Perencanaan dan Pemanfaatan Lahan di Mamberamo Papua
Pemetaan dilakukan bersama masyarakat Mamberamo dalam upaya pemetaan pemanfaat kawasan, adaptasi serta mitigasi untuk perubahan iklim.

  Oleh: Ermayanti

Alam menjadi modal untuk segala bentuk kehidupan, oleh karena itu keanekaragaman hayati sebagai salah satu komponen penting untuk mendukung keberagaman di alam menyediakan jasa lingkungan yang sangat strategis untuk keberlanjutan hajat hidup umat manusia. Sayangnya, kebutuhan sosial dan ekonomi yang tinggi dapat menjadi ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan keberlangsungan ekosistem tersebut. 

Dalam koridor itulah, perlu dilakukan pendekatan yang strategis untuk tetap menjaga kelestarian ekosistem termasuk dalam perencanaan dan pengelolaannya.  Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah, pendekatan dengan memasukkan unsur persepsi masyarakat terhadap jasa lingkungan yang mereka gunakan selama ini. Pengalaman dan persepsi serta pengetahuan masyarakat tersebut, kemudia dimasukkan dalam rencana pengelolaan tata ruang yang diharapkan dapat menyelaraskan antara perencanaan dan kebutuhan masyarakat. Perencanaan ini dapat menjadi input dalam strategi pembangunan wilayah di tingkat kabupaten, propinsi  hingga nasional.

Studi dan Pengambilan Data
CI melakukan studi dan pengambilan data tentang persepsi masyarakat Masyarakat Mamberamo terhadap sumber daya alam yang mereka miliki.  Adapun metoda yang digunakan yaitu pendekatan survey multi disiplin –dari beberapa disiplin ilmu untuk melakukan survei persepsi masyarakat lokal tentang hutan dan keanekaragaman hayati dan hubungannya dengan kebutuhan, pemilihan dan sistem nilai dalam masyarakat. Program ini dilakukan berkolaborasi antara CIFOR dan Agricultural Reseach and Development (CIRAD) dan Bank Pembangunan Perancis (AFD).

Pendekatan seperti ini, pada akhirnya dapat dijadikan salah satu alat yang dapat digunakan dalam perencanaan pembangunan, pemanfaatan dan pengelolaan hasil hutan secara kolaboratif.  Masyarakat dalam hal ini sangat berperan dalam menentukan apa yang penting menurut mereka tengan: bentang alam, peruntukan lahan, kegunaan untuk masa depan dan lainnya. Kajian ini juga akan menghasilkan peta partisipatif yang berisi tentang sebaran sumber daya alam dan zonasi-zonasi berdasarkan pemanfaatan lahan pada tingkat adat.

Selain itu, dilakukan pula pengembangan perencanaan tataruang kabupaten dengan pendekatan kolaborasi, dan mempertimbangkan pengembangan daerah, dinamika sumberdaya hutan dan dampak dari resiko perubahan iklim.  Beberapa pendekatan yang dilakukan antara lain:

  • Konsultasi dengan key stakeholder melalui Workshop di Jayapura dengan melibatkan ketua adat Mamberamo. 
  • Pemilihan lokasi dengan analisys multivarince yang menggunakan criteria keterwakilan ekosistem  status kawasan, demography, akses menuju lokasi dan keanekaragaman hayati.
  • Melakukan training kepada peserta survey sebelum survey lapangan yang masing-masing satu bulan di setiap desa.
  • Membuat buku panduan

Adapun desa yang dipilih melalui pendekatan multivarians adalah lima desa  yaitu Brumso, Kwerba dan Papasena, Yoke dan Metaweja. Keterwakilan dari masing-masing desa dipilih atas dasar karakteristik yang telah ditentukan yaitu:

  • Brumeso, sebagai desa yang berkembang cepat, penduduknya cukup banyak, serta dekat dengan pusat pemerintahan. 
  • Kwerba dan Papasena, wilayah bagian utara dari Mamberamo Raya, termasuk kawasan Konservasi yang dekat dengan pusat keanekaragaman hayati yang tinggi.  
  • Yoke, keterwakilan dari desa yang berada di hutan bakau dan berbatasan dengan laut berada pada bagian paling hilir dari Mamberamo Raya.
  • Metaweja, keterwakilan ekosistem gunung, yang letaknya jauh dari pusat pemeriintah serta aksesibilitas yang cukup sulit.

Lima desa yang dipilih disadari tidak dapat mewakili keseluruhan kareakteristik desa desa yang ada di Mamberamo Raya yang jumlahnya lebih dari 50 desa, namum secara methologi sudah dapat menjadi keterwakilan dari karakteristik yang telah ditentukan.

Bagaimana Pendekatan dilakukan?
Sebelum memulai kegiatan, tim mengadakan pertemuan dengan masyarakat, yang di fasiltasi oleh tokoh masyarakat dan pimpinan desa, gereja. Dalam pertemuan tersebut, tim memperkenalkan diri, secara institusi dan personel yang ikut. Lalu menjelaskan maksud dan tujuan, sebelum melakukan kegiatan. Membuka forum diskusi dan sehingga masyarakat memahami tujuan dari tim datang ke desa tersebut. Beberapa hal kunci pendekatan untuk terjun ke desa yang sangat tertinggal di pedalaman Papua, perlu digaris bawahi hal sebagai berikut:

  • Keuntungan dari mengikuti dan menerima program yang dibawa dijelaskan, mereka akan mendapat peta gambaran dari desa, dan peta sumberdaya alam desa tersebut, data terkini mengenai demographi dan mempunyai data persepsi msyarakat terhadap sumberdaya alam yang mereka miliki.
  • Penjelasan bahwa survei lapangan di lakukan untuk melihat batas wilayah, batas wilayah, dan tempat-temapat penting masyarakat seperti kebun, sungai tempat mencari, desa sagu, serta informasi lainnya. 
  • Sejarah kampung dan informasi lainnya merupakan cerita tersendiri yang menarik serta akan dibahas dalam laporan ke setiap kampong nantinya, dapat menjadi dokumen kampung yang bias diwariskan kepada generasi muda.

Hasil yang paling kontrit dari penelusuran ini adalah laporan dan dua buah peta dari setiap kampung : pertama  peta sumberdaya alam  dan tempat-tempat penting lengkap dengan titik kordinat, kedua peta batas wilayah dan marga, serta persepsi masyarakat untuk perencanaan desa masa depan dan  predeksi-perubahan yang  akan terjadi menurut mereka    pada masa depan sesuai dengan kebutuhan dan perubahan alam itu sendiri. 

Peta tersebut diharapkan dapat dijadikan masukan oleh pemerintah dalam menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten, ada keselarasan antara rencana desa dan kabupaten.
Dari dasar kajian ini pula kabupaten dapat menjelaskan rencana mereka kepihak masyarakat dan dapat menampung aspirasi dari bawah dalam merancang suatu perubahan kedepan untuk kemajuan dari wilayah yang berbasiskan nilai-nilai lokal.