​​​​​​​​​​​​​​​​Manisnya Gula Aren Lebih Terasa dengan Kebersamaan

​Indonesia​     English​


Desa Bulu Mario, terletak di pinggiran Cagar Alam Sibualbuali, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Pedesaan ini sangat asri, serta dikelilingi oleh hutan alam, hutan perkebunan aren dan persawahan masyarakat. Tanaman aren menjadi habitat hutan di desa ini dan tumbuh secara alami karena  didukung oleh kondisi tanah yang subur, curah hujan yang tinggi sekitar 2000 – 3000 mm per tahun dengan ketinggian lokasi 800 meter di diatas permukaan. Pertumbuhan dan perkembangbiakan tanaman aren terjadi secara alami disebarkan oleh musang atau hanyut oleh air saat musim hujan.​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Iran Rambe sedang menderes aren.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/aren1.png
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Elidon Sitio
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Kholis Siregar, mantan Kepala Desa Bulu Mario selamat 2 periode (2004–2014) menceritakan pengalamannya membangun usaha aren di desanya. "Petani aren dulunya kerja sendiri, proses yang dilakukan masih tradisional, memakan waktu, sehingga jerih payahnya yang tidak sepadan," Kholis Siregar mengawali ceritanya.

"Mata pencaharian sebagai petani aren sudah lama dijalankan secara turun temurun oleh masyarakat. Data yang saya miliki menunjukkan 350 Kepala Keluarga penduduk desa ini, atau 90% adalah petani sekaligus pengolah aren. Walaupun pola perkebunan aren tumbuh secara alami namun jumlahnya pada setiap luasan hutan kebun masyarakat rata-rata 1-2 hektar, dengan jumlah pada kisaran 100 – 300 batang. Seorang petani aren dalam setiap harinya menderes sekitar 2–4 batang.

Selama bertahun-tahun mereka mengelola arennya secara tradisional, atau berjalan ke hutan untuk menderes tanaman aren liar. Mereka mengolah aren sadapan menjadi gula cetak. Hasil yang diperoleh dari usaha pengolahan tersebut tidak memuaskan secara ekonomi. Gula cetak yang diolah sekitar 5 jam sehari dijual dengan harga sekitar Rp 11.000 – 13.000 per kg. Padalah waktu pengambilan dan pengolahan yang panjang menyebabkan tidak ada lagi waktu untuk melakukan kegiatan usaha pertanian lainnya.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Gula cetak hasil pabrik Fahmi Anto Simatupang.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/IMG_2536.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Edy Suprayitno
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Awal tahun 2015, Yayasan Masarang Sulawesi menggali potensi sumber daya alam lokal dari bentang alam di sekitar kawasan masyarakat Desa Bulu Mario. Tidak luput dari hasil galian tersebut adalah potensi hutan kebun masyarakat yang cukup besar untuk dikembangkankan, termasuk aren dan pengolahannya.

Selanjutnya, yayasan, menugaskan Marthin Polii, ST, pada April 2015 melakukan pelatihan peningkatan produksi nira (redaksi: cairan manis yang didapatkan dari batang tanaman) melalui teknik penyadapan yang tepat, seperti menderes, mengiris, menjaga kebersihan wadah penampung nira dan pengolahan gula aren, kepada 30 orang petani dari desa Bulu Mario, selama lebih kurang 1 tahun.

Sejak mengikuti pelatihan ini para petani termotivasi untuk memperbaiki teknik deres. Termasuk juga menjaga kebersihan dari semua alat-alat kerja supaya kualitas nira tidak tercemar sehingga mudah menurunkan tingkat keasamannya. Tetapi petani tidak sampai pada mengolah gula semut karena peralatan yang cukup mahal, seperti tungku yang standar, oven pengering, saringan gula, dan lainnya.

Namun saya mempunyai pemikiran yang lain. Saya mengevaluasi kehidupan ekonomi yang minim, dan kenyataan petani harus memberikan 100% waktunya bekerja untuk menderes aren dan mengolah gula cetak. Saya perdalam pengetahuan kepada Pak Bambang (redaksi: Bambang Heri Santoso, seorang tenaga ahli yang paham peningkatan produksi nira). Beliau melatih bersama Yayasan Masarang, dan secara sukarela terus mendampingi petani aren walau program pelatihan telah selesai.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Kholis Siregar berada di dapur pengolahan gula aren yang sudah dimodifikasi.
EditPhoto Url:http://www.conservation.org/global/indonesia/cerita/PublishingImages/aren2.png
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Isner Manalu
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​Pak Bambang memberikan motivasi dan gambaran tentang potensi ekonomi pengolahan gula aren dan gula semut.  Saya diajak melihat model pengolahan ke kecamatan tetangga, yaitu Kecamatan Arse milik Pak Fahmi (redaksi: Fahmi Anto Simatupang salah satu pengolah gula aren dan gula semut). Beliau telah memproduksi gula aren selama 3,5 tahun, namun belum mampu memenuhi permintaan pasar. Saya jadi tambah semangat untuk memulai usaha pengolahan gula aren dan gula semut untuk memenuhi permintaan pasar, termasuk mendukung Pak Fahmi.

Bersama kelompok tani aren, saya mendiskusikan gagasan untuk membangun sentra produksi di mana petani bisa menyerahkan nira mereka untuk diproduksi berkelompok. Hasilnya terbentuk dua sentra pengolahan gula aren dan gula semut. Selanjutnya dari pengalaman kunjungan lapangan, saya memodifikasi tungku masak  yang lebih efisien, dan menjadi lebih baik, hemat bahan bakar, serta dengan alat sederhana. Hasilnya kebersihan nira terjamin dan tidak bercampur dengan asap, atau kotoran lainya. Selain itu, pembelajaran lain yang saya pakai adalah  membangun kebersamaan dalam kelompok petani aren supaya tercipta saling menguntungkan, dan bekerja sama.

Dengan dukungan dan fasilitasi Pak Bambang, kami membentuk kelompok Tani Aren Sobar Sipirok dan membentuk  badan Usaha Dagang (UD) Sobar. Menggunakan ayakan sederhana serta oven kapasitas kecil, kami mulai mengembangkan usaha ini. Dua tempat rumah pengolahan gula yang didirikan mempunyai kapasitas tempat masak masing-masing 120 liter, atau senilai produksi gula semut 15 kg per hari. 

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Gula semut produksi UD Sobar yang sudah dikemas dan siap dipasarkan.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/aren3.png
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Isner Manalu
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Saat ini produksi gula aren mencapai kisaran 2 ton seminggu dengan harga Rp 12.500/ kg sedangkan produksi gula semut belum terlalu banyak, sekitar 30 kg/hari senilai Rp. 40,000/kg. Masing-masing sentra pengolahan mempunyai 10 petani aren yang fokus hanya menyadap, dan menjaga kualitas nira tetap segar/tidak rusak dengan pH asam, dan kadar gula/brix  (redaksi: brix adalah tingkat kemanisan dari gula aren diukur dengan alat refractometer ) senilai 14. Saya dan Pak Iran Rambe masing-masing bertanggung jawab atas pengelolaan satu sentra.

Proses tidak berhenti di produksi namun juga dalam pengurusan Sertifikat Produksi Industri Rumah Tangga (SP-PIRT), atau sertifikat usaha produk olahan pangan bagi pelaku usaha kecil/rumah tangga ke Dinas Kesehatan. Kami juga membuat label dan kemasan produksi.

Mereka (redaksi: kelompok petani) saat ini lebih senang. Karena pekerjaan dilakukan berkelompok sehingga mempunyai waktu lebih leluasa dan bisa membantu pasangannya bertani di sawah. Malah kami sudah berhasil membantu Pak Fahmi untuk menambah persediaan beliau. Saya bermimpi suatu saat nanti seluruh petani di sini akan lebih banyak mengolah niranya menjadi gula semut di sentra-sentra pengolahan," Kholis menutup ceritanya.

 

Info: Yayasan Masarang Sulawesi adalah mitra lokal Conservation International melalui program Kemitraan Bentang Alam Berkelenjutan (Sustainable Landscapes Partnership - SLP) yang mendukung dalam penguatan kapasitas petani dalam penyadapan dan pengolahan aren.

Isner Manalu adalah SLP Senior District Program Coordinator, CI Indonesia.​ ​(23​ Desember 2016)