Penggalian Potensi Alam Belum Jadi Prioritas
Wawancara Republika dengan Dr Jatna Supriatna, Advisor CI Indonesia

Berikut ini kami publikasikan ulang wawancara Dr Jatna Supriatna yang dipublikasikan Koran Republika 1 Juni 2011.

Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah. Hutan, sungai, maupun lautnya memiliki potensi melimpah. Sayangnya, potensi ini sangat minim tergali.

Hal yang juga menjadi persoalan dari penggalian potensi ini adalah masih minimnya peneliti lokal yang melakukan riset atas berbagai potensi alam Indonesia. Potensi-potensi ini justru tergali dan ditemukan oleh para peneliti asing. Akibatnya, ketika temuan ini dipatenkan pihak asing maka bangsa ini kembali harus kehilangan 'kekayaannya'.

Conservation Internasional (CI) adalah sebuah lembaga yang saat ini banyak melakukan riset di Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan Advisor CI  Jatna Supriatna dengan reporter Republika Sefti Oktarianisa, tentang arti penting riset dan pengembangan potensi alam Indonesia.

Mengapa riset banyak dilakukan CI di Indonesia?

Jadi, kesibukan CI memang terkait riset di Indonesia. Hal ini bermula dari Indonesia yang dianggap sebagai negara megadiversitas, yaitu jenis-jenis flora fauna Indonesia itu sangat besar dan bahkan terbesar di dunia.

Misalnya, jika kita berbicara tentang jenis mamalia atau binatang menyusui, kita memiliki jenis ini lebih dari negara lainnya. Bahkan, menjadi nomor satu. Lalu, sebut saja misalnya burung, dari segi jenisnya, kita memiliki keragaman burung nomor dua atau nomor tiga di dunia. Ikan, misalnya, jenis kita juga paling banyak di dunia, terutama untuk ikan laut. Begitu juga dengan katak.

Ini terjadi karena posisi kita yang terletak di antara dua benua yakni Asia dan Australia. Sehingga, jumlah binatang bercampur. Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dipenuhi keanekaragaman khas Asia. Lalu Papua, dipenuhi keanekaragaman khas Australia. Begitu juga Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Ambon, yang menjadi daerah peralihan, baik Asia maupun Australia. Jadi, inilah yang membuat kita kaya. Selain itu, kita memiliki delapan ribu pulau lebih.

Karena keunikan ini, kita memiliki keragaman tertinggi di dunia, bahkan menyamai Brasil. Namun bedanya, jika negara itu kaya hewan darat, kita kaya akan hewan lautnya.

Kita seharusnya bisa memanfaatkan ini. Ini bisa jadi momentum untuk pembangunan ke depan. Sebut saja produk pertanian, kita belum bisa memanfaatkan keanekaragaman hayati ini. Ikan saja, misalnya, yang kita makan dan budi dayakan, kebanyakan bukan asli Indonesia. Contohnya ikan mas dan gurame yang dari Cina, ikan mujair dari Afrika, lele dan sepat dari Thailand. Jadi, kita tidak memakan ikan yang banyak di sungai kita seperti ikan tapa, dan macam-macam.

Dari segi obat-obatan juga, kita punya hampir 50 ribu jenis tumbuhan, yang istilahnya 'tumbuhan tinggi'. Namun, sayangnya kita belum kembangkan ini. Bayangkan, Cina, negara itu mampu membuat produk herbal menjadi obat. Padahal, kita juga bisa, mengingat sejak dulu, nenek moyang kita sudah melakukan hal tersebut.

Jadi, bisa dibayangkan, kalau bioteknologi bisa berkembang dengan sangat cepat maka obat-obatan yang berasal dari Indonesia, juga berkembang dengan cepat. Namun, mesti diakui, sekarang belum bisa dilakukan karena riset masih sangat lemah. Karenanya, saya melakukan riset-riset ini.

Berarti penelitian ini lebih mengarah pada menggali sumber daya alam?

Betul. Kita menggali sumber daya alam kita. Kita tidak cukup hanya sekadar tahu. Bisa dibayangkan, kalau di kampung, kita makan nasi kuning. Dari mana itu (warna kuningnya--Red)? kunyit kan. Atau, misal, nasi hijau dari mana? Pandan atau bayam. Nah, ini menunjukkan banyak sekali zat warna yang berasal dari alam. Di hutan kita itu, berbagai macam warna, bisa kita jadikan komoditas. Ia bisa dijadikan cat, dijadikan macam-macam untuk industri.

Sayangnya, riset yang dilakukan orang asing itu banyak di Indonesia. Mengapa? Karena mereka lihat potensi di sini sangat besar. Seperti obat untuk kanker, leukimia, sumbernya itu ada di hutan kita.

Seberapa perlu penelitian untuk konservasi?

Kita perlu penelitian untuk tujuan konservasi, karena kebanyakan sekarang hutan itu dibabat saja. Padahal, ketika sumber daya alam ini hilang, potensi itu tidak bisa tergantikan. Contohnya, kasus di Madagaskar. Di sana, ada tumbuhan yang ternyata mengandung obat untuk kanker anak. Nah obat ini, diketahui dan diambil oleh perusahaan Amerika dan dijadikan komoditas, lalu dipatenkan AS. Begitu ini dipatenkan, Madagaskar tidak bisa melakukan ini. Padahal, dia yang punya, jadinya sekarang dia tidak bisa memanfaatkan bahkan menggunakan teknologinya.

Padahal, bisnis ini jika bisa dimanfaatkan Madagaskar, keuntungannya bisa mencapai 50 juta dolar AS. Saat ini Madagaskar tidak mendapat apa-apa. Ini juga yang kita usahakan. Jangan sampai yang punya kita nantinya dipatenkan asing.

Di Kalimantan, saya menemukan ada budaya perempuan di sana memakai bedak. Padahal, itu bukan bedak. Itu dari tanaman yang daun-daunnya mereka tumbuk dan  ternyata memiliki efek menghindari panas. Sayangnya, ternyata ini sudah dilakukan para peneliti di Jepang, dan sudah dijual sebagai komoditas di negara itu.

Penelitian lain apakah juga terkait dengan kerusakan lingkungan?

Ya. Misalnya kita melakukan penelitian tentang perubahan iklim. Contohnya, demam berdarah, karena perubahan iklim, penyakit ini meningkat dengan cepat. Malaria, misalnya, ini juga bisa  ditemukan di kota. Karena suhu bumi mulai naik, nyamuk-nyamuk ini juga mulai ke kota.

Curah hujan anomali, misalnya. Anda tahu, hal ini telah membuat petani sulit. Mereka tidak bisa memprediksi lagi bagaimana mereka bisa bersawah, karena sawah sangat tergantung air. Yah, kalau karena perubahan cuaca air tidak ada, ya tidak bisa juga. Karenanya, sekarang kita juga memiliki semacam tim research station untuk membantu petani, bagaimana petani bisa mengelola perubahan iklim ini. Kita juga miliki hal sejenis, untuk melihat perubahan dari hutan, baik hutan jadi kering atau basah.

Biodata
Nama lengkap             : Jatna Supriatna
Lahir                                : Bali, 7 September 1951
Riwayat Pendidikan : Program sarjana biologi di Universitas Nasional di Jakarta Master serta  Doktor dari University of  New Mexico (Amerika Serikat).
Karier                              : - Vice President Conservation International (Indonesia)
                                             - Pengajar di Jurusan Biologi serta Pascasarjana Biologi, Universitas  Indonesia

 


Posisi peneliti sangat penting untuk mengelola hutan, tapi mengapa peneliti lokal masih minim?

Karena pemerintah tidak memberi insentif untuk penelitian semacam ini. Penggalian sumber daya alam yang memungkinkan tidak menjadi hal utama dalam pembangunan. Coba bayangkan, kita baru saja menemukan sembilan jenis ikan baru di Bali. Tapi, yang menemukan orang asing. Padahal, kalau kita lihat, di sungai Kalimantan yang begitu besar, Sumatra, ini kan jadi potensi sumber daya perikanan yang bisa dibudidayakan.

Kedua,  terkait sarana dan prasarana. Ini menjadi utama kalau kita mengembangkan, misalnya, bioteknologi. Kalau kita mau kembangkan komoditas memang harus ada teknologi yang kita pakai. Teknologi ini sebenarnya sangat gampang. Cuma kita tidak punya dana untuk itu. Padahal, India saja, yang sama-sama miskin malah memberi dana untuk riset yang besar.

Kalau dibandingkan dengan asing, peneliti kita memang masih sedikit. Yah kalau dipikir, siapa berani invest untuk ini? Kalau di negara Barat, mereka memang tidak punya resources, bahkan mereka bergantung pada negara yang memiliki resources, seperti Indonesia dan Brasil. Karena itulah mereka lakukan ini.Sebenarnya mereka bisa kerja sama dengan universitas. Namun, kenyataannya tidak, justru mereka sebagai turis lalu tiba-tiba melakukan riset.

Nah, baru-baru ini juga ada penelitian yang mengatakan ternyata di Sulawesi, semut itu bisa menjadi pestisida yang baik. Ada zat kimia di dalamnya. Nah, ikan misalnya, di Sulawesi ternyata bisa jadi obat antibiotik. Ini juga dilakukan peneliti dari Amerika.Tapi, sebenarnya kita juga tidak perlu menunggu apa-apa. Kita juga harus lebih proaktif bahwa penelitian ini harusnya, dikerjasamakan dengan asing. Karena, penelitian itu tidak mudah, selain dana yang besar, ia juga butuh waktu. Mahal sekali. Jadi, kita juga sebaiknya tidak tiba-tiba menutup ini. Jadi, kita kerja sama, ini bisa dikembangkan untuk industri juga bersama. Kalau begini kan paten menjadi dibagi dua.

Pelajari Juga: Dua Puluh Tahun Seribu Spesies Baru

Bagaimana kondisi hutan Indonesia. Kerusakan terparah ada di mana?

Kalau melihat sejarahnya, kerusakan hutan itu bermula sejak adanya transmigrasi. Kita mentrasmigrasikan orang dari Jawa ke sejumlah pulau. Ini sejak zaman Belanda. Dibuatlah perkebunan, hutan-hutan dikonversi. Tapi, pada saat itu sebenarnya hutan masih baik-baik saja.

Namun, seiring pertumbuhan orang yang semakin banyak, kemudian kita pada waktu zaman Soeharto, kita memerlukan dana cash untuk pembangunan. Nah yang paling cepat adalah hutan karena tidak perlu ada dana yang diperlukan untuk modal. Namun, yang paling menghancurkan sesungguhnya kelapa sawit.

Ini memang harus menata kembali hutan. Hutan itu memang bisa direstorasi, tapi tidak seperti sekarang. Kalau dilakukan sekarang berat karena hutan sudah dikonversi menjadi hutan sawit. (Berat) karena kelapa sawit butuh air sangat besar dan kalau kita buat sawit hutannya pasti dibabat habis terlebih dahulu.

Kalau kerusakan hutan yang parah, tentu saja ada di Jawa. Kini hutan kita tinggal empat persen lagi. Di Sumatra tinggal 29 persen, Kalimantan tinggal 40 persen. Yang paling banyak hutan memang Papua, masih 70 persen. Namun, Sulawesi juga tergolong parah. Karena hutannya bisa dibilang hampir habis. ***