Pada akhir Maret hingga April 2006, tim Conservation International (CI)  Indonesia bersama dangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Pusat Penelitian Kehutanan Departeman Kehutanan, mengadakan Rapid Assessment Program  (RAP).

LIHAT : Program Kaji Cepat (Rapid Assessement Program - RAP)

Beberapa catatan penting penemuan mereka masih belum diumumkan secara resmi, tetapi dari sejumlah laporan mereka dapat diketahui indikasi indikasi penting penemuan baru di Pulau Siberut yang mengacu pada keharusan untuk melestarikan habita hutan yang ada di Pulau Kecil ini. Apabila hutan –sebagai habitat flora dan fauna ini musnah, maka spesies endemik Siberutpun akan segera musnah!

LIHAT JUGA: Sumatera

Burung
Conservation International Indonesia ini menemukan beberapa spesies burung yang belum pernah
dijumpai dalam survai sebelumnya di pulau ini, yaitu satu jenis burung paruh kodok , Remetuk laut, dan
burung madu polos yang menambah khasanah dari jenis burung di pulau ini147 spesies.

Herpetofauna
Keberadaan herpetofauna (satwa reptilia dan amfibia) yang ada di hutan Siberut, populasinya berjumlah
sedang jika dibandingkan dengan spesies lain yang ada di Sumatera dan Semenanjung Malaya.  Hal ini mendukung adanya hipotesa bahwa keseluruhan keanekaragaman hutan yang ada di Pulau Siberut turut menentukan keanekaragaman mikrohabitat mereka. Hal ini memberikan makna bahwa secara strategis, spesies-spesies dengan jumlah sedikit akan sangat rentan akan kepunahan jika habitat mereka
terganggu, termasuk dengan tebang pilih sekalipun.

Primata
Peneliti di kawasan hutan Takungan dan Tiniti Siberut Utara bertujuan untuk mengetahui populasi 4 jenis primata endemik, bilou Hylobates klossii, simakobu Simias concolor, joja Presbytis potenziani dan bokoi, Macaca pagensis. Habitat primata yang diteliti berupa hutan bekas tebangan lebih dari 30 tahun lalu, dan ijinnya baru berakhir tahun 2004, yaitu hutan sekunder tua yang kondisi fisiknya sudah menyerupai hutan primer dan hutan sekunder muda.

Dari 10 plot 200 m2 yang dibuat pada lokasi yang kemungkinan dipergunakan sebagai tempat tidur primata didapat 115 jenis pohon yang mereka jadikan sebagai pohon tidur alias rumah bagi primata tersebut. Artinya, bila pohon-pohon ini tiada, maka mereka akan kehilangan rumah dan jenis-jenis ini pun akan punah.

Mamalia Kecil
Dijumpai empat jenis endemik dan tiga spesies penemuan baru di pulau itu yaitu Cyanopterus
cf. brachyotis, Eonycteris spelaea, Kerivoula papillosa. Selama logging dan perburuan terus berlanjut di
Pulau Siberut, maka spesies yang telah masuk daftar merah endangered species Pulau Siberut ini,  termasuk sejumlah mamalia kecil yang lain akan turut terancam kemusnahan. Oleh karena itu hanya
Taman Nasional Siberut yang tentu saja diharapkan sebagai basis penyelamatan keanekaragaman hayati ini.

Tumbuhan
Peneliti dari LIPI melaporkan, dalam 28 petak cuplikan dengan luas total 2,8 ha, tercatat sebanyak 1405 pohon  (diameter > 10 cm) yang meliputi 245 jenis dan tergolong dalam 105 marga dan 42 suku. Sebanyak 1342 pohon (95.5%) berhasil diidentifikasi hingga tingkat jenis, 49 pohon (3,5%) hingga tingkat marga,  5 pohon (0,4%) hingga suku dan 9 pohon (0,6%) belum berhasil dikenali baik tingkat marga maupun sukunya.

 LIHAT: Majalah TROPIKA Indonesia Edisi "Selamatkan Siberut"