​​​​​​​​​​​​​​​​Menabung Dengan Sampah Untuk Generasi Masa Depan

Indonesia     English​


Mengumpulkan dan menjual sampah tidak hanya menghasilkan uang yang diperlukan untuk kebutuhan di masa depan. Namun, juga menahan karbon dan menjaga kebersihan air yang penting bagi kehidupan manusia. Hal ini yang dilakukan oleh santri putri (red: murid) Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara.

Sebagai salah satu sekolah Islam yang tertua di Sumatera dan jumlah santri mencapai kurang lebih 11.000 orang bisa dipastikan sampah yang dihasilkan pun banyak. Dalam sehari pesantren dapat menghasilkan dua ton limbah sampah. Timbunan sampah ini menumpuk di belakang pesantren dan juga di sepanjang tepi sungai yang terhubung langsung ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Sampah milik salah satu santri putri sedang ditimbang untuk dapat diberikan harga yang sesuai.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/P1030172.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Untuk menjawab permasalahan sampah, Musthafawiyah meluncurkan bank sampah yang bernama Jihadi, artinya perjuanganku pada tanggal 16 Agustus 2016. Sebanyak 500 santri putri terdaftar sebagai nasabah pada hari tersebut dan disaksikan oleh Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (BLHKP), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Mandailing Natal, Balai Taman Nasional Batang Gadis, Perkumpulan Arta Jaya, Bank Sampah Induk UD Berkat Sabar dan lembaga swadaya masyarakat seperti SRI dan Forester. Jumlah sampah yang terkumpul mencapai satu ton dengan nilai jual sebesar Rp 1.100.000.

"Bank sampah ini menjadi praktek pengelolaan sampah di pesantren dan merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah dalam program Indonesia bebas sampah tahun 2020 dan pengelolaan DAS," tegas Hajjah Hannah Chaniago, Direktur Bank Sampah Jihadi. Sebelumnya, beberapa kegiatan pendahulu pengenalan bank sampah disampaikan oleh Armawati Chaniago dari Perkumpulan Arta Jaya. Para guru diberikan pelatihan pengelolaan sampah dan kegiatan penyadartahuan kepada santri agar lebih memahami manfaat dari program bank sampah.

Konsep bank sampah ini sama dengan bank pada umumnya. Perbedaaanya adalah pada bank sampah para nasabah menyetorkan sampah yang mereka miliki. Barang yang disetorkan akan ditimbang dan diberikan harga berdasarkan jenis dan beratnya. Setiap transaksi yang telah dilakukan akan dicatat di dalam buku tabungan milik nasabah.​

Kesadaran dan antusiasme santri putri sangat besar dalam mendukung berjalannya program tersebut. Saadah, pengurus sekaligus nasabah bank sampah menyatakan, "kami sangat senang dan bersyukur adanya bank sampah di pondok pesantren kami. Sekarang tempat sampah kami tidak lagi dipenuhi sampah. Lingkungan kami bersih jadi terbebas dari bau dan lalat. Selain itu, uang yang sudah dikumpulkan dari hasil menyetor sampah dapat digunakan untuk membeli perlengkapan seperti pasmina dan melanjutkan sekolah nantinya."​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Santri putri menunggu giliran dalam pencatatan transaksi di buku tabungan bank sampah.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/P1030165.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​Saat ini hanya santri putri saja yang menjadi nasabah. Hal ini karena adanya keterbatasan dalam perlengkapan seperti buku tabungan dan alat pendukung lainnya. Namun, antusias yang tinggi juga sudah ditunjukkan oleh santri putra dan para guru.

"Santri putra juga sudah mulai mengumpulkan sampah-sampah disekitar mereka bahkan sampai ada berinisiatif untuk membentuk kelompok dan melaporkannya ke guru mereka untuk di setorkan ke bank sampah. Begitu pula dengan guru-guru. Mereka tidak sabar untuk bisa mendaftar jadi nasabah," kata Hannah.

Masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal sendiri masih rendah tingkat kesadarannya terhadap sampah. Setiap harinya pemerintah mengumpulkan dan mengangkut puluhan ton sampah untuk dibuang di tempat pembuangan akhir. Pemerintah melalui BLHKP sangat mengapresiasi bank sampah di Musthafawiyah sebagai langkah yang cepat dan tepat dalam mengatasi sampah di Mandailing Natal serta mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah barang buangan ternyata bisa berharga.

"Kami sangat berterimakasih kepada CI (red: Conservation International) yang telah mendampingi terbentuknya bank sampah dan mengajak BLHKP untuk bersama-sama dalam menindaklanjuti program tersebut. Badan ini akan mendukung keberlanjutan program dan pembentukan secara resmi sesuai dengan peraturan pemerintah Indonesia," jelas Abd Kholik, Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan BLHKP Mandailing Natal. Saat ini, BLHKP juga menggiatkan program pengelolaan sampah melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Kepala BLHKP Mandailing Natal, Ahmad Ansyari Nasution menambahkan bahwa program ini mendukung pembangunan rendah karbon, menjaga kelestarian DAS dan menciptakan kehidupan masa depan yang lebih baik.

(Hasby Hasbollah)​