Keuntungan di Bentang Laut Kepala Burung
Kehidupan bawah laut Bentang Laut Kepala Burung Papua
©CI/ Garry Allen & Jennifer Jeffers
 
 

Survei yang dilakukan oleh CI ingin memetakan jaringan perlindungan laut. Agar dapat dirancang memanfaatan sumber daya laut dengan keuntungan jangka panjang.

Baru-baru ini tim kelautan alias Marine Conservation Team yang terdiri dari para ilmuwan CI, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan, Universitas Negeri Papua (UNIPA), Balai TN Cendrawasih, BKSDA Papua II, dan WWF Indonesia mengadakan sebuah survei di dua kawasan untuk mencari tahu tentang keberadaanbawah laut di Teluk Cendrawasih di bagian “tengkuk” kepala burung Pulau Papua dan di Fak Fak Kaimana yang terletak di ‘Tembolok” bagaian Selatan Papua.

Survei paling bergengsi ini didanai oleh The Walton Family Foundation. Hasilnya, ditemukan lebih dari 52 spesies ikan dan terumbu karang yang baru bagi ilmu pengetahuan. Mark Erdmann, yang menjadi komandan’ penelitian itu bukan main merasa bungah. “Kami seolah dibawa pada masa-masa penemuan abad 18 saat dunia banyak belum diketahui,” kata Mark, menggambarkan awal penemuan dan penamaan spesies bawah laut oleh pendahulu–yang kebanyakan para ahli zaman Belanda—yang mengekplorasi kehidupan bawah laut Papua.

Kawasan Bentangan Laut Kepala Burung (Bird’s Head Seascape), merupakan nama yang diberikan pada kawasan paling Ujung Pulau Papua yang memang berbentuk seperti ‘kepala burung’. Kawasan ini dipertelakan memiliki kekayaan 1.200 spesies ikan dan 600 spesies terumbu karang yang masih sehat dan tentu saja jumlah jenis ini adalah 75 persen dari keanekaragaman spesies hayati bawah laut yang
ada di dunia.

LEBIH LANJUT : Bentang Laut Kepala Burung Papua

Bila melihat keutuhan kawasan dan keindahan bawah laut Kepala Burung Papua, dapat dipastikan bahwa kawasan ini mempunyai makna penting sebagai kawasan produktif yang dapat mensuplai sumber daya perikanan yang ada di kawasan Indonesia Timur. Oleh karena itu ekspedisi penting ini juga ingin mengetahui kekayaan hayati di dua tempat tersebut. Lima tahun silam –tahun 2001—para ahli kelautan Conservation International juga terjun menyelam dan mengadakan Rapid Assassement Program (RAP) di Kepulauan Raja Ampat dan menjumpai kekayaan hayati dan terumbu karang di kawasan ini sangat tinggi. Beberapa jenis baru telah ditemukan.

LEBIH JAUH BACA : TROPIKA Edisi Musim Panas Vol 7 (3), 2003 hal 6-12).

Penelitian tim kelautan CI menemukan di kawasan Raja Ampat tercatat mempunyai 972 spesies ikan karang, 456 spesies terumbu karang, dan 699 spesies moluska. Dalam ekspedisi tersebut telah diidentifikasi pula beberapa jenis baru bagi dunia ilmu pengetahuan seperti Eviota raja dan dua spesies Apogon (sejenis Ikan Cardinal).


Jaringan Kawasan Perlindungan Laut
Bagi Conservation International, penemuanpenemuan sains diatas merupakan momentum tepat, tetapi lebih penting lagi memberikan jalan agar kekayaan tersebut dapat tetap lestari dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Sebagai organisasi yang mendasarkan visinya pada sains, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di seluruh dunia menghendaki agar sains dapat memberikan justifikasi bagi upaya konservasi di lapangan.

Salah satu contoh adalah upaya yang dilakukan oleh CI Marine Program dalam membuat mata rantai yang disebut Marine Protected Area ( MPA) network (jaringan Kawasan Perlindungan Laut) yang diharapkan menjadi sebuah jembatan bagi terwujudnya kelestarian kehidupan laut. Jaringan perlindungan kawasan  laut, merupakan titik penting untuk mengambil pijakan dimana kawasan yang harus dikelola secara berkelanjutan.

Maka dengan adanya MPA network ini, Teluk Cenderawasih yang telah menjadi taman nasional dan beberapa kawasan di Kepulauan Raja Ampat seperti, Teluk Mayalibit, Teluk Dampier, Pulau Wayag, Pulau Sayang, Piae dan yang lain di Kepulauan Misool dan Kofiai. Lalu di wilayah Selatan ada Triton Bay, Teluk Triton, Tanjung Patisol, dan Pulau Penu (di Fak-fak Kaimana), akan menjadi sebuah kawasan yang bisa dihubungkan antara satu dan yang lain. Kawasan-kawasan bawah laut yang kaya ini, kedepan akan menjadi kawasan penting dalam jaringan perlindungan laut dimasa depan. Untuk Raja Ampat, walaupun sekarang bukanlah sebuah taman nasional, tetapi diharapkan ada komitmen pemerintah daerah, mempunyai perhatian khusus dalam pengelolaan kawasan tersebut sebagai kawasan yang dikelola secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebagai langkah konkrit, Desember 2006, Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat akan mendeklarasikan dirinya sebagai ‘Kabupaten Bahari.’ yang bermakna kehidupan masyarakat kepulauantersebut semuanya bergantung dari laut.

Keuntungan Jangka Panjang
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan CI menjadi penting karena merupakan bahan pertimbangan untuk memasukkan kawasan ini kedalam MPA. Selain itu, ada maksud lain yaitu, membangun wilayah jaringan sehingga MPA ini mempunyai fungsi ekologi secara berkesinambungan. “Kita percaya kalau fungsi ekologi sudah baik lalu kita bangun MPA kemudian kita berharap akan memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang terhadap daerah itu,” Papar Ketut Sarjana Putra. Dalam visi kedepan, kawasan MPA ini diharapkan agar tetap terus berfungsi baik secara ekonomi, dan ekologi. Jika kawasan ini terpelihara, maka ikan dan hasil-hasil laut yang ada di sekitar kawasan itu dapat terus berproduksi secara berkesinambungan.

Jaringan MPA diharapkan pula mempunyai unsur untuk menunjang produktifitas perikanan seperti upaya pemijahan ikan (storming aggregation), yang menjadi salah satu kunci untuk bagi pembangunan MPA. Kata Ketut, selain hal diatas, mesti diketahui pula lokasi terumbu karang paling kuat berperan positif – scara alamiah—misalnya bila terjadi perubahan iklim global (global climate change). Dengan survei yang dilakukan oleh CI maka bisa ditentukan tempat yang mempunyai nilai ketahanan (resiliensi) paling tinggi.

LIHAT JUGA: Bentang Laut

Langkah awal pengenalan dimana kriteria-kriteria MPA dapat diterapkan, mulai dirancang tahun 2006-2007 ini. Saat ini CI baru menemukan calon-calonnya saja. Untuk mewujudkan cita-cita besar ini, Conservation International, tentu saja tidak bekerja sendiri. CI bekerjasama dengan banyak mitra baik Pemerintah Daerah (Pemda), pemerintah pusat dengan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) serta berbagai NGO internasional maupun lokal.