​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Peningkatan Kapasitas ​​Untuk Kesejahteraan Yang Lebih Baik​

​Indonesia     English​

​​​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Petani karet sedang melihat bagaimana melakukan penyadapan karet yang benar di Desa Roburan Dolok, Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Petani.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Edy Suprayitno
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Sektor pertanian merupakan potensi yang paling besar di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Hampir 80% mata pencaharian masyarakat adalah petani sawah dan perkebunan. Kabupaten Tapanuli Selatan juga menjadi penghasil karet alam dengan luas kebun 1​7.881 hektar. Namun, sampai sekarang penghasilan per hektarnya masih sangat rendah yaitu 700 kg – 900 kg karet kering per tahun.

Pada tanggal 24 Juli 2013, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Conservation International (CI) Indonesia melalui program Sustainable Landscapes Partnership (SLP – Kemitraan Bentang Alam Berkelanjutan) menandatangani Nota Kesepahaman. Saulian S​​abbih, Asistem Ekonomi Pembangunan, Kabupaten Tapanuli Selatan pada acara SLP di Januari 2016 mengatakan, “Visi pemerintah daerah dengan program CI Indonesia itu pas sekali yaitu sumber daya manusia yang berkualitas dan pelestarian sumber daya alam.”​​​​​​

Di Kabupaten Tapanuli Selatan ini, CI melalui program SLP melatih petani karet di 22 desa yang berlokasi di empat kecamatan yang berada di sekitar hutan Batang Toru. Salah satu hal baru bagi petani bahwa pohon karet yang berusia 40-50 tahun masih bisa menghasilkan getah karet. Sebelumnya, para petani mengganti pohon karet yang sudah tua dengan tanaman lain seperti kakao dan kopi.

Manfaat dari pelatihan ini memberikan peningkatan dari berbagai sisi. Hasil produksi lateks meningkat sebesar 30-100% dari produksi yang biasa mereka peroleh yaitu 60 kg – 80 kg setiap minggunya dan petani dapat membuat pupuk sendiri dengan biaya murah. Dengan teknik sadap yang tepat, petani bisa menyadap lebih cepat sehingga dapat mengerjakan pekerjaan lainnya seperti buruh bangunan atau membersihkan gulma di kebun karet petani lainnya untuk menambah penghasilan.

Burhanuddin Harahap salah satu peserta pelatihan yang berasal dari Desa Aek Nabara menyatakan, "Sekarang saya sudah bisa membuat pupuk untuk karet dan saya juga sudah menerapkan penyadapan yang benar."

Dari sisi ekonomis, meningkatnya hasil produksi membuat penghasilan para petani bertambah sekitar Rp 200,000 hingga Rp 400,000 setiap minggunya.

Pada bulan Oktober 2014, CI​-SLP menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT Kirana Sapta, salah satu pabrik karet besar di Kabupaten Tapanuli Selatan, yang membuka jalur perdagangan langsung bagi petani. Penjualan langsung ke PT. Kirana Sapta-pun bisa dilakukan oleh petani. Hal ini juga membuktikan bahwa hasil sadapan petani bagus dan memenuhi kriteria yang diminta oleh pihak swasta.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:PT. Kirana Sapta dengan tim OKR membeli getah petani di Desa Roburan Dolok dan Desa Pagaran Gala-gala.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Kirana%20Sapta.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Edy Suprayitno
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

"Setelah kami mengadakan kerja sama dan penyuluhan mengenai akses pasar, para petani menjadi lebih antusias untuk datang langsung ke pabrik. Getah yang kami terima pun bersih tidak terkontaminasi bahan-bahan lain." tutur Leno Agustono, Community Development, PT. Kirana Sapta.

Dengan langsung menjual ke pabrik, selisih harga jual yang diperoleh petani sebesar Rp 2,000 – Rp 2,500 per kilo dibandingkan menjual ke supplier yang ada di desa. Sejak bulan Maret ini, PT. Kirana Sapta akan melakukan pembelian langsung ke petani di Panyabungan sehingga mengurangi biaya transportasi.

Peningkatan pendapatan ini membawa harapan baru bagi petani. Sulaiman Lubis salah satu peserta di Desa Marancar Godang menceritakan mimpinya, "Saya dapat menyekolahkan anak hingga ke Perguruan Tinggi."

Terbukanya akses pasar dan peningkatan kapasitas terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan petani menjadi lebih baik. Hal ini yang terus diupayakan oleh program SLP agar petani Indonesia dapat bersaing di pasar Indonesia secara langsung. (Edy Suprayitno/3 Mei 2016)


​​​​