Mengawal Keanekaragaman Hayati di Kawasan Kunci
 

Oleh Fachruddin Mangunjaya

Kehidupan di bumi tengah  terancam. Manusialah yang menciptakan ancaman tersebut, spesies yang diberi nama dengan Homo sapiens ini dengan akal dan peradabannya yang tinggi, telah menjadi ’agressor’ mengorbankan makhluk lain yang sebenarnya merupakan mata rantai penting penyokong kehidupan di bumi. Padahal tanpa adanya kehidupan lain, manusia juga tidak mungkin akan bertahan hidup. Dalam soal pangan misalnya, manusia hanya bergantung pada kurang lebih hanya lima jenis tumbuhan yang menjadi makanan pokok mereka: padi-padian, jagung, gandum, umbi-umbian (termasuk kentang, ketela pohon dll) dan pohon penghasil karbohidrat (seperti halnya sagu). 

Dari tumbuhan inilah dihasilkan berbagai varietas untuk memenuhi keperluan sehari-hari manusia. Dapat dibayangkan bila dua atau tiga jenis sumber karbohidrat tersebut kemudian suatu saat terserang penyakit atau karena suatu musibah, dan sumber pangan manusia musnah. Lalu dimana kita akan mencari sumber pangan baru?

Keanekaragaman hayati merupakan kata kunci untuk menyelamatkan kehidupan itu, terlepas, apakah manusia sekarang mengerti atau tidak fungsi kehidupan yang telah dijumpainya di bumi. Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) memberikan pedoman jelas dan menuntut  agar penanda tangan konvensi tersebut—termasuk Indonesia—bersedia untuk membuat “suatu sistem perlindungan kawasan atau area dimana perlu dibuat peraturan tentang perlindungan keanekaragaman hayati”. Oleh karena itu, tentu saja mandat ini bisa diwujudkan kedalam sebuat program yang terarah. Program ini kemudian dapat secara efektif menjadi mandat antar pemerintah dalam mendorong upaya untuk melindungi kawasan mereka  guna memperoleh capaian konservasi dan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati secara signifikan.

Namun, melestarikan seluruh ekosistem bumi dan mempertahankan keasliannya, tentu tidak mudah. Idealnya, tempat-tempat penting di permukaan bumi ini diteliti serta dipertelakan kekayaannya, lalu, kawasan-kawasan yang dianggap penting artinya (dengan pengujian secara ilmiah) maka kawasan tersebut lantas disisakan untuk dilindungi. Di lain pihak, jangan lupa, pemenuhan kebutuhan manusia juga harus terpenuhi, misalnya keperluan pembukaan lahan dan ladang secukupnya dengan pengelolaan secara efisien tanpa banyak mengorbankan keanekaragaman hayati yang menjadi pendukung penting untuk kehidupan.

Justru itulah, strategi konservasi pun tidak menghendaki sebuah investasi tanpa alasan yang kuat, karena sumber daya dan pendanaan yang terbatas. Oleh sebab itu, Conservation International mempunyai target-target tertentu untuk melindungi alam. Tentu saja, sebagai organisasi global, organisasi ini melihat secara strategis dari segi prioritas global dan mempertimbangkan kepentingan lokal.

Ketentuan global untuk konservasi keanekaragaman hayati diperoleh dalam kesepakatan para ahli yang berkumpul pada kongres Taman Nasional ke 5 di Durban Afrika Selatan tahun 2003. Pertemuan tersebut menghasilkan dokumen: “Identification and Gap Analysis of Key Biodiversity Areas: Targets for Comprehensive Protected Area Systems” yang mempertelakan kesenjangan dalam pelestarian keanekaragaman hayati serta membuatkan target-target dalam sistem pelestarian alam.

Karena dana dan sumber daya yang terbatas, tentu saja, untuk menentukan kawasan mana saja yang akan dikonservasi pastilah sangat terbatas, “Sangatlah tidak mungkin untuk memenuhi mandat tersebut tanpa kita bisa mempertelakan secara sistematis dimana saja kawasan-kawasan yang mempunyai signifikansi konservasi global,” kata Russel Mittermeier, President Conservation International. Oleh karena itu fokus target CI adalah bertumpu pada apa yang disebut dengan Kawasan Kunci Keanekaragaman Hayati (Key Biodiversity Area atau KBA). Dengan melihat prioritas ini, upaya konservasi yang dilakukan oleh CI dapat berkonsentrasi pada kawasan-kawasan ini dan mengajak masyarakat sekitarnya untuk berpartisipasi.


Kunci Keanekaragaman Hayati Sumatera
Conservation International Indonesia, telah lama berkonsentrasi dalam upaya konservasi untuk Pulau Sumatera termasuk Kepulauan Mentawai (Siberut). Dalam strategi besar konservasi, Pulau Sumatera adalah bagian penting hotspot keanekaragaman hayati di kawasan dataran Sunda yang merupakan satu kawasan dari 34 wilayah di dunia yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi dan endemisitas yang luar biasa, dilain pihak juga mendapat tingkat keterancaman yang sangat tinggi.

Menurut laporan Kunci Keanekaragaman Hayati (KBA) Sumatra (2007) terdapat sebanyak 248 spesies yang tercatat memiliki status terancam secara global. Kesimpulan ini baru terungkap pada tahun 2006 berdasarkan Daftar Merah (Red List) Spesies Terancam yang dikeluarkan oleh IUCN. 

Perusakan hutan merupakan ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati di Pulau Sumatera. Antara tahun 1990 sampai 2000, kecepatan penghilangan hutan di Sumatera tercatat 25 persen (setara dengan 5,1 juta hektar). Kehilangan hutan diakibatkan adanya penebangan komersial dan illegal, termasuk di dalamnya konversi lahan untuk perkebunan kelapa sawit atau untuk tujuan pertanian.

Adapun, CI mempunyai keyakinan bahwa perlindungan kawasan adalah salah satu cara yang paling penting dan paling berhasil untuk mereduksi kehilangan keanekaragam hayati global. Guna melindungi kawasan kunci ini maka pemerintah memerlukan beragam pendekatan termasuk dengan mendirikan taman nasional, mendorong terbentuknya kawasan konservasi yang dimiliki oleh masyarakat adat, dan perlindungan yang dilakukan oleh pihak swasta — berbagai pendekatan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya. “Jejaring ini dapat dipasangkan dengan pekerjaan spesifik dan diperkuat dengan penggunaan matriks penggunaan lahan yang cocok, akan memberikan jalan terbaik untuk untuk menjamin keanekaragaman hayati yang mempunyai nilai penting secara global.” tulis laporan tersebut.