​​​​​​​​​​​​​​​​Konsistensi dan Kegigihan Menghasilkan Karya Pribadi

​Indonesia​     English​​


"Kopi yang telah dipanen kemudian akan dirambang terlebih dahulu sebelum digiling, dan setelah digiling akan difermentasikan dengan merendam biji kopi selama 12 jam dalam ember, dan setelah itu dicuci 3 kali sampai bersih", demikian Rudi Hartoni Silaban menjelaskan bagaimana dia menghasilkan kopi beras (green bean) karyanya. Full Body, Mild Acidity, Nutty, Herbal dan Spice adalah karakter dari rasa menggambarkan kopi miliknya.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Buah kopi yang berwarna merah sempurna dipetik dengan hati-hati pada saat panen guna mendapatkan rasa terbaik.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Kopi%20Rudi%201.png
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Elidon Sitio
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Rudi yang lahir dari keluarga petani, memutuskan untuk menjadi pengusaha kopi di tahun 2012. Dia kembali dari Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara dan memulai bertanam kopi arabika dengan varietas Sigarar Utang pada lahan seluas 1 hektarnya di Desa Tapian Nauli III-Parlombuan, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Wilayah ini merupakan salah satu tempat penghasil kopi arabika dengan posisi ketinggian yang tepat untuk tanaman kopi (±1,500 meter diatas permukaan laut).

Bersama dengan teman-teman sesama petani dari desanya, mereka membentuk Perkumpulan Petani Kopi Tapanuli Lestari untuk meningkatkan hasil kopi mereka. Perkumpulan ini secara aktif mengikuti pelatihan pembibitan, panen dan paska panen yang diadakan oleh pengekspor di Tapanuli Utara.

"Tapi pengalaman yang saya dapat saat itu belum sepenuhnya bisa diterapkan di kebun kopi milik saya. Yang sebenarnya saya perlukan adalah pendampingan langsung ke kebun kopi mengenai bagaimana penanaman dan perawatan kopi yang benar." ujar Rudi.

Pola penanaman dan perawatan yang Rudi lakukan pun kurang sesuai. Rudi menggunakan herbisida untuk mengendalikan gulma, menabur pupuk langsung ke batang kopi dan tidak melakukan pemangkasan. Pada tahun 2014, melalui program Kemitraan Bentang Alam Berkelanjutan, Rudi mengikuti pelatihan mengenai budidaya kopi konservasi.​

​​​Saat ini Rudi tidak lagi menggunakan herbisida tetapi secara manual dengan cara merumput (weeding). Pemberian pupuk ditaburkan sekitar 60-80 cm dari batang kopi ke tajuk luar tanaman dan ditabur secara melingkar diatas permukaan tanah. Batang kopi pun juga sudah dipangkas untuk memudahkan dalam memanen kopi.​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Rudi dengan motor kesayangannya yang selalu menemaninya saat ke kebun kopi maupun membawa hasil kopinya ke rumah.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Kopi%20Rudi%204.png
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Elidon Sitio
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​​​Selain itu, dia mengetahui bahwa penanaman pohon pelindung di sekitar pohon kopi memiliki manfaat menstabilkan suhu di tengah pemasanan global saat ini. Pupuknya dibuat dari bahan yang berasal dari sekeliling, yaitu kulit kopi, sisa kotoran hewan, air cuci kopi dan sisa tanaman lain atau serasah, yang dicampur dengan Mikro Organislme Lokal (MOL) supaya menjadi pupuk organik. ​

Dari sisi teknik guna mencegah terjadinya erosi dilakukan pembuatan lubang biopori. Lubang ini juga penting dibuat di antara tanaman kopi untuk memudahkan penyerapan air hujan saat turun. Tidak hanya itu lubang tersebut juga menjadi tempat pembuatan pupuk organik diatas.​​

"Melalui pelatihan konservasi, saya dan masyarakat bisa mengerti tentang kopi, dan bagaimana kopi melindungi masyarakat. Kami menjadi paham cara berkebun kopi tanpa merusak lingkungan dan tetap menjaga hutan agar tetap lestari," Rudi menyampaikan pembelajaran yang didapatnya.​​


​​Dengan pengetahuan baru yang ia miliki, dia melakukan sosialisasi mengenai budidaya kopi konservasi ke 15 kelompok tani di Kecamatan Sipahutar sebagai penyuluh sukarela. Pengetahuan tentang kopi ini juga yang membawa Rudi mengubah pengolahan kopi gabah menjadi kopi beras. Faktor pendorongnya antara lain dari sisi ekonomi penghasilan kopi gabah relatif kecil.​

Tengkulak menerima kopi gabah tersebut dengan harga Rp. 20,000 per kilo. Sedangkan kopi beras yang melalui proses yang benar bisa dijual dengan harga Rp. 90,000 per kilo. Kopi yang menjadi ciri khas Rudi ini dikenal di wilayahnya dengan nama Kopi Tano Batak.​​​​

​Block Quote

Block Quote Config

EditAnchor Tag:[Optional]
EditQuote Text (Do not add quotation marks):Untuk menghasilkan kopi hijau, kopi yang telah dipanen dirembang terlebih dahulu sebelum digiling. Setelah digiling diremdam semalam dalam ember, lalu dicuci 3 kali sampai bersih. Selanjutnya menjemur kopi gabah sampai kadar Air 14% dengan melihat ciri fisik bahwa kulit gabah kopi mulai terlepas. Kopi kemudian ditumbuk dan dikipas untuk memisahkan kulit gabah dari biji kopi hijau. Penjemuran dilakukan lagi sampai kadar air 13% untuk menghindari terkena jamur jika disimpan karena lembab. Grading sebagai tahapan akhir memisahkan berbagai jenis biji kopi yang rusak dan material lainnya seperti pasir, batu dan ranting kecil.
EditQuote Attribution:Rudi Silaban
Remove this module
​​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Rudi sedang menjelaskan kopi miliknya ke pengunjung di Medan International Coffee Festival 2016.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Kopi%20Rudi%202.png
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Elidon Sitio
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Selama dua tahun terakhir (2015 dan 2016), Rudi berpartisipasi dalam festival kopi internasional di Medan, Sumatera Utara. Adanya kegiatan ini Rudi dapat mempromosikan kopi yang dihasikannya ke masyarakat luas dan pembeli kopi. Pada festival ini, kopi karyanya mendapat penjualan yang sangat banyak. Rudi menuturkan, "Permintaan akan kopi bertambah​​, dan terutama terjadi setelah saya mengikuti festival internasional di Medan tersebut."

Pelanggan tetap Rudi yang mayoritas adalah Coffee Shop datang dari be​berapa daerah. Selain Medan, permintaan datang dari Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. Pengiriman kopi hijaunya dilakukan secara rutin setiap bulan. Menurut pemilik beberapa Coffee Shop mereka belum pernah mendapatkan kopi yang bersih dengan kualitas yang bagus, dan mendapatkannya atau membeli langsung dari petani seperti kopi Rudi.

​"Kopinya Rudi enak dan banyak juga peminat kopinya," tutur Denny Sihotang pemilik Omerta Store & Cafe di Medan. (Elidon Sitio/9 September 2016)​

​​​