Pelepasliaran Owa Jawa Pertama di Dunia

Owa Jawa dilepas ke alam

©CI/Ismail Saleh
 
 

Untuk pertama kalinya, sepasang satwa langka - Owa Jawa, berhasil dilepasliarkan di Hutan Patiwel, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) - Bodogol, Jawa Barat. Kegiatan pelepasliaran diresmikan oleh Menteri Kehutanan MS Kaban pada Jum’at, 16 Oktober 2009 lalu, yang juga dihadiri oleh undangan dari berbagai kalangan, seperti perwakilan negara-negara sahabat, pemerintah daerah, LSM konservasi, peneliti, pelaku bisnis, dan pemuka masyarakat setempat.

Echi (betina) dan Septa (jantan) yang sekarang berumur 10 tahun, sebelumnya disita dari pedagang satwa liar secara terpisah. Owa Jawa (Hylobates Moloch) biasanya dijadikan satwa peliharaan oleh masyarakat sejak mereka masih kecil. Mereka biasanya masuk ke pusat rehabilitasi sekitar umur 6-7 tahun. Echi dan Septa kemudian diselamatkan dan bertemu di Javan Gibbon Centre (JGC) pada tahun 2003 dan dijadikan pasangan kembang biak pada tahun 2008. Pelepasliaran Echi dan Septa telah dipersiapkan sebelumnya melalui proses rehabilitasi yang panjang di Pusat Rehabilitasi JGC. Ketua Yayasan Owa Jawa sekaligus Penasihat untuk Javan Gibbon Center, Dr. Noviar Andayani, menjelaskan keputusan pelepasliaran sepasang owa jawa ini didasarkan pada kemajuan fisik, kesehatan, hingga perilaku sosial mereka yang sangat pesat. Proses rehabilitasi telah berhasil mengembalikan perilaku mereka seperti owa liar lainnya. “Keduanya juga dipastikan bebas dari penyakit menular seperti TBC dan hepatitis yang umum ditemukan pada satwa bekas peliharaan,” jelasnya.

BACA JUGA : Rehabilitasi Owa Jawa

Selama enam tahun dalam masa rehabilitasi, Echi dan Septa dilatih untuk bersikap seperti owa liar lainnya, termasuk memakan dedaunan dan buah-buahan hutan serta memanggil rekannya dengan nyanyian paginya (morning call). Owa Jawa mempertahankan wilayah dan menjaga keutuhan keluarganya dengan saling memanggil dengan nyanyian mereka. Anton Ario, Deputi Manajer Program CI Indonesia, menuturkan, “Sebagai hewan peliharaan yang hidup di sekitar manusia, mereka terbiasa berperilaku seperti manusia. Mereka bahkan memakan nasi dan ayam goreng, karena memang itu yang diberikan
kepada mereka.”

Anton Ario juga menjelaskan, “Owa Jawa bisa sangat berbahaya bagi manusia ketika mereka sudah berada di habitat aslinya. Mereka mempunyai cakar dan gigi yang kuat. Pada mulanya mungkin mereka ramah karena mereka terbiasa dibesarkan sebagai hewan piaraan.” Mereka juga dilatih untuk berhati-hati kepada manusia agar jangan dengan mudah tertangkap lagi. “Semakin liar mereka, semakin bagus,”
tambah Anton lagi.

Kita berharap pasangan Owa Jawa ini akan bertahan dan berkembang biak di habitat aslinya. “Kami harap mereka akan mempunyai bayi dalam beberapa tahun ke depan,” jelas Kepala Taman Nasional, Ir.Soemarto. Kawasan TNGGP saat ini memiliki 15.156 hektar kawasan hutan yang belum tersentuh dan 7.650 hektar berada dalam program reforestasi untuk dijadikan habitat yang sehat bagi kehidupan Owa Jawa yang dilepasliarkan tersebut. Beliau menambahkan, “Dalam tiga tahun ke depan, keluarga Owa Jawa akan membutuhkan kawasan hutan seluas 17, 5 hektar sebagai tempat tinggal dan mencari makan.”

Menurut Ir. Soemarto juga, lokasi pelepasan Owa Jawa di TNGGP tersebut akan dipantau secara ketat dan terus menerus untuk menghindari penangkapan kembali. “Tentu saja, upaya pelepasliaran Owa Jawa harus disertai dengan upaya penegakan hukum dan pendidikan masyarakat untuk tidak memburu atau memelihara satwa itu,” jelas beliau. Untuk itu, mereka telah mendidik penduduk lokal untuk ikut terlibat melindungi Owa Jawa dari para pemburu liar. “Kami melibatkan para petani yang bekerja di sekitar taman nasional untuk membantu mengawasi keberadaan Owa Jawa,” tambahnya.

Owa Jawa merupakan satu-satunya jenis primata tidak berekor dari keluarga owa (famili Hylobatidae) yang ditemukan menyebar di Pulau Jawa (endemik). Kerabat owa lainnya hidup di Sumatera (2 jenis),  Mentawai (1 jenis), dan Kalimantan (2 jenis). Satwa ini berstatus terancam punah (endangered) menurut Badan Konservasi Dunia (IUCN). Menurut Noviar Andayani juga, sekarang ini hanya tinggal sekitar 3.000-5.000 ekor Owa Jawa yang hidup di hutan yang terbentang mulai dari Banten hingga Jawa Tengah.

Penyebab kelangkaan Owa Jawa ini adalah semakin berkurangnya secara drastis kawasan hutan hujan tropis pulau Jawa yang menjadi tempat hidupnya di bawah tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi manusia yang terus meningkat. Selain itu, tingkat perburuan satwa ini juga tergolong tinggi. Owa Jawa dikenal sebagai salah satu satwa yang paling digemari masyarakat sebagai satwa peliharaan, sehingga turut meningkatkan risiko kepunahannya. “Kita tentu tidak ingin melihat Owa Jawa punah,  seperti halnya Harimau Jawa yang sekarang hanya bisa kita lihat dari gambar dan patungnya saja,” tambah Anton Ario.

Pelepasliaran Owa Jawa ini merupakan suatu peristiwa bersejarah bagi upaya konservasi di Indonesia. “Ini merupakan pelepasan pertama yang dilakukan terhadap Owa Jawa bekas peliharaan dan tentunya sekaligus menjadi peristiwa yang pertama di dunia,” kata Dr. Jatna Supriatna, mantan Vice President Conservation International-Indonesia (CI-Indonesia), yang sangat antusias dan sejak awal mendukung
upaya rehabilitasi ini.

PELAJARI : Bentang Alam

Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen semua pihak dalam menyelamatkan salah satu satwa kebanggaan masyarakat Indonesia tersebut. Selamat kembali pulang Echi dan Septa!