​​​​Lingkungan yang Aman melalui Tata Ruang Strategis

​Indonesia   English​


Pemaparan dan penyerahan draf Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tapanuli Selatan telah dilaksnakan di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Tapanuli Selatan di Sipirok pada hari Senin, 13 Juni 2016. Pemaparan ini menindaklanjuti Surat Perintah Wakil Bupati Tapanuli Selatan Nomor 094/2877/2016 perihal percepatan finalisasi RTRW Kabupaten Tapanuli Selatan.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Iman Santoso menyerahkan draf RTRW kepada Kepala BAPPEDA Tapanuli Selatan.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/001.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Dedy Iskandar
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​​Kepala BAPPEDA Tapanuli Selatan, H. Aswan Hasibuan, SH menyampaikan, “Conservation International (CI) Indonesia sudah membantu penyelesaian draf RTRW kabupaten yang dalam waktu dekat akan kita serahkan kepada Bupati Tapanuli Selatan.” Dalam kesempatan ini juga hadir Tim Percepatan Finalisasi RTRW Kabupaten Tapanuli Selatan.

Iman Santoso, Senior Terrestrial Policy Advisor, CI Indonesia menjelaskan bahwa dasar pemikiran RTRW ini untuk menciptakan tata ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Draf ini merupakan hasil penerapan peraturan dan perundangan yang berlaku dan menggunakan data yang terbaru. Selain draf juga diberikan 13 peta tematik dan materi teknis. Saat presentasi proses pembuatan draf RTRW, Iman menekankan pada pentingnya mempertahankan kawasan lindung.

Kawasan cagar alam yang sudah ada sebelumnya dipertahankan dan dimasukkan ke dalam kawasan lindung. Ada dua kawasan baru yang dimasukkan ke dalam draf dan dikategorikan  ke dalam kawasan lindung yaitu daerah rawan bencana dan area lahan gambut. Untuk mengetahui apakah kawasan tersebut termasuk dalam kategori yang dilindungi atau dapat dimanfaatkan dicantumkan indikator. Indikator ini dilihat melalui tiga variabel yaitu kelerengan wilayah, curah hujan dan jenis tanah.

Jika jumlah tiga variabel ini melebih 175 maka wilayah tersebut diperkirakan mudah terjadi longsor atau erosi dan harus dipertahankan sebagai Hutan Lindung. Sedangkan, untuk jumlah antara 125 sampai 175, wilayah tersebut memiliki potensi erosi atau longsor namun dapat dijadikan sebagai Hutan Produksi Terbatas. Lalu, jika jumlahnya kurang dari 125 maka wilayah tersebut bebas dijadikan Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas atau Areal Penggunaan Lain. Namun, Kabupaten Tapanuli Selatan juga memiliki potensi untuk meningkatkan kawasan budidaya dengan melakukan agroforestri di Hutan Produksi Terbatas.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Pemaparan proses pembuatan draf RTRW Tapanuli Selatan.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/DSC_0525.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Dedy Iskandar
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​​Iman menambahkan bahwa draf ini dapat digunakan sebagai rujukan bagi BAPPEDA untuk memfinalkan RTRW. "CI Indonesia akan tetap membantu BAPPEDA untuk menyelesaikan RTRW dengan memberikan masukan-masukan jika diperlukan." ujarnya.

Ir. Saulian Sabbih, Asisten II Ekonomi Pembangunan, Kabupaten Tapanuli Selatan berharap melalui kerja sama ini bisa membuat masa depan Tapanuli Selatan lebih baik. "Perjuangan ini belum selesai. Kita masih akan menghadap ke bupati dan memproses ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk dimasukkan ke dalam peraturan daerah." tutupnya. (Dedy Iskandar/28 Juni 2016)​