Pemberdayaan, Pendidikan Hingga Kesehatan

Kegiatan anak-anak Dabra “bersekolah” di bangunan kosong bekas kantor penerbangan sipil

©CI/Foto: Fachruddin Mangunjaya
 
 

Rumah kayu, bangunan kosong kantor Penerbangan sipil (Pensip), tepat disebelah lapangan perintis Distrik Dabra itu kini setiap hari tidak sepi lagi. Kantor penerbangan ini tadinya tidak berfungsi. Bangunannya bercat biru pucat, tidak berpintu, dan kaca nako jendelanyapun sebagian telah lenyap. Di berbagai sudut ada dinding yang papannya sudah tak ada lagi, berlobang. Menjadikan ruangan didalamnya lebih terang.

Sekarang, setiap hari, sejak 25 Januari 2010 kantor tak berfungsi itu kini disibukkan dengan ramainya kunjungan anak-anak berusia taman kanak-kanak (TK) antara 3-6 tahun. Mereka sedang dididik dan diperkenalkan hurup baca tulis dan pengenalan yang bersifat melatih motorik dan gerakan tangan. Mereka diajarkan mengenal angka, hurup dan warna. Beberapa diantara mereka ada yang seharusnya berusia sekolah dasar namun juga bergabung dalam kelompok ini. “Ini baru melatih gerakan tangan, untuk  mengenal angka dan warna,“ kata Agus Voisa, 32 tahun, salah seorang penduduk setempat yang menjadi pengajar kelompok anak-anak tersebut.

Anak-anak yang polos dan berpenampilan seadanya ini kini mulai aktif pergi ‘ke sekolah’ tersebut dari hari Senin hingga Jumat. Tidak panjang waktunya, hanya dua jam pertemuan. Mereka dikumpulkan, diberikan pensil warna dan alat-alat tulis dan mewarnai. Dan diharapkan secara perlahan-lahan mereka mampu menyerap pelajaran.

Kegiatan ini merupakan salah satu aksi yang dilakukan oleh para peserta training of trainer (TOT) pada penduduk Distrik Dabra untuk mengatasi ketiadaan tenaga pendidik. Pelatihan cara mengajar ini telah dilakukan oleh Conservation International dan UNDP yang menjalankan program Community Development untuk kawasan Mamberamo. Dalam program tersebut telah dilatih 32 orang tenaga pengajar yang berasal dari masyarakat setempat. Maka untuk Kampung Dabra, penduduk yang berpendidikan cukup, seperti Cristina Enko (25), Maise Serife (27), Agus Voisa (32) mulai sibuk memberikan pelajaran menggambar untuk 40an anak yang datang dari sekeliling kecamatan berpenduduk sedikit ini.

“Program ini menjadi cikal bakal untuk mengatasi ketertinggalan yang ada di Kecamatan Dabra.” Jelas Peter Kamarea yang menjadi Proyek Manager Program Pemberdayaan ini. Tapi menurutnya, program ini diharapkannya tidak berhenti disini. “Akan ada program lanjutan.” Meskipun baru mulai, tapi masih ada pertanyaan dari penduduk tentang program pengajaran yang diberikan tersebut. Misalnya ada beberapa orang tua yang menanyakan: “Apakah nanti mereka mendapatkan ijazah,” kata Maise Serife (27). Menurut Peter Kamarea, dalam menyelenggarakan pendidikan ini, Conservation International akan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Pengajaran (DIKNAS) dengan membantu fasilitasi paket A untuk mereka yang putus sekolah SD, paket B untuk mereka yang putus sekolah SMP dan paket C untuk SMA.

Kesehatan
Disamping minimnya tingkat pendidikan penduduk. Kondisi kesehatan pun demikian pula. Untuk itu, CI akan masuk pada metode pencegahan untuk menuju pada masyarakat yang sehat. Misalnya dengan memperkenalkan program makanan dan gizi yang baik untuk para ibu. “Kandungan gizimakanan itu harus diperkenalkan,” kata Peter. Selain itu juga akan dibangun tempat demontrasi untuk cara berternak ikan. Mereka juga harus diberikan pemahaman tentang pola konsumsi yang teratur misalnya dengan mengajarkan berapa pemenuhan protein yang diperlukan oleh tubuh.

Beberapa penyakit umum yang dijumpai di perkampungan adalah diarea dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Bagi masyarakat kampung yang jauh dari fasilitas kesehatan, dua penyakit ini bisa membawa maut. Lain lagi penyakit yang dijumpai pada wanita, pada umumnya adalah penyakit yang yang berhubungan langsung dengan sebelum dan sesudah melahirkan sehingga diperlukan pre-post natal care. Pada umumnya kaum ibu di Mamberamo masih menggunakan cara tradisional yang belum higienis yang dapat mengkibatkan ibu dan anak rentan terkena penyakit.

LIHAT JUGA: Sungai Mamberamo

Keberhasilan pemberdayaan masyarakat ini ingin mencontoh pada pemberdayaan penduduk Dani di Wamena Papua pada tahun 1980an. Sekarang, dengan adanya pemberdayaan, wajah dan kehidupan masyarakat Dani yang tadinya sama halnya dengan masyarakat pengumpul di Mamberamo — sangat terbelakang—kini berubah sangat drastis. Kesadaran masyarakat tinggi karena program pemberdayaan masyarakat atau community development yang berhasil. “Dampaknya juga sekarang. Menurut cerita Peter Kamarea, kalau Anda ke Wamena anda bisa mendapatkan pekarangan mereka yang dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi. “Hari ini Anda bisa beli jeruk manis itu datangnya dari Bikondini,” Pohon jeruk yang tadinya hanya beberapa pohon kini bisa mensuplai beberapa kota di Papua. Mereka juga menjadi penghasil sayur sayuran dan ikan dari kolam yang mereka buat. Bahkan anak suku Dani sudah banyak
sekali yang mendapatkan pendidikan tinggi hingga mencapai strata 2 (S2).

Tentu saja program di pemberdayaan di Mamberamo ini adalah program jangka panjang. Dan Peter mengumpamakan, pekerjaan yang dilakukan oleh CI seperti melempar sepotong baut ke tengah laut. "Riaknya yang tidak kelihatan, tapi kita harus melakukan,” kata putra Papua kelahiran Serui ini.