Cerita Dusun Tak Berlangit
Anak-anak berfoto di depan Sekolah Dasar Dusun Berkat di Pulau Sipora, Kabupaten Mentawai
CI/Foto: Fachruddin M. Mangunjaya
 
 

Minggu pagi, sehabis hujan lebat semalam suntuk akhir Agustus lalu mengguyur Dusun Berkat di Pulau Sipora, Kabupaten Mentawai, Yap Dimas (7 tahun) dan Jeki Sawabalad (9 tahun), bangun pagi kemudian mandi ke sumur. Yap Dimas memakai baju kuning putih seperti seragam dan merupakan baju terbaik yang dimilikinya sementara Jeki memakai baju batik. “Ada sekolah minggu,” jawab Jeki, anak nomor tiga dan empat bersaudara keluarga Eliakim Sawabalad (46 tahun).

Bersama ayahya, Eliakim Sawabalad, anak anak itu sekeluarga, pergi ke Gereja yang didirikan awal tahun lalu. Gereja tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat. Berukuran kecil, hanya sekitar 60 meter persegi. Ukuran gereja itu bukan penghalang. Masyarakat dengan penuh keyakinan tetap melakukan kebaktikan di tempat ini, hidup dengan rukun dan damai dalam kesederhanaan.

Dusun Berkat, merupakan desa baru dari eksodus bencana Tsunami. Para penduduknya pindah ke tempat baru ini karena menjadi korban Tsunami Pulau Sipora, tepatnya dari desa Bermanua, Desember 2007. Bermanua, artinya tidak ada langit. Karena desa tersebut memang berada di atas perbukitan, walaupun dekat dengan pantai. Hanya ada sekitar empat puluh rumah dengan atap rumbia yang berdiri di sini.

Eliakim bercerita, “Tengah-tengah Desa Bermanua sudah terbelah. Air keluar dari belahan tanah dan kami menyaksikan air naik ke darat.” Untungnya semua keluarga telah mengungsi ke bukit sehingga tidak ada satu pun korban meninggal. Saat air naik menyapu desa, mereka telah bereda di ketinggian. Gempa berkekuatan 7.9 skala richter itu tidak menyisakan apa-apa bagi sekitar 50 kepala keluarga yang ada di  sana.”Semua habis, rumah beton hancur dan rumah kayu hanya bisa kami ambil papannya saja,” kata Eliakim pahit.

Sulit untuk menceritakan, betapa sedihnya harta yang dikumpulkan selama puluhan tahun: tv, barang elektronik, rumah beton, seluruhnya tidak ada yang tersisia. “Banyak ibu-ibu yang pingsan dan muntah-muntah, karena kami kesulitan makanan dan tidak ada bantuan.”

Kini Eliakim, bersama 39 keluarga pindahan dari Bermanua, memulai kehidupan baru. Setelah perundingan yang panjang, 40 keluarga meretas desa baru yang mereka beri nama Dusun Berkat. Satu jam mendayung dari desa sebelumnya dan 10 keluarga lagi pindah ke Desa Pukarajat, sebuah desa terdekat.

BACA JUGA : Pulau Terluar, Meretas Isolasi dan Ketertinggalan