​​​​Ekspedisi Bahari untuk Upaya Konservasi ​​di Perairan Natuna​​

​(Bagian Tiga)


Keanekaragaman serta kesehatan terumbu karang dan ikan karang merupakan daya tarik utama bagi pengembangan pariwisata bahari di berbagai tempat. Setelah Bali, Wakatobi dan Raja Ampat, adakah wilayah perairan lainnya yang menarik untuk menjadi destinasi petualangan para penyelam?

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Penyelam sedang meneliti perairan Natuna, Indonesia.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/ci_45209683_Full.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Ronald Mambrasar
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​Natuna adalah salah satu lokasi yang memiliki potensi besar bagi pengembangan pariwisata bahari di Indonesia. Natuna merupakan sebuah kabupaten yang terletak di kawasan terluar tapal batas negeri. Berbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Vietnam, Natuna memiliki kawasan perairan konservasi seluas hampir 150.000 hektar. Penetapan ini berdasar pada Surat Keputusan Bupati Natuna No. 299/2007, dengan perubahan SK Bupati No. 378/2008.

Sebuah inisiatif survei keanekaragaman hayati di bawah perairan Natuna telah dilakukan oleh Conservation International (CI) Indonesia bersama Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Survei ini dilakukan  pada bulan November 2015 dengan menyelami 14 titik di 11 pulau.

Secara khusus, survei ini bertujuan untuk meneliti kondisi kesehatan terumbu karang dan ikan karang, sebagai landasan ilmiah dalam perencanaan pengelolaan kawasan dan keragaman hayati di Natuna, serta menjadi rekomendasi bagi perencanaan pengelolaan sumber daya perikanan dan kebijakan di tingkat nasional.  

Survei yang juga dikenal dengan nama 'Ekspedisi Natuna' ini menemukan adanya 123 spesies ikan karang, 23 diantaranya merupakan indikator kesehatan karang. Hasil survey juga mengindikasikan potensi perikanan tangkap yang baik di Natuna dilihat dari banyaknya ikan ekor kuning dan ikan pisang-pisang, serta potensi pengembangan ekowisata di sejumlah pulau.​

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Damshell fish.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/ci_43499144_Full.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Ronald Mambrasar
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​Dari spesies yang ditemukan selama survei, ditemukan beragam jenis spesies yang secara umum terbagi menjadi: 46,5% spesies herbivora yang mendukung ketahanan ekosistem karang, 18,64% spesies karnivora yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan 14,28​% spesies omnivora. Spesies herbivora didominasi oleh Scarus spp, karnivora oleh Lutjanus spp, dan omnivora oleh Casio cunning dan Ptrerocaesio caerulaurea. Spesies indikator kesehatan karang, atau yang dikenal dengan coralivora di dominasi oleh Chetodon baronessa dan Chaetodon octofasciatus.

Survei ini menemukan bahwa kepadatan ikan karang sebanyak 345 ekor per hektar, setara dengan 0,6 ton ikan per hektar. Kepadatan ikan karang tertinggi ditemukan di titik penyelaman Karang Kiri, daerah yang cukup jauh dari pemukiman penduduk, sebanyak 847 ikan per hektar. Hasil temuan di beberapa tempat menunjukkan bahwa jumlah spesies ikan yang hidup di sebuah kawasan juga menggambarkan kesehatan ekosistem karangnya.

Semakin banyak spesies ikan, semakin tinggi kesehatan ekosistem karangnya. Namun ada juga beberapa tempat menunjukkan kondisi terumbu karang yang kurang sehat akibat praktik penangkapan tidak sehat. Secara umum, kondisi terumbu karang di Natuna masuk dalam kategori sedang, dilihat dari rata-rata jumlah tutupan karang. ​

Membandingkan tingkat keragamannya dengan daerah lain di Indonesia, keanekaragaman ikan di laut Natuna sedikit lebih rendah dibandingkan laut Wakatobi dengan 146 spesies dengan 28 spesies indikator, dan jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah spesies di perairan Raja Ampat sebanyak 1.437 spesies.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Terumbu karang di Perairan Natuna.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/ci_60637567_Full.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Ronald Mambrasar
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​​​Hasil survei mengungkap fakta bahwa index kematian karang di perairan Natuna berkisar antara 0,02-0,85 dengan rata-rata 0,29. Semakin dekat index dengan angka 1, maka semakin tinggi tingkat kematian karang. Ditemukan pula bahwa sekitar 79% area yang disurvei memiliki index kurang dari 0,5 yang mengindikasikan tingkat kematian yang lebih rendah.

Hasil survei ini telah disampaikan kepada mitra pemerintah terkait dimana beberapa rekomendasi telah diberikan untuk peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan Natuna. Rekomendasi dari para peneliti CI Indonesia maupun BPPL yang berpartisipasi dalam survei ini telah disampaikan melalui presentasi kepada jajaran KKP dan Pemerintah Kabupaten Anambas dan Natuna pada bulan Desember 2015.

Secara umum, rekomendasi yang diberikan menekankan perlunya peningkatan kapasitas dan pengetahuan para pihak di Natuna termasuk masyarakat, peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan yang sudah ada, serta rekomendasi pengembangan beberapa lokasi ekowisata yang potensial. (Desytha Dwiutami/1 Februari 2016)


Baca Juga: