​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Tembok Hijau: Mengembalikan Rumah Satwa Liar

​Indonesia​     English​​


Catatan editor: ​Artikel ini merupakan bagian dari Seri Restorasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Salah satu warga dari Desa Cihanyawar menanam kembali pohon di kawasan yang gundul di Resot Nagrak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/penanaman%20masyarakat.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Anton Ario
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Ekosistem merupakan kesatuan tatanan dimana antara makhluk hidup dan lingkungannya ada hubungan timbal balik yang tak terpisahkan. Hutan adalah salah satu contoh ekosistem alam dimana kedua unsur, satwa liar dan lingkungan, sali​ng membutuhkan, dan mempengaruhi. Kerusakan fungsi hutan seperti berkurangnya penutupan lahan akan mengganggu status satwa liar. Restorasi atau tindakan pemulihan perlu dilakukan guna memperbaiki kerusakan melalui tindakan penanaman dan pemeliharaan, serta  pemberdayaan masyarakat untuk mengembalikan fungsi dan keseimbangan ekosistem tersebut.​

Taman Nasional Gunung Gede Pangarango (TNGGP), khususnya di Resot Nagrak,  Sukabumi, Jawa Barat, sejak tahun 2008 melaksanakan program restorasi bernama Tembok Hijau​ atau Green Wall. Pada saat itu, sebagian ekosistem hutan di wilayah tersebut mengalami kerusakan. Konsep utama program tidak hanya memperbaiki tatanan hutan, tetapi juga mengubah wawasan masyarakat untuk berpikir pro lingkungan (hijau). Peran aktif mereka merupakan kunci utama dari program ini, ditambah dengan dukungan dari pemerintah daerah. 

“Tembok hijau akan menjaga satwa aman di hutan, dan juga mengamankan keselamatan penduduk di Jakarta dari kekeringan,” Sanjayan, seorang ilmuwan konservasi dunia dari Amerika memaparkan.

Tahun 2003, Kawasan TNGGP mendapatkan penambahan areal sekitar 7.655 hektar dari hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani. Sebagian besar areal ini rusak karena deforestasi dan degradasi. Kawasan tersebut rawan terhadap bencana alam seperti erosi tanah, dan banjir karena berkurangnya secara drastis tegakan pohon sebagai akibat pembukaan areal hutan untuk lahan pertanian masyarakat. Areal hutan tersebut kehilangan fungsinya dalam menghasilkan oksigen, penyerapan karbon dan mencegah pemanasan global. Fungsi ekosistem yang seharusnya ada pada hutan ini tidak terlihat sama sekali.

​​​​Program Tembok Hijau fokus pada area seluas 300 hektar. Penanaman pohon yang sesuai ekosistem alami wilayah bisa mengembalikan satwa liar karena terciptanya satu koridor kehidupan yang baru. Sementara bagi masyarakat, ada hitungan bahwa dalam satu hektar area hutan yang didalamnya terdapat 500 pohon, diperkirakan dapat menyimpan air sebesar 10,5 juta liter air per tahun. Merestori kawasan yang terdegaradasi seluas 300 hektar sama dengan memastikan ke tersediaan air sebanyak 3,15 miliar liter per tahun. ​​​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Seorang warga sedang memanen mentimun setelah mengoptimalkan lahan yang ia miliki.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/panen%20ketimun%20masyarakat.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Anton Ario
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Program diawali dengan membangun pemahaman dan penyadaran awal masalah lingkungan disampaikan ke masyarakat. Pengetahuan bahwa kawasan ini memiliki potensi air sebesar 231 milyar liter per tahun, yang bermanfaat bagi mereka, dan lebih dari 30 juta orang​ disekitarnya termasuk ibukota Jakarta. Pemahaman bahwa pola tanam tumpang sari dengan tidak adanya tegakan pohon dapat menimbulkan bencana longsor dan banjir. Termasuk fungsi mereka sebagai social buffers yang mendukung upaya perlindungan alam.​

​​​Target kegiatan dilakukan pada masyarakat yang berjumlah kurang lebih 780 orang dari enam kampung yang berada di Desa Cihanyawar, Nagrak Sukabumi. Mereka dilibatkan dalam penanaman kembali dengan mengawali proses melalui penilaian area tanam, seperti identifikasi lahan, pemetaan dan pembuatan persemaian. Penanamanpun dilakukan dengan pembuatan jalur kontrol, lubang tanam, persiapan ajir, persiapan bibit  dan penanaman. Pendampingan masyarakat yang terlibat juga dilakukan  termasuk pada monitoring, evaluasi dan penyulaman. Sejauh ini, telah tertanam lebih kurang 120.000 pohon hutan dan 13.000 pohon buah produksi di batas kawasan hutan dalam luasan 300 hektar tersebut. ​

Ono Engkan, salah seorang petani dari desa Cihanyawar, kecamatan Nagrak Sukabumi menyatakan, "Dukungan usaha pertanian yang saya terima memberikan keuntungan lebih sehingga saya bisa menyekolahkan anak-anak, dan saya bisa membeli sebidang tanah baru untuk pertanian."​

Fasilitas dukungan dalam penjualan hasil dilakukan dengan membuat Koperasi Desa. Masyarakat diajak berorganisasi dalam mengembangkan koperasi tersebut. Proses pembentukan koperasi ini melalui rangkaian pertemuan, sosialisasi dan pelatihan oleh Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sukabumi kepada calon-calon anggota koperasi.​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Rumah Abah Ujang, warga Kampung Tengek akhirnya mendapatkan listrik dengan bantuan pembangkit listrik tenaga air.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/TH3.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Anton Ario
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​Pendidikan dan penyadaran konservasi juga disampaikan ke sekolah-sekolah oleh staf  TNGGP beserta staf Conservation International (CI​). Materi disampaikan melalui presentasi, film, permainan, dan buku. Dampaknya, partisipasi siswa dalam mendorong masyarakat yang tinggal di dekat kawasan taman untuk terlibat dalam program konservasi, seperti penghijauan, pelaporan perburuan, perlindungan dari pemanfaatan ilegal. Sejauh ini 40 sekolah telah dikunjungi mulai dari SD - SMA, dan melibatkan sekitar 1.475 siswa.

​Tahap cukup penting yang dilakukan adalah membuktikan bahwa air sangat penting bagi kehidupan. Staf TNGGP dan CII bersama masyarakat di tiga kampung membangun pipa paralon sejauh 6 km untuk bak-bak penampungan air yang disediakan di kampung tersebut. Dukungan lebih jauh pada Masyarakat Kampung Tengek yang paling dekat dengan kawasan melalui listrik tenaga air berkekuatan 500 watt. Kampung kecil berpenduduk 6 enam keluarga ini akhirnya bisa menikmati listrik. 

​​"Dengan adanya listrik sekarang anak saya bisa belajar malam hari, dan kita jadi seperti orang-orang di kota," jelas Solihin, pria berusia mendekati 45 tahun yang belum pernah merasakan listrik.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Kijang (Muntiacus muntjak) terekam oleh kamera perangkap di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Indonesia.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/TH4.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​Saat ini, 300 hektar wilayah kerja program Tembok Hijau sudah kembali. Setelah delapan tahun pelaksanaan program, ekosistem hutan kembali terbentuk dengan adanya pohon-pohon yang mulai membesar. Pemantauan fauna melalui metode Point Count untuk satwa burung dan perangkap kamera (camera trap) untuk mamalia tercatat bahwa hutan sudah kembali pada tatanannya dan menjadi tempat berlindung satwa liar. Melalui pemantauan yang dilakukan, diketahui 24 jenis burung yang telah menempati areal restorasi tersebut, dan terpantau 5 jenis mamalia yang telah menggunakan area tersebut.​ 

​(Anton Ario)​




​​

Divider Shadow Line

Saksikan juga film Tembok Hijau​​ di Youtube kami.

Program Tembok Hijau dimulai pada Juli 2008 dengan dukungan dari Daikin Industries bertujuan untuk melakukan restorasi ekosistem pada kawasan seluas 300 hektar di dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Program ini merupakan kolaborasi antara Balai Besar TNGGP, pemerintah daerah, masyarakat lokal dan CI Indonesia.​​

​​​