten Mentawai. Sudah delapan tahun, dalam dua periode pemerintahan Bupati Edison Selealubaja, Kota ini bergeliat dengan pembangunan dalam upaya membuka keterisolasian dan ketertinggalan.

“Masyarakat kami masih miskin, bagaimana caranya agar bisa meningkat taraf hidup mereka dan wisata dapat mengangkat kehidupan masyarakat.” Oleh karena itu, pemerintah kabupaten tengah berupaya menata dan menertibkan sektor wisata ini agar dapat berkontribusi langsung pada masyarakat.

Dalam upaya menggenjot dan mempercepat perkembangan dan mengubur kemiskinan ini, maka sektor lain pun tengah diupayakan. Tidak hanya wisata. Apa saja yang bisa menjadi kesempatan: perkebunan, pertanian, dan perikanan, yang mendukung perkembangan mata pencaharian masyarakat di daerah akan didukung dan dikembangkan.

“Saya tengah mengupayakan adanya eksplorasi untuk pertambangan. Siapa tahu ada emas, batubara, minyak,” kata Bupati Edison menambahkan. Beliau tengah berupaya mengangkat kehidupan masyarakat Mentawai agar menjadi lebih maju, sejalan dengan masyarakat yang lain.

Menurut pendapatnya, perhatian terhadap Mentawai masih kurang. Jika dilihat, kota ini memang merupakan pulau terluar yang menjadi perbatasan dengan negara lain.”Keadaan penduduk yang masih miskin menjadi keprihatinan. Kita tidak bisa terus membiarkan warga seperti itu.”

Menurut Yusi Rio, Kepala Dinas Kabupaten Mentawai, hampir delapan puluh empat persen luas kabupaten Mentawai merupakan kawasan hutan. Di dalamnya termasuk kawasan Taman Nasional Siberut dengan luas 180 ribu hektar dan menjadi Cagar Biosfer. Kendalanya adalah, taman nasional ini sebagian telah dihuni oleh penduduk asli setempat, dan mereka tengah kesulitan untuk berkembang hidup. “Kita tengah menata batas batas taman nasional dan tengah mencari jalan keluar bersama dalam mengatasi masalah kemiskinan di sekitar taman nasional itu,” kata Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sipora ini.

Upaya ini memang disambut oleh pihak Taman Nasional Siberut, “Kita telah mengadakan beberapa pertemuan dan mengupayakan sinergi program berasama pemerintah daerah Mentawai,” ujar Jusman, Kepala Taman Nasional Siberut.

Rio ingin masyarakatnya dapat tersejahterakan dengan memelihara hutan. “Kita membicarakan perdagangan karbon, siapa tahu dapat dijual karbonnya sebagai paru-paru dunia,” kata pejabat yang bertanggunjawab di bidang kehutanan ini (baca juga Perdagangan Karbon). Upaya kompromi agar kesejahteraan masyarakat terangkat dan  konservasi dapat berjalan, sedang dirintis oleh kabupaten bersama dengan pihak taman nasional. Rio juga mengharapkan peran serta NGO seperti Conservation International dan pemangku kepentingan yang lainnya untuk ikut terlibat.

BACA JUGA : Perdagangan Karbon dan Hutan Pulau Mentawai

Persoalan menggenjot laju pertumbuhan dan pendapatan ekonomi guna menghasilkan uang dan pendapatan asli daerah, memang menjadi upaya semua daerah yang sedang berkembang. Dilemanya, kawasan seperti Siberut dan Kepulauan Mentawai lainnya menjadi perhatian penting para ahli konservasi karena spesies yang dimilikinya. Dan kelihatannya, menurut Rio, banyak investasi berdatangan karena mementingkan penyelamatan monyet monyet endemik itu. “Kita cenderung ingin lebih melestarikan orang dari pada monyetnya.”Jusman, Kepala Taman Nasional Siberut.

PELAJARI : Lima Primata Khas Mentawai

Karena itu, menurutnya harus ada upaya sinergis dalam membangun sektor kehutanan dan pendapatan daerah di Mentawai. Dia mengusulkan langkah kolaborasi antara Pemerintah Daerah, Taman Nasional, dan LSM yang bekerja di Mentawai.