Kawasan Persilangan Jejaring Perlindungan Laut
Taman Laut yang Sehat di Kawasan Bentang Laut Kepala Burung
©CI/Mark Erdmann
 
 

 Conservation International berupaya memetakan genetika ikan, kawasan persilangan dan kekayaan hayati laut, untuk menuju pada pelestarian kehidupan di laut dan perikanan berkelanjutan.

Kehidupan di darat, akan tampak langsung. Tetapi bagaimana dengan kehidupan di bawah laut yang selama ini menjadi suplai kehidupan dan sumber energi dan protetin bagi kehidupan di darat? Masih banyak yang menjadi “rahasia”, karena pengetahuan manusia belum menjangkaunya. Oleh karena itu Conservation International menggagas suatu jaringan kawasan perlindungan laut (Marine Protected Area - MPA network) berdasarkan pada pemahaman kehidupan di laut. “Kita ingin membuat, membangun MPA network berdasarkan pemahaman atas kehidupan marine society dan ekosistemnya yang ada di seluruh wilayah bentang laut (seascape),” kata Ketut Sarjana Putra, Director CI Indonesia. Menurut Ketut, survai atau penelitian dilakukan oleh tim CI ingin melihat apakah ada hubungan ekologi, sistem hidup, genetika, atau biodiversivitas dari keaneka ragaman jenis terumbu karang, terumbu karang dan ikan serta invertebrata yang ada di kawasan seascape dengan kawasan-kawasan yang lain.

Penelitian ini menjadi penting karena merupakan bahan pertimbangan untuk memasukkan kawasan ini kedalam MPA. Selain itu, ada maksud lain yaitu, membangun wilayah jaringan sehingga MPA ini mempunyai fungsi ekologi secara berkesinambungan. “Kita percaya kalau fungsi ekologi sudah baik lalu kita bangun MPA kemudian kita berharap akan memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang terhadap daerah itu.”

LIHAT JUGA: Bentang Laut Kepala Burung

Dalam visi kedepan, kawasan MPA ini diharapkan agar tetap terus berfungsi baik secara ekonomi, dan ekologi. Jika kawasan ini terpelihara, maka ikan dan hasil-hasil laut yang ada di sekitar kawasan itu dapat terus berproduksi secara berkesinambungan.

Jaringan MPA diharapkan pula mempunyai unsur untuk menunjang produktifitas perikanan seperti tempat pemijahan ikan (storming aggregation), yang menjadi salah satu kunci untuk bagi pembangunan MPA. Selain itu, mesti diketahui pula lokasi terumbu karang paling kuat berperan positif –secara alamiah—misalnya bila terjadi perubahan iklim global (global climate change). Dengan survei yang dilakukan oleh CI maka bisa ditentukan tempat yang mempunyai nilai ketahanan (resiliensi) paling tinggi.

Langkah awal pengenalan dimana kriteria kriteria-kriteria MPA dapat diterapkan, mulai dirancang tahun 2006-2007 ini. Saat ini CI baru menemukan menemukan calon-calonnya saja. Penelitian terakhir menunjukkan kawasan karang yang paling unik dan paling tinggi keanekaragaman hayatinya (baik ikan maupun terumbunya) telah diketahui adalah: Tanjung Patisol, Triton Bay, Kaimana, selain itu tentu saja kawasan Kepulauan Raja Ampat, yang pernah diteliti oleh tim CI tahun 2001, telah masuk dalam hitungan.Kawasan diatas itulah yang merupakan salah satu contoh “calon MPA” yang akan merupakan komponen jaringan keseluruhan dengan apa yang disebut dengan bentang laut (seascape). Ini adalah sebuah strategi, seperti telah kita ketahui, CI merupakan organisasi konservasi yang mendasarkan keputusan dan strateginya dengan sains, oleh karena itu kata Ketut, CI ingin menggunakan conservation science itu sebagai pijakan dengan mengadakan analisis dan meneliti kembali seluas apakah MPA yang harus dibuat, sehingga kawasan perlindungan laut itu berfungsi secara ekologis.

LIHAT JUGA: Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)

Kompleksitas kehidupan di laut memang menantang ilmuwan CI untuk terjun lebih dalam meneliti sejauh mana kehidupan laut berinteraksi. Misalnya, apabila kita ingin menyelamatkan kelestarian ikan kerapu (grouper) yang kini terus diburu dan di gemari sebagai ikan ekspor kelas satu itu. Maka mestilah diketahui dimana ikan tersebut memijah (storing). Setelah tahu tempat memijah—karena hidup di laut bebas—penting pula diketahui dimana mereka hidup mencari makan dan berinteraksi, mereka traveling ke mana saja dan seberapa jauh perjalanan (migration) ikan ini dari tempat dia makan ke tempat dia bertelur. Nah, kalau sudah tahu dan terdeteksi wilayah itu mungkin itu adalah salah satu acuan kita menentukan minimum size besaran MPA. Ikan karang termasuk kerapu, adalah jenis-jenis ikan yang gampang punah, sebab mempunyai banyak kelemahan: kerapu sama halnya dengan ikan napoleon, memerlukan usia cukup tua untuk dapat berkembang biak. “Lima hingga tujuh tahun, baru gonadnya matang, dan ikan ini memerlukan waktu sangat lama untuk menjadi dewasa, dan lambat sekali tumbuhnya,” tambah Ketut.

Soal kawasan persilangan tadi: hal serupa bisa diterapkan pada penyu yang sekarang telah diketahui kawasan interbreeding binatang paling tua secara evolutif ini. Sekarang kita tahu tempat bertelur dia di Pulau Penu, Tabuda, Tataruga, Pulau Piae dan Pulau Sayang. Namun dari data satelit, kita ketahui pula bahwa penyu tersebut mengadakan perjalanan hingga sangat jauh sampai ke wilayah Aru, jadi penyu yang bertelur disini adalah penyu dari Kalimantan atau Wilayah Aru dan Papua Nugini.

PELAJARI: Upaya Melestarikan Segitiga Terumbu Karang (CTI)

Penyu juga bisa difungsikan sebagai highlit migratory species, karena digunakan pendekatan kawasan persilangan (interbreeding areas). Misalnya, apabila di suatu malam seekor penyu bertelur di suatu kawasan tertentu kemudian siang atau sore harinya mereka berada di kawasan lain yang jaraknya sangat jauh, maka kawasan ini dapat ditentukan menjadi kandidat untuk kawasan konservasi laut, dan itulah lebaran MPA yang bisa ditetapkan. Penyu hijau atau sisik dapat berjalan sekitar 5 km atau bahkan 10 km dari pantai dimana mereka meletakkan telur. Dan wilayah terumbu karang dimana penyu itu beraktifitas, berarti kawasan tersebut merupakan kawasan persilangan mereka.//