​​​​​​Peluang Tingkatkan Kesejahteraan dengan Hutan Desa

​Indonesia   English

​ 

Ketidakstabilan harga komoditas pangan di pasar sangat berpengaruh bagi warga Desa Marancar Julu dan Desa Sugi Kabupaten Tapanuli Selatan. Di desa yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, hal ini membuat mereka cenderung menelantarkan kebun dan mencari pekerjaan di kota. Padahal kedua desa ini memiliki Hutan Desa yang dapat diberdayakan.

Hutan Desa sendiri adalah hutan negara yang belum dibebani izin atau hak pengelolaan, yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa. Selain itu, kebijakan hutan desa diharapkan menjadi salah satu solusi untuk dapat mengurangi laju penggundulan dan kerusakan hutan. Sampai tahun 2015, total ada 10 area kerja Hutan Desa yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia di Sumatera Utara. ​​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Keterlibatan kaum perempuan dalam pembuatan dokumen rencana kerja Hutan Desa di Desa Sugi.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/keterlibatan%20kaum%20perempuan%20dalam%20pembuatan%20dokumen%20RKHD%20Desa%20Sugi.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Sarmaidah Damanik
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Pengelolaan hutan desa ini akan diberikan kepada lembaga desa sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007. Di Kabupaten Tapanuli Selatan terdapat enam hutan desa melalui Surat Keputusan penetapan area kerja dari Kementrian Kehutanan Nomor 727-732/Menhut-II/2013.

Optimisme pengelolaan hutan yang lebih baik ini disampaikan oleh ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Rinuan Simatupang di Desa Sugi. "Saya berharap dengan adanya Hutan Desa ini masyarakat Desa Sugi menjadi sejahtera" ujarnya. Dari 12 November hingga 6 Desember 2016, LPHD di kedua desa bersama Conservation International (CI) Indonesia mengadakan diskusi untuk menyusun rencana kerja kegiatan hutan desa secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Dari diskusi diketahui bahwa pemuda/pemudi desa juga memahami berbagai macam potensi sumber daya hutan. "Bayangkan kalau kayu meranti dan rotan serta sungai yang jernih habitatnya ikan merah di kawasan Hutan Desa ini bisa kita kelola dengan baik. Saya yakin kita akan sejahtera," ujar Guntur Siregar, Ketua Naposo Nauli Bulung (pemuda/pemudi) Desa Marancar Julu.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Sosialisasi dokumen perencanaan, pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam di Desa Marancar Julu.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Sosialisasi%20dokumen%20Participatory%20Conservation%20Planning%20desa%20Marancar%20Julu%20.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Sarmaidah Damanik
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​Selain ketidakstabilan harga, praktek pertanian dan perkebunan yang tidak berkelanjutan juga menjadi masalah contohnya ladang berpindah. "Dengan praktek ini masyarakat akan membuka lahan di hutan karena lahan sebelumnya sudah tidak produktif. Salah satu praktek pertanian berkelanjutan yang dapat dilakukan adalah agroforestri," jelas Fitri Hasibuan, North Sumatra Senior Landscape Program Manager, CI Indonesia.

Praktek ini juga sudah dilakukan oleh petani di Kabupaten Pakpak Bharat. Nantinya pengelolaan Hutan Desa harus dilakukan dengan lestari sesuai dalam peraturan tersebut​. Pemanfaatan jasa lingkungan (air, ekowisata) dan pengembangan hasil hutan non kayu adalah beberapa kegiatan yang dapat diterapkan di kawasan hutan khususnya hutan produksi.

Rinuan menyatakan senang dan antusias dengan adanya diskusi ini karena bisa menyampaikan ide serta pemikiran secara langsung. "Secara umum masyarakat sangat peduli terhadap kondisi sumber daya hutan dan alam yang ada di Desa Sugi. Mereka berharap dapat menemukan cara untuk meningkatkan hasil produksi pertanian dan perkebunan tanpa merusak hutan," ujarnya.

Pembuatan peraturan desa mengenai perlindungan sungai adalah salah satu dari catatan dari diskusi. Catatan dari diskusi tersebut juga akan dibahas di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa tahun 2017. Pada bulan Desember ini, Desa Marancar Julu dan Sugi akan melaksanakan pemilihan kepala desa. Salasa Siregar, Ketua LPHD di Desa Marancar Julu berharap kepala desa yang baru bisa mengalokasikan anggaran untuk pengelolaan hutan desa sebagai bentuk nyata dari kebijakan tersebut.

 

Dedy Iskandar adalah Spatial Policy Senior Coordinator di Sumatera Utara, CI Indonesia.

Sarmaidah Damanik adalah Project Officer di Sumatera Utara, CI Indonesia. (23​ Desember 2016)

​​