Dabra Ingin Keluar Dari Kepompong
Suasana perkampungan di Subdistrik Dabra
©CI/Foto: Fachruddin Mangunjaya
 
 

Fachruddin M. Mangunjaya

Infra struktur? Jangan membayangkan ada jalan raya di sini. Satu-satunya jalan yang paling lebar dan beraspal—itu pun hanya beberapa ratus meter—adalah lapangan terbang. Sebuah jalan baru, yang masih pendek dan berlumpur sedang dirintis

Sederhana. Itulah kesan yang diperoleh dari Charles Wikara (38 tahun), Kepala Sub distrik (Camat) Dabra. Pak Charles, begitu beliau dipanggil. Dengan bersendal saja, dan pergi kesana kemari di kota Jayapura untuk Dabra Ingin Keluar dari Kepompong mengurus segala keperluan Subdistrik Dabra, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua  yang dipimpinnya. “Saya sedang mengurus pengajuan gaji pegawai untuk distrik,” begitu kata Charles.

Sebagai kawasan terpencil, sebuah dusun yang kemudian menjadi kecamatan, nun jauh di pedalaman Papua. Dabra memang belum sepenuhnya siap untuk menjadi sebuah kecamatan. Kantor kecamatan — orang Papua menyebutnya distrik — memang ada, tetapikelembagaanya belum terbangun. Setelah dua tahun berjalan, Kecamatan Dabra hanya mempunyai empat orang staff yang semuanya kepala seksi.

Sumberdaya manusianyapun belum ada dan infra struktur yang belum memadai, membuat kawasan terpencil di ibukora Distrik Mamberamo Hulu ini sangat tertinggal jauh. Pembentukan kawasan tersebut menjadi bagian dari Kabupaten Mamberamo Raya, memerlukan perjalanan panjang dan tidak mudah. Jumlah penduduk dalam tujuh kampung di Distrik Mamberamo Hulu adalah 2900 orang—setara dengan satu rukun wilayah (RW) di Jakarta. Penduduk asli yang mempunyai latar belakang pendidikan dan tamat sekolah menengah masih bisa dihitung dengan jari. Bahkan mereka yang berhasil menamatkan SMA hanya beberapa orang.

Infra struktur? Jangan membayangkan ada jalan raya di sini. Satu-satunya jalan yang paling lebar dan beraspal—itu pun hanya beberapa ratus meter—adalah lapangan terbang. Sebuah jalan baru, yang masih pendek dan berlumpur sedang dirintis. Tidak terlihat ada kendaraan bermotor disini. Jalan-jalan kampung dapat dikatakan hanya mirip jalan setapak. Semua orang berjalan kaki atau naik perahu untuk pergi ke hutan mencari makan sehari-hari.

Charles Wikari adalah salah satu putra daerah yang beruntung. Dia keluar dari keterisolasian Dabra pada 1989 menuju Jayapura dengan bantuan Gereja. Untuk belajar mempunyai visi kehidupan kedepan, dia terinspirasi dari para petugas ABRI yang berbakti di kawasan tersebut dan juga karena adanya pendekatan dari penginjil. Seorang pendeta Jerman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klases Gereja Yanimo, Klasis GKI Mamberamo Apawer berkerjasama dengan Klasis Diswllem Jerman membiayainya sekolah. Dengan beasiswa 15 ribu perbulan sejak SMA di Jayapura, masukklah Charles ke Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Ottowdam Geisller, Papua pada tahun 1996.

Menurut Charles, kondisi daerahnya yang lamban memang terbentuk karena terisolasinya transportasi dan sarana kehidupan. Tapi Charles tidak menyangka, proses politik dan pemekaran daerah sangat laju dan mengharuskan kawasan ini terus berkembang. Dabra tadinya merupakan kawasan pengembangan Charles Wikari dari Kabupaten Sarmi. “Belum lengkap kabupaten Sarmi membenahi segala kelengkapan
dan kelembagaan kabupatennya. Mamberamo Raya, kemudian dibentuk.”

Ada beberapa keprihatinan Charles terhadap perkembangan daerahnya yang lamban, pendidikan yang masih tersendat karena ketiadaan guru, dan pelayanan kesehatan masyarakat yang jauh dari memadai.
Banyak penduduk yang kemudian harus menjadi korban karena pelayanan kesehatan yang tidak ada. “Banyak ibu hamil tidak mendapatkan pelayanan.” Tambahnya. Selain itu pendidikan harus mendapatkan perhatian serius disebabkan kendala teknis yang belum teratasi. “Pendidikan harus benar-benar diperhatikan, jangan ada guru yang pulang. Pemerintah harus serius, karena gaji guru tiga bulan baru diturunkan.” jelasnya.

Begitu pula dokter hanya ditempatkan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang tugasnya pun sementara. Ironinya Puskesmas cukup megah bangunannya, tapi dokter dan obat obatan seperti antibiotik pun tidak ada. “Dokter PTT sudah pindah, dan tenaga bidan hanya tiga orang untuk delapan kampung.”

LIHAT JUGA ARTIKEL: Negeri yang Hilang Menuju Pemberdayaan

Dengan segala ironi itu, kampung yang sangat jauh dan terpencil ini kini tengah menggeliat, namun perlahan, seperti ulat. Dan akan keluar seperti anak kupu-kupu yang keluar dari kepompong hijaunya hutan tanah Papua yang masih perawan.