Mengembalikan Kertas, Adopsi Pohon
Penanaman pohon di Blok Mazars di TN Gunung Gede Pangrango
©CI/Foto: Ismail Saleh
 
 

“Upaya mengembalikan kertas yang digunakan para auditor dalam bentuk penanaman pohon”

Seratus orang lebih staff dan pimpinan Mazars Indonesia ikut dalam gerakan menanam pohon di kawasan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Sabtu, 6/6). Setiap individu, membawa sebatang pohon dan menanam dengan tangannya sendiri. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh staff Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan dihadiri oleh CI Indonesia Advisory Board, Marzuki Usman, MA yang juga mantan Menteri Kehutanan Republik Indonesia.

Marzuki Usman, mengatakan, menanam pohon harus menjadi budaya dan merawat pohon dapat membawa keuntungan ekonomi. Dibandingkan dengan negara-negara temperate yang pohonnya hanya tumbuh berkembang enam bulan lebih lambat, Indonesia memiliki iklim yang menguntungkan karena pohon dapat tumbuh terus sepanjang tahun. “Tanam pohon misalnya mahoni, sepuluh, dua puluh tahun kemudian Anda dapat menjadi milyuner, karena satu pohon anda bisa memperoleh uang puluhan juta,” ujarnya menggambarkan.

Selain itu, yang menjadi keperdulian Mazars, gerakan menanam pohon adalah upaya mengganti penggunaan kertas di kantor-kantor. Dapat dipastikan kertas berkualitas tinggi yang digunakan di perkantoran pasti menggunakan kertas yang muasalnya dihasilkan dari penebangan pohon. Lebih dari  itu, kebanyakan kertas dibuat dari kayu yang juga terkadang merupakan kayu alam. “Kertas dihasilkan dari
pohon, dan ada beban moral seharusnya untuk mengembalikan jasa pohon yang ditebang dengan kembali menanam sejumlah yang dipergunakan itu,” kata Dr. Jatna Supriatna, mantan Regional Vice President CI Indonesia.

Menurut catatan Conservation International, satu ton kertas menghabiskan kurang lebih 17 batang pohon dengan ketinggian 12 meter dan berdiameter 15-20 cm. Melalui gerakan kampanye ‘netral kertas’ inilah Mazars Moores Rowland, perusahaan yang bergerak di bidang akuntan publik dan konsultansi ini menginginkan semua kertas yang merekagunakan dapat kembali ditanam berupa pohon sebagai pengganti. “Kami ingin mengganti kertas yang kami pakai sehari-hari dalam kegiatan di kantor kami, karena kami auditor yang sehari-hari selalu menggunakan kertas,” kata James Kallman President Director Mazars Indonesia. Kallman berharap, selain sebagai kantor akuntan publik yang peduli lingkungan, para karyawannyapun ikut ambil perduli dengan gerakan penanaman pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. “Kami ikut di dalam program ini karena kami ingin meningkatkan kesadaran dari staff kami tentang penghijauan bumi yang harus dimulai dari tingkat individu.”

PELAJARI JUGA : Menghitung Sumberdaya Alam Melalui Valuasi Ekonomi

Adopsi pohon ini dilakukan atas kolaborasi antara pihak Mazars, Conservation International Indonesia, Perkumpulan Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak (GedePaHaLa), dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Conservation International mempunyai program Green Wall, atau benteng hijau yang bertujuan membantu rehabilitasi kembali kawasan di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Halimun-Salak seluas 10 ribu hektar (hampir 12 kali luas Kota Bogor). Untuk merehabilitasi kawasan tersebut, berbagai upaya konservasi dan rehabilitasi terus dilakukan, salah satunya adalah inisiatif restorasi kawasan yang bertajuk Tembok Hijau (Green Wall) pada daerah yang terdegradasi.

BACA JUGA : Green Wall Itu Sudah Menghijau