​​​​​ Sains: Mengapa Harus Kopi Konservasi

​Indonesia   English​


Kopi arabika memiliki syarat tumbuh baik pada daerah dengan garis lintang 20° LS sampai 20° LU, ketinggian tempat 700 sampai 2.000 m dpl (rekomendasi >1.000 m dpl), curah hujan 1.500 sampai 2.500 mm/th, bula​​n kering (curah hujan <60 mm/bulan) 1-3 bulan dan suhu udara rata-rata 15-25° C. Pertumbuhan kopi arabika memerlukan temperatur optimum 23°C pada siang hari dan 17°C di malam hari.

Pemasan global yang terjadi saat ini sangat mepengaruhi pertumbuhan  dan produksi kopi arabika di Sumatera Utara. Dalam  pengukuran suhu rata–rata  selama 5 tahun (2011-2015) oleh Stasiun Klimatologi Sampali, Medan (ECMWF Data) di tiga kabupaten lokasi pertumbuhan kopi yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli selatan dan Mandailing Natal dalam 5 tahun digambarkan seperti grafik dibawah:

  ​

 

 

Secara global, survey​ antara tahun 1951 sampai 1980 dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mencatat hingga bulan Maret tahun 2016 sebagai puncak kenaikan suhu tertinggi. Pada bulan Januari kenaikan suhu 1.13°C, bulan Februari 1.34°C dan bulan Maret naik 1.28°C.

Dari grafik pengukuran suhu terlihat bahwa terjadi peningkatan suhu dari tahun ke tahun dan tahun 2015 menunjukkan peningkatan suhu sangat signifikan. Suhu rata–rata sepanjang tahun sudah diatas dari 23°C. Lingkungan memberikan dukungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi. Kondisi lingkungan yang baik akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang optimal dan produksi kopi yang maksimal.

​Hubungan Petumbuhan dan Perkembangan Kopi Terhadap Perubahan Iklim

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/kopi10.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Isner Manalu
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.
  • ​​Pembentukan Bunga

Tanaman kopi membentuk bunga dari mata tunas yang berada diketiak–ketiak daun pada cabang plagiotrop. Masing–masing ketiak daun terdapat sekitar lima mata tunas, setiap cabang plagiotrop terdapat satu pasang daun yang saling berhadapan sehingga pada setiap buku terdapat 10 mata tunas. Setiap mata tunas dapat tumbuh membentuk organ vegetatif dan generatif atau tetap dalam keadaan dorman. Pertumbuhan mata tunas menjadi primordia bunga memerlukan proses diferensiasi yang dipicu oleh faktor lingkungan  diantaranya cahaya dan temperatur.

Pembentukan primordia bunga kopi dipengaruhi oleh lama penyinaran, panjang hari kritis kopi arabika sekitar 13-14 jam.  Jika panjang penyinaran matahari lebih lama dari atas ini, akan menghambat pembentukan bunga, dan tanaman hanya tumbuh vegetatif. Pembentukan primordia bunga kopi arabika  pada panjang hari 8 jam memerlukan waktu 2,5 bulan sedang pada panjang hari 12 jam memerlukan waktu 3 bulan.

Intensitas cahaya yang terlalu rendah juga akan menghambat pembentukan primordia bunga  dan sebaliknya cahaya yang terlalu banyak tananman akan merugikan pertumbuhan tanaman. Proses pembentukan primordia bunga dirangsang oleh perbedaan amplitudo antara temperatur maksimum siang dan temperatur minimum malam hari dengan perbedaan suhu 7°C. Bila amplitudo temperatur terlalu kecil  (cuaca mendung, naungan terlalu gelap)  pembentukan primordia bunga berkurang sehingga produksi berkurang.

  • Pertumbuhan Bunga Kopi

Pembentukan primordia bunga dimulai pada akhir musim hujan dan berkahir pada pertengahan musim kemarau selama sekitar 2-3 bulan, perkembangan berhenti yang dikenal dengan stadium lilin dengan kuncup bunga 8-12 mm. Dorman stadium lilin ini dapat dipatahkan dengan curah hujan minimal 3-4 mm hingga bunga tumbuh mekar. Apabila selama stadium lilin tidak cukup curah hujan kuncup bunga akan kering dan gugur. Pemekaran bunga memerlukan hujan sebagai pemicu utama untuk merangsang kuncup bunga yang dorman dan akan mekar dalam waktu 7 hari. Apabila tanaman mengalami kekeringan setelah bunga mekar, pentil buah akan mengalami hambatan pertumbuhan.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/kopi6.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Isner Manalu
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.
  • ​Perkembangan Buah Kopi

Pertumbuhan dan perkembangan buah kopi terlihat jelas mulai 6-8 minggu setelah anthesis,   selanjutnya mencapai fase kepala jarum, perkembangan cepat, pembentukan biji, akumulasi beras kering  dan pemasakan buah. Tipe curah hujan berpengaruh terhadap pertumbuhan buah kopi. Sampai pada batas tertentu buah kopi akan semakin besar bila iklim semakin agak kering. Namun bila lebih dari batas itu buah kopi akan mengecil karena kekurangan air. Besar biji kopi dan rendemen menunjukkan korelasi positif terhadap ketinggian tempat. Faktor kekeringan yang cukup panjang dapat menyebabkan kerontokan pada buah kopi.

Pada saat kondisi kering laju fotosintesis dan pembentukan karbohodrat juga berkurang sehingga untuk pertumbuhan kopi diambil dari karbohodrat dalam cabang. Akibatnya cabang mati dan buah dicabang rontok. Kondisi kekeringan juga mengakibatkan penguapan air dari tanah secara intensif sehingga penyerapan unsur hara dari tanah oleh akar terganggu.

Sustainable Landscapes Partnership Menjawab tantangan Perubahan Iklim  dalam Penerapan Kopi Koservasi bersama Petani

Perubahan iklim saat ini sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman kopi. Dalam kondisi seperti ini perlu dilakukan satu tindakan mitigasi dalam praktek budidaya kopi yang dikenal dengan Budidaya Kopi Koservasi.  Kelompok Tani Kopi  Aman Terpadu di Desa Hutaginjang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara telah aktif mengikuti kegiatan Sekolah Lapang (SL) Kopi yang diselenggarakan  oleh Conservation International Indonesia dengan mitra lokal, Pansu.  Kegiatan SL dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan.​

​​​​​Images Slideshow Carousel (half page)

Carousel Configuration​

EditCarousel Title:
Edit Carousel Orientation:leftLeft
EditAnchor tag for sticky nav (optional):[Optional]
EditImage RenditionID Small:15[Optional]
EditImage RenditionID Webkit:17[Optional]
EditImage RenditionID Medium:18[Optional]
EditImage RenditionID Large:19[Optional]

Carousel Images

Image

EditImage:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/kopi12.jpg
EditImage Alt Text:
EditCaption Title:
EditCaption Description:Riris berada di kebun kopi miliknya.
EditPhoto Credit:© CI/photo by Elidon M. Sitio
Remove this imageMove UpMove Down

Image

EditImage:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/kopi.jpg
EditImage Alt Text:
EditCaption Title:
EditCaption Description:Welseng berada di kebun kopi miliknya.
EditPhoto Credit:© CI/photo by Elidon M. Sitio
Move UpMove Down​​
Add another image...
Remove this module

​​​​Praktek budidaya kopi konservasi dalam perawatan kebun  seperti  pemeliharaan pohon pelindung dan pemangkasan; penggunaan pupuk cair organik dan pupuk kompos organik; penggunaan serasah sebagai penutup tanah; pengendalian hama Penggerek Buah Kopi dengan menggunakan alat perangkap dan pengendalian secara biologi (Beauveria bassiana); pengandalian hama dan penyakit lain dengan pestisida nabati; serta penggunaan limbah kopi menjadi kompos.

Tidak pernah terpikir oleh Riris Swarni Lumbantoruan, salah satu petani kopi, penggunaan lobang angin di mata lima kebun sangat banyak manfaatnya. “Serasah yang kami kumpulkan di lubang dan disiram dengan mikro organisme lokal (MOL) akan membusuk menjadi pupuk bagi tanaman kopi. Selain itu, berfungsi juga menjadi biopori saat musim hujan yang menambah kemampuan tanah menyimpan air. Hasilnya, buah kopi saya dalam musim tahun ini lumayan meningkat hampir setiap pohon nampak berbuah lebat. Kami sangat bersyukur adanya program SLP ini.” ujarnya.

Hal yang sama dirasakan juga oleh Welseng Simaremare yang juga petani kopi. “Saya praktekkan langsung di kebun kopi dengan pemberian pupuk cair pada setiap batang kopi dan juga kompos padat yang kami buat sendiri. Hasilnya yang sangat baik. Saya melihat tanah sekitar kebun kopi itu makin gembur dan subur. Penambahan bahan-bahan organik dan MOL memacu pertumbuhan kopi, pembungaan hingga menjadi buah.” ungkapnya.

Kelompok Tani Aman Terpadu juga melakukan penjualan gabah ke penyuplai di Kecamatan Lintongnihuta dengan memberikan harga lebih tinggi Rp 2000 – Rp 3000 per tumba dari harga pasar Siborongborong. (Isner Manalu/28 Juni 2016)