Mengisi Pembangunan Berwawasan Lingkungan di Raja Ampat
© CI-Indonesia
Fachruddin Mangunjaya
 
Kapal Penumpang Kei Raha, yang berkapasitas 200 orang, mulai merapat di Pulau Saonek. Sebuah pulau kecil yang menjadi ibukota Distrik Waigeo Selatan, Raja Ampat. Puluhan penumpang turun di pelabuhan ini, karena kapal kemudian melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau lain, terus berkeliling sehingga tujuan akhirnya ke Pulau Ternate, di Kepulauan Maluku

Perjalanan dari Sorong menuju distrik Waigeo Selatan ini memakan waktu lima jam dengan kapal rakyat dengan ongkos tiket Rp26 ribu. Tetapi jarak tempuh lebih cepat bisa dilakukan dengan speed boat yang hanya memakan waktu dua jam. Kabupaten Raja Ampat, letaknya jauh di bagian Indonesia Timur. Tergambar di peta, kawasan ini menjadi semacam ‘jambul’ penghias kepala burung peta Pulau Papua.
 
Kabupaten Raja Ampat merupakan salah satu hasil pemekaran dari 14 kabupaten yang ada di propinsi Papua.  9 Mei 2003, lalu Kabupaten ini mendapatkan  penunjukan pejabat bupati,  dan setelah dua tahun ini, akan segera melaksanakan pemilihan bupati secara langsung. 
 
Sebagai satu kabupaten baru, dengan dimotori oleh Pejabat Bupatinya, Marcus Wanma, Msi., Raja Ampat ingin menentukan jati dirinya untuk membangun kawasan dengan jumlah penduduk Setelah pertemuan antar pemangku kepantingan, di Pulau Misool, 13 Desember 2003, Raja Ampat langsung mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Bahari. Alasannya, kabupaten ini terletak di 610 pulau besar dan kecil dengan luar 46.000 km2. Dari luasan tersebut, 80% adalah lautan dan sisanya hampir 20 persen adalah daratan.
 
“Kami akan membangun Raja Ampat berbasis bahari. Ini adalah salah satu visi  yang kami tetapkan untuk kami akan perjuangkan,” ujar Marcus Wanma, Pjs. Bupati Kepulauan Raja Ampat.  Dengan basis ini, Marcus berhadap, raja Ampat dapat dibangun dan didukung oleh potensi sumberdaya alam yang lestari untuk menuju suatu masyarakat madani dalam konteks negara kesatuan Republik Indonesia.
 
Menindak lanjuti visi ini bupati telah mengusulkan agar pembangunan kawasan ini beranjak dari hasil-hasil perikanan dan ekowisata. Alasannya, kawasan ini memiliki kekayaan ikan karang dan keindahan panorama alam yang hebat. Tetapi sayangnya banyak wisatawan manca negara belum kenal kawasan ini sebagai kawasan tujuan wisata yang indah. Oleh karena itu, promosi keindahan pantai dan laut di Kawasan Raja Ampat, perlu lebih disosialisasikan.

Baca Lebih Dalam Tentang: Bentang Laut
 
Ada  empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat, yaitu: Pulau Waigeo, Pulau. Salawati, Pulau Batanta dan Pulau Misool. Walau pun terletak tidak jauh dari ujung kepala burung Pulau Papua,  Kabupaten kepulauan ini secara geografis berbatasan dengan beberapa negara tetangga:  di bagian utara, misalnya, berbatasan dengan Negara Palau dan Filipina, sedangkan di sebelah baratnya berdekatan dengan Propinsi Maluku Utara dan di bagian Selatan berdekatan dengan Kabupaten Fakfak, Provinsi Maluku dan  Kota Sorong. 
 
Perhatian terhadap potensi wisata di kawasan Raja Ampat, menurut Bupati Marcus Wanma, telah dia rintis.  “Buktinya, Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata telah secara khusus mengunjugi kawasan yang jauh di Timur Indonesia  ini.” Lanjut pejabat bupati yang kini juga sibuk berkampanye mencalonkan diri kembali ini, kunjungan Menteri Pariwisata ke kabupaten paling ujung di Papua ini bukan tanpa alasan, sebab panorama pantai, panorama laut, pulau dan  keanekaragaman karang maupun spesies ikan Kawasan Raja Ampat, berpotensi untuk dijadikan arena wisata laut. “Kekayaan yang dimiliki Raja Ampat menuntut pemerintah untuk lebih berperan dalam arti memperkenalkan kabupaten ini kepada dunia luar, kata Marcus. Lalu, bergandengan tangan dengan lembaga-lembaga konservasi seperti CI Indonesia dan COREMAPII, Pemda Raja Ampat bergerak melaju dengan program-programnya.
 
Menurut Irdez Azhar, Program Manager CI Indonesia di Raja Ampat, ada empat strategi yang di jalankan yaitu, sains, pengembangan masyarakat, kebijakan dan  pengelolaan kolaboratif serta penyadaran public. Pengembangan sains, menurutnya berawal dari tahun 2001, dimana CI Indonesia telah melakukan survey awal melalui Rapid Assessment Program (RAP). Lalu tahun 2003, CI melanjutkan mempelajari kawasan ini dengan survei sosial ekonomi.
 
Walau sudah berada di Raja Ampat selama empat tahun, namun pekerjaan konservasi dan pembangunan raja Ampat, diakui oleh Irdez barulah pada tahap awal dan perencanaan. “Belum banyak yang dikerjakan karena masih dalam tahap permulaan” katanya. Oleh karena itu, guna mewujudkan langkah yang baik baik pembangunan Raja Ampat yang berwawasan lingkungan, CI Indonesia menjembatani kebijakan semua pihak dengan memfasilitasi terbentuknya Forum Bersama Membangun Raja Ampat. Sarana itu, ditambah lagi dengan mendirikan sebuah radio komunitas sebagai wahana komunikasi para pemangku kepentingan.
 
Irdez menuturkan, ada berapa prospek yang bisa dikembangkan di Raja Ampat, pertama potensi wisata alamnya, kedua peningkatan kapasitas masyarakat. ”Saat ini, bersama masyarakat, Bersama COREMAP II, CI Indonesia tengah menjajaki kerjasama  dalam pengembangan budidaya rumput laut, pembuatan industri kerupuk ikan, dan fasilitas wisata alam. CI Indonesia juga sedang merancang Surat Kesepahaman (MoU) dengan COREMAP II dan beberapa LSM lain, agar berbagai kegiatan yang dijalankan lembaga konservasi ini jangan sampai tumpang tindih.//