​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Melalui Hibah Inovasi, Komunitas Lokal Cetuskan 32 Inisiatif Konservasi di Papua Barat


​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Victor Nikijuluw, Marine Director dari CI memberikan sambutan untuk memulai acara Forum Inovasi BLKB.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Victor%20Nikijuluw%20dari%20CI%20memberikan%20sambutan%20untuk%20memulai%20acara%20Forum%20Inovasi%20BLKB.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Rens Lewerissa
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Pada tanggal 4-6 Oktober 2016, Sekretariat Daerah Provinsi Papua Barat bersama dengan Koalisi BHS (Bird's Head Seascape) yang terdiri dari Conservation International (CI) Indonesia, The Nature Conservancy (TNC) dan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, mengadakan Forum Inovasi Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) di Manokwari, Papua Barat. Forum ini merupakan wadah diskusi komunitas lokal yang tergabung sebagai penerima dana hibah Inovasi Small Grants Program (ISGP), dan merupakan penggiat upaya konservasi kelautan di wilayah perairan Papua Barat dan sekitarnya.

ISGP merupakan bagian dari program BHS yang bertujuan meningkatkan keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam mendukung upaya konservasi kawasan perairan di wilayah BLKB, Papua Barat. Partisipasi masyarakat didukung oleh ISGP melalui fasilitasi pendanaan kegiatan konservasi kawasan perairan lewat proses seleksi proposal kerja yang berasal dan dikelola oleh masyarakat dengan pendampingan tim koalisi BHS. Program ini dilaksanakan selama periode Agustus 2015 – Maret 2017.

Forum yang dihadiri 25 dari 27 kelompok penerima hibah tersebut,  mengelola 30 inisiatif terseleksi dari 63 proposal yang masuk. Secara umum semua inisiatif dari para peserta yang berlokasi di enam kabupaten di Papua Barat tersebut memiliki tujuan utama pembentukan jejaring penggiat upaya konservasi kelautan. Sejumlah kelompok yang hadir berasal dari kabupaten Kaimana, Sorong, Teluk Wondama, Raja Ampat, Teluk Bintuni, dan Tambrauw, serta Biak, provinsi Papua. Hibah yang diberikan fokus pada satu dari empat tema utama, yakni kesehatan lingkungan, pembangunan kapasitas lokal, penguatan produksi perikanan berkelanjutan, serta perlindungan habitat dan spesies.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Hikmah dari Yayasan Misool Baseftin memberikan presentasi hasil kegiatan yang dilakukan di Raja Ampat.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Hikmah%20dari%20Yayasan%20Misool%20Baseftin%20memberikan%20presentasi%20hasil%20kegiatan%20yang%20dilakukan%20di%20Raja%20Ampat.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Rens Lewerissa
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​Program ini merupakan bagian dari upaya koalisi BHS meningkatkan kepemilikan lokal masyarakat akan konservasi kelautan yang telah berjalan selama ini di daerah tersebut. Sebanyak 15 kelompok atau hampir 60% dari seluruh kelompok merupakan komunitas akar rumput yang berasal dari masyarakat, yang bukan lembaga berbadan hukum. "Kami harap kelompok-kelompok ini mampu membentuk jejaring kerja mitra lokal dalam pelaksanaan konservasi perairan di wilayah ini," ucap Meity Mongdong, Senior Manager BHS Capacity Building CI Indonesia.

Salah satu penerima hibah, Syafruddin Sabonnama, mengungkapkan pendapatnya mengenai program hibah ini. "Tujuan dari hibah ini untuk membangun inovasi telah tercapai, karena telah memotivasi inovasi-inovasi program lainnya," ucap pria yang kerap dipanggil Sabon tersebut. Ia mengambil contoh, komunitas yang dipimpinnya (Kelompok Peduli Sungai Remu), turut menginspirasi berdirinya Komunitas Peduli Sungai Papua Barat.

Selain Sabon, Yehiel Hendry Dasmasela, Pembina Bidang Publikasi Informatika dan Dokumentasi, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan (HMJIK) Universitas Papua (UNIPA) mengungkapkan bahwa tanpa bantuan ISGP, proyek yang kelompoknya rencanakan tidak akan mampu berjalan. HMJIK UNIPA​ mencetuskan program jamban pesisir untuk mencegah perusakan terumbu karang oleh bakteri E. coli yang kerap ditemukan di usus manusia. Pembuatan jamban tersebut membutuhkan biaya yang banyak, seperti misalnya harga profil tank yang mencapai Rp 2.500.000 per buah. 

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Seluruh peserta dan panitia acara berfoto bersama pada akhir hari pertama forum.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Seluruh%20peserta%20dan%20panitia%20acara%20berfoto%20bersama%20pada%20akhir%20hari%20pertama%20forum.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Rens Lewerissa
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Ke depannya, ISGP diharapkan bisa terus berjalan dan memberikan bantuan terhadap kelompok-kelompok lainnya guna menjamin rasa kepemilikan lokal terhadap wilayah konservasi di Papua Barat, baik di kawasan perairan maupun darat, untuk mendukung inisiatif Pemerintah Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi. Hal ini ditegaskan oleh Victor Nikijuluw, Marine Program Director CI Indonesia dalam sambutannya pada tanggal 4 Oktober 2016 di Hotel Aston Niu Manokwari. "Program hibah ini telah berjalan sangat baik. Saya harap ke depannya ISGP juga mampu menyasar kelompok-kelompok lokal yang melakukan konservasi darat."​

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Nataniel D. Mandacan mewakili Pemerintah Provinsi Papua Barat, menunjukkan dukungan terhadap program hibah ini sekaligus menekankan pentingnya konservasi berbasis masyarakat di wilayah Papua Barat. "Kepemilikan lokal merupakan aspek penting bagi keberlanjutan jangka panjang dan keberhasilan pembangunan di Provinsi Papua Barat yang mengedepankan prinsip-prinsip kelestarian sesuai visi Provinsi Konservasi," tutupnya.​

(Anastasia Sijabat​)​