​​Ekspedisi Bahari untuk Upaya Konservasi di Perairan Natuna​​

(Bagian Satu)


Indonesia adalah surga bawah laut dunia. Ekosistem terumbu karang yang ada tidak hanya menawarkan estetika keindahan alam namun juga mempunyai banyak manfaat bagi manusia baik secara ekonomi, sosial maupun budaya. Demikian halnya di Natuna, Provinsi Kepulaua​n Riau. Ikan karang merupakan sumber daya ala​​m laut yang menjadi sumbe​​r mata pencaharian dan makanan penduduk setempat. Akan tetapi, data tentang kondisi dan potensi karang dan ikan karang di Natuna belum banyak diketahui.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Nudibranch
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/ci_31585046_Full.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Ronald Mambrasar
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​​Bersama dengan Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) Kementerian Kelautan Republik Indonesia, Conservation International (CI) Indonesia melakukan sebuah survey karang dan ikan karang di perairan Natuna. Survey ini (atau kita sebut sebagai Ekspedisi Natuna), dijadwalkan selama 11 hari sejak 13 November sampai 23 November 2015, lima hari diantaranya pada 16-20 November 2015, adalah waktu penyelaman pada 10 titik di perairan Natuna.

Tim penyelam terdiri dari  delapan orang dari BPPL dan CI Indonesia, yang dibagi menjadi tiga kelompok, untuk mendata ikan karang, kesehatan karang, dan makrobenthos (invertebrata yang hidup di sekitar dasar perairan).​​

Hasil survey ini diharapkan dapat memberikan kontribusi data aktual tentang kondisi ekosistem batu karang dan potensi ikan karang di Natuna, sebagai dasar dalam rancangan pengelolaan kawasan perairan dan sumber daya di dalamnya. Data Pemerintah Kabupaten Natuna mencatat bahwa sumber daya perikanan laut Kabupaten ini mencapat lebih dari 1 juta ton. Akan tetapi, pemanfaatannya masih kurang (sebesar 36%) dan hanya menyerap 4,3% dari pendapatan Kabupaten Natuna.

Oleh karena itu, survey ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan yang ada di Natuna, membangun dukungan para pihak dalam upaya konservasi perairan, termasuk rekomendasi dan penyadaran kepada masyarakat lokal untuk dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya laut dengan lebih baik.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Crustaceans
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/ci_62750570_Small.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© Conservation International/photo by Ronald Mambrasar
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​​​Pada survey hari pertama (16/11), tim melakukan tiga kali penyelaman pada tiga lokasi berbeda: Pulau Genting, Pulau Setay, dan sebelah barat daya Pulau Kumbik. Pada hari kedua (17/11), tim tidak mampu menembus Pulau Selaut (lokasi yang direncanakan) karena cuaca buruk yang disertai dengan hujan, angin dan ombak yang tinggi. Tim akhirnya memutuskan untuk memindahkan lokasi penyelaman ke Pulau Kembang dan Sabang Mawang.

Pada hari ketiga (18/11), tim penyelam dihadapkan dengan kondisi jarak pandang yang sangat minimal (2 -5 meter) di bawah laut Pulau Selaut dan Pulau Burung. Namun semua penyelaman berjalan dengan baik.

Selama penyelaman, tim Ekspedisi Natuna disuguhkan dengan keindahan alam bawah laut yang luar biasa. Tim menemukan berbagai jenis biota laut seperti penyu sisik jantan dan betina, jenis crutacea, teripang, beberapa jenis ikan karang, dan nudibranch. Namun di sisi lain, tim juga menemukan pada beberapa wilayah dimana terlihat kondisi terumbu karang yang rusak, mati, ataupun ditumbuhi alga.

Hal ini sangat disayangkan, apalagi terumbu karang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem laut, rumah bagi biota laut, dan bahkan penyerap karbon. Kegiatan penyelaman masih akan berlangsung sampai 20 November 2015. Tim berharap bisa mendapat banyak informasi tentang kondisi dan potensi yang ada, sebagai bahan rekomendasi pengelolaan sumber daya laut yang penting bagi kehidupan masyarakat.​​ (Desytha Dwiutami/​​20 November 2015)


Baca Juga: Ekspedisi Bahari untuk Upaya Konservasi di Perairan Natuna (2)