​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Mengubah Benben dari Hina Menjadi Primadona

​Indonesia​     English​​​


​Block Quote

Block Quote Config

EditAnchor Tag:[Optional]
EditQuote Text (Do not add quotation marks):Lebih baik kau punya satu ekor Lebah Renggicing (lebah bersengat) daripada 100 ekor Benben (lebah tanpa sengat).
EditQuote Attribution:Pepatah Masyarakat Pakpak Bharat
Remove this module

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Bahan propolis yang sudah dikumpulkan dan dibentuk menjadi persegi ini sudah siap dijual ke produsen propolis di Jawa Barat.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Propolis%20mentah%20siap%20jual.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Sarmaidah Damanik
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

Peribahasa yang sering digunakan di Kabupaten Pakpak Bharat itu mulai terpatahkan sejak setahun terakhir. Dahlan Sitakkar, ketua kelompok tani lebah madu Tenggoli Mandiri di Desa Kutameriah, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat ini sudah membuktikan bahwa lebah berukuran kecil yang dianggap tidak bermanfaat tersebut kini mampu menghasilkan barang bernilai tinggi.

Hutan Pakpak Bharat yang mencapai 132 ribu hektar merupakan tempat berkembang biak lebah. Salah satunya yang sering ditemui adalah Lebah Renggicing (Apis cerana). Banyak petani yang membudidayakan lebah ini karena menghasilkan madu dalam jumlah besar dan dapat meningkatkan ekonomi mereka.

Hidup pula di tempat ini lebah bernama Benben (Trigona). Namun, bagi masyarakat disini Benben bukanlah hewan yang berharga karena tidak bersengat dan tidak menghasilkan apa-apa. "Di tempat kami, Benben itu lebah yang tidak memiliki keistimewaan. Jika ada orang yang membudidayakannya yang ada dianggap gila oleh masyarakat," jelas Dahlan. Hal ini yang menjadi asal-usul peribahasa diatas. 

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Beberapa stube yang dibuat untuk menempatkan sarang Benben oleh petani di Desa Kutameriah. Setiap koloni Benben memiliki aroma (pheromone) berbeda sehingga mereka tidak akan salah masuk stube.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/Stube%20benben%20yang%20dibudidayakan.jpg
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Sarmaidah Damanik
Edit Layout:medium--pull-leftLeft
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

​Tapi setelah mengikuti pelatihan dari Conservation International, dia memberanikan diri untuk membudidayakan Benben. Dari pelatihan itu, dia mengetahui bahwa Benben juga memiliki nilai ekonomi dengan menghasilkan bahan untuk membuat propolis. Saat ini, propolis banyak dijual karena memiliki khasiat sebagai antibiotik alami​. Budidaya Benben ini bisa menjadi alternatif untuk menambah perekonomian petani.

Hal pertama yang dilakukan Dahlan adalah mencari sarang Benben. Sarang ini dapat ditemukan di dalam katikuru (sarang semut) yang berada di tanah atau di atas pohon. Sarang Benben yang sudah dipisahkan dari katikuru lalu ditempatkan ke dalam stube, media hidup lebah dengan kotak buatan.

Cara membuatnya dengan menggabungkan beberapa papan kayu menjadi kotak dengan ukuran panjang 15-20 cm, lebar 15 cm dan tinggi 35 cm. Bagian depannya diberikan lubang kecil untuk keluar masuk Benben. Setelah empat bulan, Benben bisa dipanen setiap empat hari dan menghasilkan 50-100 gram bahan propolis.

Berbeda dengan Renggicing yang lebih rumit karena lebah ini rentan stress saat dipindahkan ke stube. Jika sudah stress maka Renggicing tidak akan kembali ke stube untuk memproduksi madu. Setelah menempatkan 50 stube untuk Benben di hutan, pada Januari 2016, Dahlan mendapatkan tiga kilogram bahan propolis yang dijual sekitar Rp 200.000 per kilo.

​​​Image (half page with rollover caption)

Remove this module

Section Info​

EditTitle:
EditDescription:Dahlan Sitakkar, yang menggendong anaknya bernama Afis Kamil Sitakkar, menjadikan budidaya Benben sebagai penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarganya.
EditPhoto Url:/global/indonesia/cerita/PublishingImages/IMG_0013.JPG
EditPhoto Description:
EditPhoto Credit:© CI/photo by Bang Emo
Edit Layout:medium--pull-rightRight
EditPhoto RenditionID Small:1[Optional]
EditPhoto RenditionID Full:2​​​​[Optional]
To wrap text around image, place text below module.

"Di tempat kami ini, kita tidak bisa cuma bicara saja tapi harus di praktekkan dan dibuktikan. Kalau hasilnya memang bagus, otomatis petani lain akan mengikuti. Saya sudah membuktikan bahwa benar propolis Pak Dahlan laku dijual. Sebentar lagi saya akan menjual hasil panen Benben," ujar Iswanto Dabutar, petani lebah di Desa Kutameriah. Dia dan sebelas petani lainnya mulai membudidayakan Benben setelah melihat keberhasilan Dahlan memanen Benben.

Sampai dengan Oktober 2016, Dahlan berhasil menjual sekitar delapan kilogram propolis. Hasil penjualan dari propolis ini digunakan untuk membeli pupuk pada tanaman padi dan cabai serta biaya hidup sehari-hari seperti pembayaran air dan listrik serta bahan pangan.​

"Sekarang saya percaya, kalau Benben itu juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Selain itu, Benben ini lebih mudah budidayanya dibandingkan Renggicing dan sangat cocok untuk kami masyarakat pinggiran hutan karena pepohonan yang berbunga menjadi sumber pakan bagi lebah ini. Harapan saya, semoga banyak petani madu yang tertarik untuk berternak lebah Benben ini karena dapat membantu ekonomi keluarga," ungkap Dahlan. 

(Sarmaidah Damanik)​