Kucing besar
Setelah punahnya harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), yang ada hanya macan tutul jawa (Panthera pardus melas) sebagai kucing besar penghuni terakhir yang tersisa di Pulau Jawa.

Oleh: Anton Ario

Keterbatasan dalam melakukan penelitian macan tutul di alam menyebabkan informasi tentang macan tutul jawa belum banyak terungkap. Diperlukan penelitian-penelitian intensif untuk mengetahui berbagai fenomena satwa pemangsa utama di hutan pulau Jawa ini. Melalui monitoring macan tutul dengan perangkap kamera (camera trap) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, khususnya di wilayah Bodogol, CI Indonesia mencoba mengumpulkan informasi tentang keberadaan macan tutul di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sebagai bahan informasi konservasi, bahasan tulisan ini menampilkan tentang macan tutul berdasarkan berbagai referensi umum maupun berdasarkan penelitian macan tutul di kawasan konservasi di Pulau Jawa termasuk di Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Kelompok kucing besar
Macan tutul digolongkan ke dalam kelompok kucing besar di dunia, bersama dengan jaguar (Panthera onca), harimau (P. tigris), dan singa (P. leo). Dari keempat kelompok panthera, macan tutul-lah yang memiliki subspesies terbesar dari kelompok panthera lainnya. Sekitar 24 subspesies macan tutul yang ada di dunia, antara lain macan tutul dari Amur (Panthera pardus oriental), Cina Utara (P.p. japonensis), India (P.p. fusca), Jawa (P.p. melas atau P.p. sondaica), Sri Lanka (P.p. kotiya), Nepal (P.p. pernigra), Kashmir (P.p. millardi), Baluchistan (P.p. sindica), Persia Tengah (P.p. dathei), Persia Utara (P.p. saxicolor), Kaukasia (P.p. ciscaucasia), Asia Kecil (P.p. tuliana), Sinai (P.p. jarvisi), Afrika Utara (P.p. pardus), Eritrea (P.p. antinorii), Afrika Timur (P.p. suahelica), Zanzibar (P.p. adersi), Afrika Tengah (P. p. shortridgei), Tanjung Afrika (P.p. melanotica), Uganda (P.p. chui), Afrika Barat (P.p. leopardus), dan Kongo (P.p. ituriensi).

Macan tutul memiliki ukuran tubuh yang bervariasi. Panjang tubuh berkisar antara 90 - 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm. Bobot badannya berkisar 40 - 60 kg. Perbedaan subspesies ini selain dari ukuran tubuh, juga perbedaaan warna dasar rambut yang menutupi tubuh. Ada yang berwarna pucat kecoklatan, kuning terang sampai merah maroon gelap, berikut dengan tutul-tutul hitam besarkecil yang berpola di sekujur tubuhnya. Ukuran tubuh macan tutul terkecil dimiliki macan tutul Zanzibar (Panthera pardus adersi) sedangkan yang memiliki ukuran tubuh terbesar adalah macan tutul Afrika Utara (Panthera pardus pardus). Selain itu ukuran ekor juga beragam, seperti pada macan tutul Srilangka (Panthera pardus kotiya) yang memiliki ekor melebihi panjang tubuhnya. Sedangkan macan tutul yang memiliki rambut terpanjang dan indah adalah macan tutul asal Persia Utara (Panthera pardus saxicolor).

Selain memiliki ciri khas bertutul di sekujur tubuhnya, macan tutul juga memiliki variasi warna lain yaitu hitam. Variasi warna tubuh tersebut bukanlah menjadikan macan tutul yang bertubuh hitam tersebut adalah subspesies yang lain, tetapi sesungguhnya sub spesies
yang sama. Hal ini terbukti keduanya dapat kawin dan menghasilkan keturunan yang berwarna tutul dan berwarna hitam. Apabila dilihat secara seksama, tidaklah sepenuhnya tubuh macan tutul tersebut berwarna hitam. Ada tutul-tutul yang berwarna lebih gelap dibandingkan warna dasar. Macan tutul hitam ini banyak di jumpai di Jawa dan di Benggala, India. Bahkan untukjenis Panthera lainnya seperti Jaguar (Panthera onca) yang hidup di Amerika Selatan, kasus ini juga terjadi. Di Indonesia macan tutul hitam ini lebih dikenal dengan nama macan kumbang. Para ahli mengatakan bahwa perbedaan warna tersebut disebabkan oleh pigmen melanistik.

Penyebaran
Macan tutul dapat hidup dari hutan dataran rendah hingga pegunungan Dibandingkan kelompok Panthera lainnya, macan tutul tersebar paling luas di dunia. Dari daratan Afrika (kecuali gurun sahara), kawasan kecil Asia, Afghanistan, Turkistan, Iran, India, Sri Langka, sebagian daratan Cina termasuk di Cina Utara (bekas daerah Manchuria), daerah Amur-Ussuri, serta pulau Jawa. Di Indonesia macan tutul hanya dijumpai di pulau Jawa, khususnya di kawasan konservasi (Taman Nasional dan Cagar Alam) di pulau Jawa, bahkan dilaporkan dijumpai juga di pulau Kangean.

Para ahli berpendapat bahwa macan tutul jawa berbeda dengan macan tutul Asia lainnya. Macan tutul jawa berasal dari Asia Selatan yang tersebar dan terisolir di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Kemungkinan pada saat pemisahan pulau Jawa, Sumatera dan kalimantan, pada saat itu macan tutul juga terdapat di Sumatra dan Kalimantan, tetapi karena kelimpahan mangsa ungulate relatif rendah dan terjadi kompetisi dari karnivora lainnya hingga tidak dapat bertahan di kedua pulau tersebut. Suatu hal yang menarik memang, dan diperlukan pengkajian lebih lanjut tentang ini.

Perilaku
Macan tutul terkenal dengan kemampuan untuk datang dan pergi tanpa diketahui. Sebagai satwa karnivora, macan tutul umumnya memangsa satwa dari satwa ungulata seperti, rusa, kijang, kancil, babi dll. Tajamnya penglihatan dan penciuman, macan tutul tangkas dalam memburu mangsa pada malam hari maupun siang hari.

Hal menarik dalam perilaku macan tutul ialah dalam hal berburu mangsa. Mengendap perlahan, merasakan sentuhan kaki di atas tanah tanpa berbunyi, kepala ditundukkan dengan sorot mata tajam ke arah mangsa, mengamati dengan penuh kesabaran, berlari dan menerkam mangsa. Gigitan mematikan terjadi pada tengkuk dan leher mangsa. Gigitan pada punggung juga dapat terjadi apabila penyerangan dilakukan dari arah belakang untuk melumpuhkan mangsa. Kucing besar ini juga mampu menyeret dan membawa hasil buruannya ke atas pohon yang terkadang bobot mangsa melebih ukuran tubuhnya. Perilaku ini selain untuk menghindari kehilangan mangsa hasil buruan, selain itu juga untuk penyimpanan persediaan makanan.

Macan tutul termasuk karnivora pemanjat yang tangkas, baik dalam hal naik maupun turun walau dengan kepala terlebih dahulu. Selain itu juga merupakan perenang yang mahir.

Macan tutul dapat hidup hingga 21-23 tahun dalam penangkaran. Belum banyak diketahui masa hidup macan tutul di alam. Macan tutul yang hidup dalam teritori berkisar 5-15 km2. Bersifat soliter, tetapi pada saat tertentu seperti berpasangan dan pengasuhan anak, macan tutul dapat hidup berkelompok. Macan tutul jantan akan berkelana mencari pasangan dalam teritorinya masing-masing, dimana tiap daerah tersebut ditandai dengan cakaran di batang kayu, urine maupun kotorannya.

Macan tutul betina umumya memiliki anak lebih kurang 2-6 ekor setiap kelahiran dengan masa kehamilan lebih kurang 110 hari. Menjadi dewasa pada usia 3-4 tahun. Anak macan tutul akan tetap bersama induknya hingga berumur 18-24 bulan. Dalam pola pengasuhan anak, kadang-kadang macan tutul jantan membantu dalam hal pengasuhan anak. Bersama dengan induk betina membantu proses learning behavior anak untuk beraktivitas termasuk dalam hal berburu mangsa.


Macan tutul Gunung Gede Pangrango
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) merupakan salah satu satwa penghuni Taman Nasional Gunung Gede Pangrango selain owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata) dan elang jawa (Spizaetus bartelsi). Sebagai kawasan konservasi seluas lebih kurang 21.196 ha, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu habitat terbaik untuk macan tutul di Jawa Barat (Suparman, 2004).

Sebagai bagian kegiatan monitoring satwa di bodogol, hingga saat ini masih dilakukan monitoring macan tutul jawa dengan menggunakan perangkap kamera (Camera Trap). Bertujuan untuk mengetahui keberadaan macan tutul di wilayah tersebut, teritori dan daerah jelajah, jumlah individu serta kelimpahan mangsa yang merupakan daya dukung kehidupan bagi satwa tersebut. Sejauh ini melalui hasil foto camera trap yang dipasang di beberapa lokasi potensial lintasan macan tutul (10 lokasi pemasangan), telah tercatat 3 individu macan tutul jawa yang terdata untuk luasan 10 km2. Dari ketiga individu tersebut, salah satunya merupakan macan tutul yang berwarna hitam (macan kumbang). Selain berdasarkan hasil camera trap, inventarisasi juga dilakukan berdasarkan jejak yang ditinggalkan, seperti tapak, bekas cakaran, urine dan kotoran, maupun berdasarkan perjumpaan secara langsung (Ario, 2005).

Dapat diperkirakan kepadatan (density) populasi macan tutul jawa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah 63,6 individu (satu individu per 3,33 km2). Hal ini membuktikan bahwa kepadatan populasi macan tutul jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tergolong tinggi, dibandingkan dengan kawasan konservasi lainnya
(Ario, 2005).

Menurut Syahrial dan Sakaguchi (2003), estimasi populasi macan tutul di Taman Nasional Gunung Halimun berdasarkan perhitungan kategori daerah hutan primer dan sekunder adalah 41,7-58.2 individu (satu individu per 6.67 km2). Sedangkan macan tutul di Sri Langka satu individu (dewasa) per 20–30 km2 (Eiseberg dan Lockhart, 1972), satu individu per 25 km2 di Thailand (Rabinowitz, 1989).

Pulau Jawa yang telah kehilangan 90% vegetasi alami, keberadaan macan tutul telah terdeteksi pada 12 area konservasi di Pulau Jawa, diantaranya taman nasional, cagar alam, hutan wisata dan taman buru. Tetapi hingga saat ini estimasi populasi macan tutul di seluruh Pulau Jawa berdasarkan sensus lapangan belum mendapatkan data akurat tentang populasi macan tutul di alam dan hanya berdasarkan asumsi tentang kepadatan macan tutul dalam suatu wilayah. Misalnya 1 individu per 10 km2 di habitat yang tidak terganggu dan satu individu per 5 km2 untuk habitat yang telah terganggu. Dengan menggunakan asumsi tersebut, diperkirakan berdasarkan luasan habitat macan tutul yang tersisa, lebih kurang 350 – 700 ekor macan tutul yang hidup dalam kawasan konservasi di seluruh Pulau Jawa (Santiapillai dan Ramono,1992).

Keberadaan macan tutul jawa tentunya berhubungan dengan kelimpahan mangsa yang ada. Selama 18 bulan pemasangan camera trap di Bodogol, dari hasil foto didapat keragaman (diversity) satwa mangsa antara lain suide (babi hutan) 50%, tragulidae (kancil) 25%, viveridae (musang, dll) 20 %, manidae (trenggiling) 2%, muridae (tikus) 2% dan tupaidae (tupai) 1%. Untuk jenis satwa mangsa yang mendominansi kelimpahan relatif satwa mangsa macan tutul jawa di Bodogol antara lain babi hutan (Susscrofa), kancil (Tragulus javanicus) dan musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) (Ario et al, 2004).

Satwa primata seperti owa jawa dan lutung hitam juga tidak luput menjadi target satwa mangsa macan tutul jawa. Halini terbukti pada saat observasi secara langsung, terjadi penandaan reaksi keras yang dikeluarkan satwa primata tersebut dengan mengeluarkan tanda bahaya (alarm call). Penandaan ini merupakan bentuk adanya ancaman kehadiran macan tutul jawa yang berupaya mendapatkan mangsa dari bangsa primata tersebut (Ario, 2005).

Menurut Seidensticker dan Suyono (1980), di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, satwa mangsa macan tutul antara lain babi hutan (65%), kancil (5,9%), Trenggiling (5,9%), musang (3,9%), landak (3,9%), kelelawar (3,9%), Tando (3,9%), tupai (3,9%) dan kijang (2%).

Macan tutul memangsa buruannya dari yang berukuran kecil hingga sedang seperti kijang, monyet ekor panjang, babi hutan, kancil dan owa jawa (Santiapillai dan Ramono,1992). Sedangkan menurut Sakaguchi et al. (2003), terdapat 10 jenis satwa mangsa macan tutul di Taman Nasional Gunung Halimun berdasarkan analisa kotoran (fecal analysis) diantaranya adalah kijang, babi hutan, landak jawa, surili dan lutung hitam.

Daerah jelajah masing-masing individu macan tutul di Bodogol saling tumpang tindih (overlap) hal ini terbukti dengan terfotonya dua individu macan tutul yang menggunakan jalur yang sama walaupun pada waktu yang berbeda (Ario. 2005).

Menurut Syahrial dan Sakaguchi (2003), waktu aktivitas tertinggi macan tutul jawa di Taman Nasional Gunung Halimun berkisar pada pukul 06:00–09:00 dan senja hari pada pukul 15:00–18:00. Sama halnya dengan macan tutul jawa di Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, berdasarkan waktu yang tercatat pada hasil foto, aktifitas tertinggi terjadi pada pagi hari antara pukul 05:00 – 08:00 dan mendekati senja pada pukul 15:00–18:00. Kemungkinan waktu-waktu tersebut sangat berhubungan dengan aktivitas mangsa, karena kecenderungan macan tutul jawa dalam melakukan pergerakannya ditentukan juga oleh pergerakan mangsa.

Sejauh ini keberadaan macan tutul di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tidak berdampak langsung terhadap masyarakat di sekitar taman nasional. hanya ada beberapa kasus konflik dengan masyarakat, yaitu pada saat terjadi penyerangan macan tutul terhadap ternak (kambing) yang terjadi pada tahun 1997 di Sukabumi dan di Cibodas pada tahun 2003.

Terganggunya keseimbangan ekosistem merupakan salah satu penyebab terjadinya kasus tersebut. Artinya kebutuhan mangsa bagi macan tutul semakin sedikit oleh karena aktivitas manusia, yang akhirnya mencari mangsa di luar habitatnya. Selain itu pemahaman konservasi terhadap satwa predator ini masih kurang di masyarakat. Selama ini anggapan terhadap macan tutul sematamata merupakan satwa buas dan berbahaya bagi manusia, tanpa melihat peranannya yang juga penting dalam pengendali hama secara alamiah (babi misalnya) yang kerap merusak hasil pertanian masyarakat.

Sebagai top predator di hutan, macan tutul memiliki peranan penting dalam ekosistem yang kompleks. Salah satunya sebagai pengendali populasi suatu spesies tertentu yang akan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem.


Status Konservasi dan ancaman
Macan tutul jawa termasuk kategori Endangered species menurut IUCN Red List of Threatened Animals (Hilton, 2000), dan tergolong appendix I CITES. Hal ini juga diberikan kepada beberapa subspesies macan tutul lainnnya, seperti: P. p. japonensis (macan tutul Cina Utara), P. p. kotiya (macan tutul Sri Lankan), P. p. nimr (macan tutul dari Arab Selatan), P. p. orientalis (macan tutul Amur), P. p. panthera (dari Afrika utara), P. p. saxicolor (macan tutul Persia Utara), dan P. p. tulliana (macan tutul Anatolia). Di Indonesia, macan tutul jawa termasuk satwa dilindungi (UU No.5 tahun 1990 dan PP. no.7 tahun 1999).

Meskipun jenis macan tutul ini mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, tetapi masih menghadapi permasalahan dan mendapatkan ancaman dari manusia. Kerusakan habitat yang mengakibatkan menurunnya mangsa, perburuan dan perdagangan merupakan ancaman potensial bagi macan tutul. Faktor-faktor itulah yang juga menyebabkan kucing besar lain seperti harimau jawa yang pernah hidup di pulau Jawa mengalami kepunahan. Tentunya kita berharap hal ini tidak terjadi pada macan tutul jawa, yang merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa.

SUMBER: Tulisan ini dipublikasikan di Majalah TROPIKA INDONESIA Vol 9 (2-4) 2005