Perdagangan Karbon dan Hutan Kepuluan Mentawai
 
 
 
Sejak dipercaya menjadi Kepala Dinas Kehutanan yang mulai dijabatnya pada Januari 2009, Yosi Rio, Msi., sudah mulai membenahi sektor kehutanan Kabupaten Mentawi agar dapat berkontribusi optimal bagi kegiatan pembangunan. "Kita punya rencana yang intinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, tetap ingin mensejahterakan masyarakat," ujarnya.

Langkah langkah konkrit pun telah dilakukan. Mengingat Kabupaten Mentawai merupakan Kabupaten baru di di Sumatera Barat. Salah satu upaya yang dilakukan oleh dinas adalah upaya mengadakan sinergi kegiatan dalam konservasi dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat di sekitar Taman Nasional Siberut. Walaupun taman nasional telah lama berdiri, namun masyarakat sekitar taman nasional menurutnya belum mendapatkan perhatian yang wajar, masyarakat telah lama mendiami tempat itu, jauh lebih dahulu dari keberadaan taman nasional.

 

 Karenanya dia ingin mengajak semua pemangku kepenting untuk dapat terlibat memikirkan dan memberdayakan masyarakat Siberut, yang sebagian menjadi penghuni tetap taman nasional. Dia juga mengharapkan semua lembaga swadaya masyarakat atau masyarakat sipil bersama taman nasional ikut terlibat dalam kerja sama ini.

PELAJARI : Aktifitas di Lapangan CI Indonesia

Yosi juga mengharapkan apabila skema perdagangan karbon yang selama ini digembar gemborkan, maka masyarakat yang mata pencahariannya sangat bergantung pada taman nasional ini, bisa mendapatkan bagiannya. Siapa tahu bisa menjadi pandangan yang sama. Kita sudah menjaga kawasan tersebut berpuluh tahun sejumlah 190 ribu hektar. Bisa saja kita menjual karbon pada pihak yang memerlukan, sebagai paru paru dunia.” ujar Yosi membayangkan. Cita-cita itu harapanya bisa diprogramkan dan dikerjakan bersama-sama.

Di tengah galaunya persoalan tumpang tindih pengelolaan kawasan hutan di Pulau Siberut, seperti bekas areal Koperasi Alas Madani (KAM), rencananya akan ditetapkan oleh Menhut sebagai kawasan restorasi  ekosistem. Ada kekhawatiran lain, yaitu masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tersebut yang—telah terbiasa— menggantungkan hidupnya dari hasil kayu.

Yosi juga meminta, baik Departemen Kehutanan maupun LSM untuk bahu membahu menyelamatkan kepentingan masyarakat dengan program program yang sinergis. Misalnya, areal tertentu dari kawasan tersebut bisa dimanfaatkan oleh rakyat, "Mungkin tanaman nilam atau gaharu.

Menurut Kepala Dinas yang kelahiran Padang ini, visi dan misi dinas kehutanan adalah tetap menyelamatkan hutan, tetap memberikan kesempatan pada pengusaha untuk produksi, tapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat.

"Jadi upaya kita bagaimana mengangkat harkat masyarkat Mentawai ini, apalagi mereka kan juga NKRI. Ditambah wilayah ini rentan bencana.”Yosi Rio pun berpendapat mempertahankan keunikan Pulau Siberut merupakan hal yang penting. Namun selama ini, banyak pihak yang datang ke Pulau Siberut hanya mempunyai program pelestarian monyet saja. Sebaliknya, pemerintah daerah ingin mengangkat harkat dan martabat masyarakatnya.”Kita cenderung lebih ingin melestarikan orang dari pada monyetnya. Sebab itu kita harus ada kolaboratif."

BACA JUGA : Lima Primata Khas Mentawai

Oleh karena itu, jelasnya, upaya mensinergikan program penyelamatan hutan dan kekayaan spesies Kepulauan Mentawai harus dilakukan secara kolaboratif. "Kita harapkan tahun 2010 ada realisasinya. Kita harus duduk bersama. Misalnya di taman nasional harus ada enclave, kalau ada program bersama. Sebab isi taman nasional ini adalah (juga) orang."