​​​​Alam dan Murid: Membangun Nilai Cinta Lingkungan pada Anak

Indonesia   English​​​


​Block Quote

Block Quote Config

EditAnchor Tag:[Optional]
EditQuote Text (Do not add quotation marks):Kami baru tahu kalau kertas itu terbuat dari pohon, kami juga baru tahu kalau sampah itu lama membusuknya.
EditQuote Attribution:Roy Lamhot Sinamo mengatakan.
Remove this module

​Pernyataan tersebut disampaikan oleh Roy, salah satu murid kelas III Sekolah Dasar Negeri (SDN) 035944 Parongil Jehe, Kecamatan Tinada, Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara, yang mengikuti kegiatan penyadartahuan lingkungan pada anak sejak dini. Anak-anak di sekolah ini mendapatkan pengetahuan bahwa menjaga dan memelihara kelestarian alam merupakan tanggung jawab semua orang.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Anak-anak sedang menonton film mengenai alam.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/1.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Sarmaidah Damanik
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Dengan luas hutan yang mencakup kurang lebih 80% dari total luas wilayah kabupaten, peran seluruh masyarakat merupakan kunci keberhasilan pelestarian alam. Hutan Pakpak Bharat bukan hanya penting karena kaya akan keanekaragaman hayati tetapi juga sumber penghasilan bagi sebagian besar penduduknya.

Keadaan dan kondisi inilah yang mendasari pentingnya penyadartahuan arti hutan dan lingkungan ditanamkan pada generasi muda sejak dini. Hal tersebut merupakan bekal pengetahuan bagi mereka untuk nantinya meneruskan budaya memelihara dan menjaga alam, tidak hanya di kabupaten mereka, tetapi dimanapun mereka berada.

“Kami diajarkan untuk menanam dan merawat pohon, baik di rumah maupun di sekolah”, ungkap Roma Aprilia Padang, murid kelas III SDN Jambu Mbellang, Desa Siempat Rube II, Kecamatan Siempat Rube, Kabupaten Pakpak Bharat.

Conservation International (CI) Indonesia melalui program Sustainable Agriculture Landscapes Partnership (SALP), telah menjalin kerjasama dengan beberapa sekolah dan siswa untuk berpartisipasi penuh pada kegiatan ini. Kegiatan ini sudah dilakukan di SDN 030426 Lae Trondi dan SDN 030414 Kecupak pada tahun 2015. Sekarang kegiatan dilaksanakan di SDN 034816 Jambu Mbellang dan SDN 035944 Parongil Jehe.

Kegiatan edukasi ini dilakukan pada kelas II dan III sebanyak tiga kali di setiap sekolah. Adapun  tema kegiatan yang dibawakan adalah hutan dan kehidupan, pemilahan sampah dan air sebagai sumber kehidupanUntuk tema hutan dan kehidupan, para murid diajak menanam pohon buah-buahan di masing-masing sekolah. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan guru kelas maupun guru sekolah yang hadir dalam kegiatan tersebut.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Anak-anak sedang bermain menggunakan funboards.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/6.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Syaiful Purba
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Kepala Sekolah SDN 034816 Jambu Mbellang, Saidup Manik menyampaikan, “sampai saat ini 10 bibit buah; kelengkeng, jambu air madu dan rambutan yang ditanam sejak bulan Januari 2016 di areal sekolah masih hidup dan dirawat dengan baik oleh siswa.”

Dalam rangka mendukung dan melatih para murid memilah sampah or​ganik dan anorganik, sebanyak 12 buah tempat sampah diberikan kepada dua sekolah yakni SDN 030426 Lae Trondi dan SDN 030414 Kecupak. Setiap kelas dilengkapi dua tempat sampah untuk proses pemilahan.

"Anak-anak masih harus selalu diingatkan untuk memilah sampah kering dan basah, selain itu sampah yang sudah dipilah tetap kembali harus di gabungkan pada saat dikumpulkan petugas kebersihan karena belum ada pengelolaan sampah kering maupun sampah basah yang dilakukan", ungkap Kepala Sekolah SDN 030414 Kecupak, Nursiah Berutu.

Sedangkan kegiatan dengan tema air sebagai sumber kehidupan dilakukan melalui pemutaran film mengenai kura-kura untuk menceritakan kehidupan alam yang harmonis dengan alam menjadi hancur karena penebangan hutan secara berlebihan. Ada pula kegiatan mengisi buku seperti gunting tempel, mencari perbedaan, mewarnai dan lainnya. Selain itu, permainan edukatif menggunakan funboard sangat diminati oleh para murid.

Permainan ini hampir mirip dengan ular tangga, dengan konten berisi pesan ‘Perilaku Baik dan Buruk terhadap Lingkungan’. Papan permainan berukuran sekitar 1 x 1 meter, 1 dadu dan 5 miniatur hewan, dapat dimainkan oleh lima murid secara bersamaan. Bila murid mendapatkan angka berisi perilaku buruk maka sanksinya langkah mundur dan sebaliknya. Melalui permainan ini para murid dapat mengetahui contoh perilaku yang ramah dan tidak ramah lingkungan.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Seorang murid melakukan handprint sebagai komitmen untuk menjaga lingkungan.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/9.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Syaiful Purba
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​Diakhir sesi seluruh murid beserta guru melakukan handprint (cetak tangan) sebagai komitmen atau keinginan mereka dalam menjaga lingkungan dan alam Pakpak Bharat.

Pada kunjungan edukasi yang dilakukan bulan April lalu, para murid kelas III SDN 035944 Parongil Jehe berharap agar kegiatan ini terus berlanjut, "besok-besok datang lagi ya Bu, biar kita belajar sambil main lagi", ungkap Tampan Tumangger, salah satu murid k​​elas III.

Harapan yang sama juga pernah disampaikan oleh Sampetua Boang Manalu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Pakpak Bharat pada bulan Agustus 2015, "kami sangat berharap kegiatan ini dapat diperluas di lebih banyak Sekolah Dasar yang lain, untuk menambah pengetahuan para murid tentang lingkungan." (Sarmaidah Damanik/28​ Juni 2016)